Showing posts with label Campur Sari. Show all posts
Showing posts with label Campur Sari. Show all posts

Thursday, August 23, 2012

Doa = Proposal


Supir taxi itu meminta waktu sebentar sewaktu akan membawa saya dari hotel Dusit Thani, di Pattaya ke airport di Bangkok.  Saya agak tercengang, minta waktu untuk apa? Dengan bahasa Inggris patah patah, dia bilang ingin berdoa dulu, supaya perjalanan selamat, dan rejekinya berkah.  Mesin mobil mati, saya lihat dia menangkupkan tangan, dan mulai melafalkan doa. Wow! 

Pembaca yang baik hati,
Seberapa serius/fokus kah kita manakala berdoa?  Mungkin Cuma ketika di tempat ibadah, atau setelah beribadah dan ketika kita menghadapi krisis.  Selebihnya?  Bagaimanakah kita berdoa?  Sekedarnya? Sambil lalu saja? (hmm, pasti ada yang protes ‘kita?’, ah kamu aja ‘kali…)


Pak Supir taxi Thailand itu memberikan tamparan virtualnya buat saya berdoa apa adanya, mengucap dengan nama Allah, kadang sambil lalu saja.  Sudah kebiasaan.  Sudah menjadi mekanik, tak berjiwa seperti robot saja.    Sepertinya tidak bersungguh sungguh.

Menurut saya, doa itu sifatnya hampir mirip proposal.  Bisa secara tertulis bisa juga non-verbal ketika mengajukannya.  Proposal seperti apa yang biasanya berhasil diterima?  Proposal dengan kesungguhan bukan ogah-ogahan ketika memintanya, proposal yang melibatkan usaha dari kedua pihak, peminta dan pihak yang bersetuju supaya bisa terwujud. 

Nah,  kalau proposal yang sungguh sungguh aja  belum tentu diterima, masa’ sih mengharap doa yang seadanya tanpa usaha diterima begitu aja?  Kita ini memang selfish ya!  ***
 
 
 

 

Saturday, August 18, 2012

Refleksi Ramadhan - Setan diikat?

Di salah satu status fb seorang teman, dia bertanya, katanya bulan ramadhan setan setan di ikat, tapi kenapa kejahatan malah meningkat?  Nah apa jawaban Anda?


Menurut saya, manusia itu bisa lebih setan dari sebenar benarnya setan, dan bisa lebih hewani dari para hewan.  Bisa jadi, ketika setan setan di-ikat, para manusia yang punya bawaan setani merasa tidak tersaingi, dan jadilah dia manusia setan tak tertandingi. 


Tapi apa ya yang membuat mereka  terasuki dan menjadi setan?  Secara sosial, bisa jadi kita juga penyebabnya.  Kita yang mengkondisikan keadaan, membuat mereka menyerah secara agresif terhadap keadaan dengan melakukan kejahatan.  Iklan konsumtif semakin mewabah di bulan puasa.  Dari sandang, pangan, dan lifestyle seperti gadget dan kendaraan.  Pertunjukan kemewahan di layar TV dan berbagai media bertambah parah.  Dan celakanya, kita juga menghormati berlebihan orang orang yang berpangkat tinggi, kaya, wangi, dan wah! 


Masyarakat di kampong berharap anak anak dan keluarga rantauannya pulang membawa berkah mewah untuk dipamerkan dan dibanggakan.  Budaya malu sudah salah tempat, sekarang konsep malu menjadi orang tak jujur sudah pantas masuk museum.  Yang ada, malu dong, lebaran kok bajunya biasa aja (apa kata orang?).  Malu dong, pulang kampong enggak bawa apa apa.  Malu dong kalo ada tamu rumahnya jelek.  Malu dong kalo makanan yang di suguhi sama persis dengan tetangga lainnya…


Saya melihat dan merasakan, yang meningkat di bulan ramadhan di kampong saya  kok bukan ibadah ya, tapi makan enaknya, pemborosan pengeluarannya, parcel parcelnya,  amplop lebarannya, pamernya, petasannya, oh sedihnya!


Apa kiranya upaya kita supaya ramadhan bukan lagi seperti lingkaran setan, mengulang kisah yang sama, setia setiap saat (mirip iklan deodorant), terjebak di ritual dan shows saja?  Saya Cuma bisa berusaha dari diri dulu saja, sembari berdoa semoga tahun berikutnya segalanya lebih berkah.  Siapa tahu ada yang seirama dengan pikiran saya? Yuk berubah!


Selamat Idul Fitri .  Semoga kita punya tekad untuk berubah lebih baik dan berbuat yang terbaik! ***

Monday, August 13, 2012

Ramadhan, Bulan Jor-Joran?

Selamat datang Ramadhan yang indah, kata banyak orang. Buat saya, setiap Ramadhan selalu menyisakan perasaan galau yang mungkin tidak semestinya. Saya gundah melihat banyak dari kita memaknai Ramadhan seperti layaknya bulan pesta, bulan jor-joran. Lihat saja:

- Semakin banyak biaya belanja dan jumlah daftar belanjaan rumah, belum yang untuk hantaran ke tetangga dan kerabat.

- Waktu buka dan sahur digunakan untuk makan segala rupa sepuasnya, sampai kenyang sekenyangnya, seperti besok mau mati saja.

- Penjual petasan terlihat dimana mana, dan bunyi petasan dan kembang api hampir setiap malam terdengar di setiap sudut kampong.

- pengeras suara di masjid yang jumlahnya ribuan di Jakarta ini berlomba berkeras kerasan setiap saat, siang, malam, sore, dinihari, subuh, memperdengarkan lantunan pengumuman ‘bangun!, sahur!’, dan nyanyian rohani. Semakin ramai. Volume suara sound system ditambah. Belum lagi kelompok orang yang berkeliling dengan tetabuhan dimulai dari jam 2 malam. Karenanya, tantangan yang berat sekali menjadi khidmat, syahdu dan khusuk di bulan ramadhan. Rasanya tradisi pengeras suara ini paling popular di Indonesia saja. Di banyak Negara muslim dan Negara Arab, bunyi azan dan alunan ayat suci dari masjid santun sekali, tidak terlalu keras, dan syahdu enak di kuping, membuat bulu kuduk merinding, dan hati tersentuh kerinduan akan Tuhan. Mungkin di pedesaan pengalaman indah suara khidmat dari masjid masih bisa di dapat.

- Tempat belanja dan mall-mall semakin meriah, makin penuh pengunjung berbelanja, apalagi ada Lebaran sale. (Ahem, jangan kuatir, kan ada tunjangan hari raya)

- Masjid biasanya penuh di awal awal minggu Ramadhan, ibu ibu sibuk mempamerkan mukena dan sajadah baru nya, atau bahkan berniaga antar mereka di sela sela tarawihnya. Anak anak senang dengan keramaiannya.

- “Enaknya makan apa nanti malem ya?” menjadi tema sentral, dan restoran restoran kewalahan dengan padatnya acara pesta buka puasa dan makan malam

- Program siaran TV tambah heboh, dari subuh sampai subuh lagi. Iklan semakin menawan. Sinetron yang katanya rohani dijejali dengan karakter gaya hidup mewah, dengki, benci. Para artist dan actor mengganti dengan pakaian muslim yang kinclong, jreng dan bersinar sinar, membuat banyak para penonton di pelosok sana bermimpi bisa jadi artis dan actor.

- Yang akan pulang kampong, sedang bersiap siap menumpuk oleh oleh untuk dibawa pulang, baju lebaran dan kendaraan apa yang bisa dipamerkan. Banyak yang sudah mulai kredit motor sebulan sebelumnya, supaya bisa dibawa pulang kampong. Setelah lebaran bisa dikembalikan ke dealernya. Rental mobil juga laris manis.

- Pembuatan kue lebaran sudah mulai di rancang, amplop amplop berisi uang untuk anak kecil, keluarga dan handai taulan sudah mulai disisihkan. Malu dan gengsi alasan yang pasti.

- Saat nya juga memikirkan baju dan asesoris baru apa untuk diri dan keluarga. Malu dong kalau tidak kelihatan keren.

Disela sela hiruk pikuk itu, ibadah ramadhan yang sebenarnya berjalan dengan sunyi, dan mungkin seadanya, karena energy kita sudah habis sehabis habisnya untuk persiapan 'pesta' buka puasa, dan lebaran. Ibadah ramadhan menjadi sekedarnya, yang penting puasa. Duh sedihnya….

(Saya berharap, yang saya lihat, amati dan rasakan cuma semu dan subjective, adanya di kampong saya aja. Maafkan bila tidak berkenan. Selamat menikmati Ramadhan, semoga berkah)


Tulisan ini saya pasang di mynote face book saya awal bulan ramadhan kemarin. Dan hari ini, ketika ramadhan hampir berakhir saya baru baca tulisan Ali Mustafa Yaqub, imam besar masjid Istiqlal di Kompas online tentang bergesernya perilaku Ramadhan.  Rasanya baru ini lah saya lihat tulisan di media yang bicara berbeda (self-critics) mengenai ramadhan http://nasional.kompas.com/read/2012/08/13/11545754/Bergesernya.Perilaku.Ramadhan.... Syukurlah ada orang besar yang share the same concerns.  Kayaknya gerakan hidup sederhana mesti dihidupkan kembali ya.

Monday, January 23, 2012

Unexpected

When I lived in Indonesia, I went to Bandung for recreation. In one of the red light, a little kid offered me to buy a newspaper. I can’t read local language, but I felt for the kid who with big smile and enthusiasm tried to persuade me to buy the paper. I thought I would reward him with a little money for his effort.

So I said in broken bahasa, "Look I don’t read bahasa newspaper, but I would like to thank you for your big smile and enthusiasm."  I then handed him eight thousand rupiah which is about 80 cent dollar, 3 times of the price of a newspaper. The little boy thanked me and run to his group of friends, street sellers who were sitting around in a short distance, there were 7 of them all together. I could see how excited he was when he shared the money and the story of his encountered with me.

He pointed to my car from the short distance of where he was. All his friends waved to me as if to thank me. Soon after I saw a little girl from the group ran towards my car. Suddenly I thought with a displeasure and disappointment. “Here we go, you give to one, the other will ask for the same or more”. The thought of that made me disappointed and killed the joy of giving I had a moment ago. So I was ready to say no to the girl, not because I don’t’ have the money, but simply because I don’t want to tolerate such behavior. Begging for more, ungrateful… so I thought.

To my surprise and confusion, the girl handed me out with her little hands a thousand rupiah note (10 cents), and said: "Uncle, there are only 7 of us, you gave us 8 thousand, and we have received your generosity, and here is the remaining of the money. It’s yours".

I felt my face redden and hot, from the shame of thinking bad and misjudging the little girl. I was so embarrassed and proud of the little girl at the same time. My heart filled with more joy and so touched with the scene in front of me. I reached my wallet and gave another dollar for her to share to her friends. She went away after thanking me many times: “thank you uncle, thank you, thank you…”

I should be the one who thank her for the great lesson and experience I had from her and her friends. ***

(the story above was written based on a humbling experience from a friend of mine, an expat who lived in Jakarta for a few years)

Tuesday, November 02, 2010

Surat Poligami

(ini surat lawas yang saya tulis ketika AA Gym menikah lagi. Mungkin surat ini sudah basi, tapi polemic mengenai poligami masih selalu hot buat di perbincangkan di Indonesia raya tercinta ini, yang notabene penduduknya yang lelaki kebanyakan muslim, baik yang ktp atau yang beneran. Isi surat ini membawa semangat poligami boleh saja asalkan meniru jejak sejati nabi Muhammad. Kayak apa tuh? Nah baca aja surat dibawah ini…)

Aa Gym yang beruntung dan di rahmati Allah,
Betapa beruntungnya Aa, mempunyai istri dua orang yang cantik-cantik dan shalehah, mempunyai tujuh anak normal yang sedang tumbuh, cerdas, dan kasep-kasep. Bahkan sekarang tambah anak lagi secara instan. Pasti anak-anak Aa senang mendapat kakak dan adik tambahan. Aa juga punya juta’an jama’ah lelaki dan perempuan yang memuja dan mengidolakan Aa. Aa punya rejeki yang terus mengalir melalui bisnis halal yang berkembang pesat. Aa menjadi orang terkenal di seluruh jagat nusantara. Subhanallah, alangkah besar ni’mat dan kasih sayang Allah pada Aa.

Wah apalagi sekarang ini, Aa tambah ngetop. Tidak ada seharipun tanpa nama Aa di media radio, tv, koran, majalah, sms, milist, website, obrolan santai, bahkan disela sela percakapan dan pertengkaran suami istri. Dan apalagi di benak lelaki-lelaki yang mengidolakan Aa. Lelaki-lelaki yang kaya raya maupun lelaki yang penghasilannya cuma pas-pasan untuk merokok.

Saya mengirim surat terbuka ini melalui milis dengan harapan semoga tiba di tangan Aa dengan selamat. Pertama-tama ucapan yang paling pantas adalah selamat menempuh hidup baru bersama istri kedua. Dan yang kedua atas nama orang banyak, saya berterima kasih melihat dan membayangkan kebaikan dan keuntungan dari teladan Aa menikah lagi. Aa memang jempolan dalam ber bisnis, dan baik hati juga bisa mendongkrak penghasilan dan keuntungan banyak pihak, hanya dengan menikah lagi. Lihatlah:

- TV, radio, infotainment, sms, website, koran, mendapatkan keuntungan tambahan dengan peminat cukup tinggi terhadap berita tentang Aa

- Para penulis mendapat rejeki honor tulisan mereka mengenai Aa, dan mengenai poligami dalam Islam. Bahkan Jakarta Post pun yang pelanggannya kebanyakan orang bisnis dan orang asing menurunkan satu editorial tentang Aa dan poligami.

- Salon salon dan toko kecantikan yang kebanjiran ibu ibu yang berusaha meng-upgrade wajah dan tubuh agar suami nya tetap tertarik pada mereka

- Para lelaki mendapatkan satu alasan valid baru untuk meyakinkan para istri mereka tentang pentingnya untuk sang istri mempunyai seorang rival di rumah tangga.

- Rumah sakit terutama para psikolog dan psikiater, dan penasihat perkawinan mendapat rejeki tambahan dari para perempuan yang stress masalah ini.

Tetapi sayangnya Aa, ada juga yang merasa tidak beruntung dengan keputusan Aa menikah lagi:

- Ibu-ibu pengagum Aa kebanyakan stress dan menangis Bombay karena kecewa pada Aa.

- Para gadis patah hati karena mereka tidak terpilih sebagai istri kedua Aa. Sembari mereka harap-harap cemas, kapan ya, Aa memilih istri berikutnya.
- Para perempuan secara umum dilanda rasa cemas yang berkepanjangan karena takut suaminya akan kawin lagi. Meskipun tidak semua suami suka nyelonong.

Ibu saya saja sekarang ini sudah mulai was-was. Dia jadi sering bertengkar dengan Ayah saya karena khawatir Ayah saya akan kawin lagi. Padahal keduanya sudah berusia 65-an tahun. Lagipula, siapa yang mau lagi dengan Ayah saya, sudah tua dan bukan orang kaya.

Adik saya yang gendut karena sudah melahirkan 6 orang anak, mulai gelisah. Dia mendadak ikut akupuntur kecantikan, dan membeli alat olahraga penyusut perut. Dia khawatir suaminya melirik perempuan lain.

Dan tetangga kerja saya di kantor yang orang lelaki muslim Amerika, dia juga bingung istrinya jadi was-was. Saya mencuri dengar dia (karena kantornya persis disebelah saya) bertelpon dengan speaker dengan istrinya yang nampaknya adalah orang Indonesia, tinggal di Houston sana. Istrinya yang was-was menginterogasi sang suami. “bener, kamu enggak kemana-mana?” (diulangi beberapa kali) Bener! Kata si suami. “Syukur alhamdulillah…inget lho, kamu ada keluarga, istri dan anak-anakmu yang menunggu dengan setia disini… “ kata sang istri.

- Teman-teman saya jadi lebih senang debat kusir mengenai Aa daripada mendengarkan ceramah saya di jam makan siang tentang seks dan trik di ranjang untuk menyenangkan diri dan suami. Padahal menurut saya, topik ini lebih menarik lho Aa, dari pada bergunjing soal Aa, benar tidak?

Kalau saya sih, peduli amat. Aa bukan saudara, bukan kakak, bukan ayah, bukan siapa-siapa saya. Biar saja Aa mau apa itu hak Aa sendiri, betul begitu?

Cuma saya heran kenapa sih hanya gara-gara seorang Aa, terjadi gelombang rasa tak percaya pada suami, pacar dan lelaki. Kata mereka, “kalau lelaki sekalem, seagung Aa bisa membagi hati, bagaimana dengan suami saya?”

Beruntunglah saya bukan pengagum Aa dan tak pernah mengidolakan Aa, jadi saya tak sakit hati seperti ibu-ibu lain. Lelaki yang saya kagumi dan idolakan adalah Muhammad Rasulullah, yang dalam kehidupannya, membatasi poligami sampai empat saja, di jaman dimana beristri tak terbatas sudah menjadi budaya.  Muhammad yang menikahi janda Khadijah yang lebih tua usia (40 tahun) sementara Muhammad sendiri masih perjaka ting-ting 25 tahun.  Muhammad yang setia monogami sampai wafatnya Khadijah setelah 28 tahun pernikahan bahagia, meski Khadijah tidak memberikan seorang putra pun.

Saya mengidolakan rasul Muhammad yang menduda setahun baru menikah lagi, itupun dengan seorang nenek bernama Saudah bint Zam’ah berusia 65 tahun (bahkan menurut sebagian sumber, usia 72 tahun). Muhammad menikahi nenek tersebut untuk melindungi sang nenek dari keluarganya yang memusuhi karena berislamnya. Muhammad yang menikahi perempuan dan janda terlantar untuk melindungi kehormatan mereka. Untuk jadi catatan, menjadi janda pada masa itu sangat berat. Bahkan pada masa sekarang saja menjadi janda bukan perkara gampang, dan banyak perempuan memilih hidup menderita asalkan bersuami.

Saya mengagungkan Muhammad yang tidak setuju dan marah waktu mengetahui anaknya Fatimah az Zahra akan dimadu. Beliau bahkan menyatakan nya secara terbuka dalam pidatonya. Sampai tiga kali disebutkan: “Aku tak ijinkan!” “Menantuku boleh kawin lagi asal putriku diceraikan...!” Kalau Ali bin Abi Thalib yang adalah menantu Muhammad, orang terdekatnya, salah satu orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad, tidak diijinkan, apa artinya? Silakan A’a tebak sendiri. A’a pasti lebih jago dari saya.

Aa yang sedang berbahagia,
Agak susah bicara mengacu qur’an di surat saya ini, karena pasti akan jadi debat kusir, mengingat penafsiran yang berbeda-beda. Aa orang yang pintar agama dan pandai berlogika, jadi bisa saja saya mati langkah dalam mengemukakan keberatan saya akan poligami. Almarhum cendekia dan ulama besar Buya Hamka saja sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya mengenai poligami. Beliau hanya bisa bilang bahwa dia tidak menganut poligami karena pedih luka yang masih diingatnya ketika sang Ayah berpoligami.

Muhammad Abduh saja, seorang sosiolog, cendekia Mesir yang terhormat dianggap seorang liberal karena penafsirannya terhadap bunyi surat Annisa mengenai poligami itu sebenarnya adalah anti poligami. Siapa pula saya, seorang perempuan biasa yang menolak poligami, tentu tak perlu digubris oleh A'a.  Pasti lebih banyak ahli tafsir yang notabene lelaki berada di sisi yang sama dengan Aa, pro poligami. Selain sebagai perempuan, yang bisa jadi dianggap pendapatnya biasa, ilmu saya baru sedalam ember, Aa. Bahkan embernya pun sering bocor...

Saya cuma mau minta tolong sama Aa. Bilang, Aa, bilang pada lelaki-lelaki yang hendak menuruti jejak Aa seenaknya, bilang begini:

“Hallauw... Bapak-Bapak yang dirahmati Allah. Kalau mau berpoligami turutilah jejak Muhammad Rasulullah, jangan jejak saya. Saya kan manusia biasa... apalagi kalau Bapak belum sampai ilmunya, dan belum mengerti bagaimana... untuk amannya, ikuti jejak poligami mulia Muhammad secara utuh, yaitu:

1. Menikahlah dahulu selama 28 tahun dengan istri pertama, atau tunggu sampai istri sudah meninggal, barulah cari istri kedua...pastikan istri lebih tua paling tidak,15 tahun, seperti sewaktu Muhammad berusia 25 menikah dengan Khadijah yang berusia 40.

2. Mendudalah dulu selama setahun, seperti halnya Muhammad menduda dan berkabung selama setahun untuk Khadijah.

3. Istri kedua haruslah janda berusia 65 atau lebih tahun dengan kondisi yang sama seperti Saudah, dengan keluarga berbeda iman, dan suami yang gugur di medan perang.

4. Setelah itu silakan mencari istri ke tiga dan ke empat dengan kriteria persis seperti istri-istri Muhammad.

5. Dan bersikap adillah sebagaimana halnya Muhammad.

Gimana, Bapak Bapak, bisa?

Kalau hal itu tidak terpenuhi, jangan mengira poligami kalian itu adalah mengikuti jejak Rasul Muhammad. Nanti beliau menangis dari atas sana karena banyak lelaki yang menjual nama Nya dan ayat suci Allah untuk menjustifikasi keinginan yang semata-mata pribadi sifatnya. Kalo memang tak tahan mau poligami juga, tolong jangan bawa-bawa nama agama dan Muhammad sebagai pembenaran ya Bapak-Bapak... Bilang saja, saya kebelet, ngebet, pengen punya istri baru ...”

Saya jamin Aa,
Para lelaki pengagum dan jama’ah Aa pasti akan berpikir seratus kali untuk ber poligami mengikuti jejak junjungan kita Muhammadullah Muhammad SAW. Paling-paling mereka akan berpoligami mengikuti jejak Aa. Atau mengikuti hawa napsu saja...

Yang terakhir Aa,
Para perempuan yang secara tidak langsung mengalami kerugian psikologis dan tekanan batin maupun kerugian materi untuk membeli alat kecantikan, sa’at ini tak tahu harus mengadu kemana. Bisakah A’a membantu jalan keluar? Mungkin memberikan ceramah tentang rasa percaya diri?
Saya tunggu jawaban Aa. Tapi jangan lamar saya ya Aa, saya janda beranak satu, dan tidak muda lagi..
***

Wednesday, June 16, 2010

Pemburu Cinta (jilid 2)

Ini seri kedua dari serangkaian kisah sang pemburu cinta. Kalau mau dirunut, seharusnya kisah ini menjadi kisah awal di masa lalu dari seri perburuan saya mencari cinta.
Seperti layaknya sebuah proyek, sebelum dimulai dengan yang sungguhannya, seringkali dibuat mock-up nya. Begitulah strategi pertama yang terpikir sebelum saya berani menerjunkan diri di hutan belantara maya dalam rangka memburu cinta. Latihan kecil kecilan sebagai pemanasan pasti diperlukan. Tapi apa ya? Malu dong, bilang bilang teman sekelas, bisa turun gengsi. Apalagi rasa percaya diri ini sedang turun turunnya seperti nilai rupiah terhadap mata uang asing. Tapi saya orang yang tak mau menyerah pada keadaan…yang penting bisa mendapatkan cara berburu cinta dengan murah meriah manjur! Seperti dalil ekonomi yang saya pelajari di SMP, dengan usaha yang sekecil kecilnya mendapatkan hasil yang sebesar besarnya. Wah mengingat hukum ekonomi ini membuat saya bersemangat berat!

Saya mulai dengan mengamati. Teman teman sekelas saya, hm! Tak minat! Bukan mereka tak menarik, tapi saya punya rule of thumb sedari dulu, jangan jadi pagar makan tanaman. Tidak pernah pacaran dengan teman sekelas, teman sekantor, teman sepermainan. Bisa bisa bermasalah, dan ketula! Tapi paling tidak, saya bisa memanfaatkan ibu kost, seorang nenek 70-tahunan yang tomboy, energetic, dan mendunia, dia tahu banyak hal. Siapa tahu dia punya informasi. Tentu saja, tidak dengan gamblang bilang saya sedang berminat mencinta dan dicinta, dengan catatan jangan dengan mahasiswa.

Suatu kali dia menyebutkan sebuah grup dansa gratisan, Irish dancing club, yang biasanya latihan di sebuah community club, 15 menit berkendara kea rah gunung dari tempat kos saya. Seketika saya terbayang adegan dansa romantis dan keren di film Shakespeare in Love. Menurut Roy –nama bu kost saya itu- dalam satu tarikan dansa, kita akan berganti ganti pasangan. Wah, boleh juga nih. Inilah hutan potensial untuk tempat berburu. Siapa tahu dapat macan, hrroaarr!!! Cihuy! pikiran jorokku sudah berdansa dengan cowok cowok Irish berbadan kekar, tapi romantis. Dan siapa tahu salah satu dari mereka berminat mencintai cewek manis mungil yang setia, lucu dan penuh nafsu (terjemahan ngasal dari passionate)

Dengan usaha yang halus, saya berhasil membujuk Roy, sang ibu kos, untuk mengantar ke community centre tempat Irish dancing class beraksi. Dengan penuh semangat saya memasuki hall tempat dansa. Banyak sudah yang datang, mereka ramah-ramah. Sampai dansa dimulai, saya cuma menemui ibu-ibu setengah baya ke atas, dengan beberapa orang bapak bapak gaek, yang mungkin sudah tak nafsu pergi ke bar dengan konco-konconya. Yaaa, kecewa! Pelajaran pertama, cari informasi dari sumber yang tepat! Informasi Roy mungkin lebih tepat untuk nenek-nenek yang kesepian dan mencari kegiatan. Bodoh juga sih saya nya…

AKhirnya saya mencoba peruntungan di tempat lain. Kali ini dengan menelusuri iklan-iklan pencari cinta di koran komunitas lokal gratisan, Georgia Straight. Cara bekerjanya mirip mirip iklan jodoh di Kompas, dimana sang pencari menjual profilenya, dan memaparkan pasangan seperti apa yang dicari. Wah kebanyakan pria mencari pria, atau wanita mencari wanita. Tak terlalu banyak iklan pria mencari wanita. Apalagi mencari yang spesifik, yang hitam manis, mungil, lucu dan setia seperti saya. Kebanyakan kualitas saya, tidak gampang dilihat dengan kasat mata (hehe ge-er dikit). Jadi agak susah juga berharap macam macam. Kebanyakan iklan itu mencari perempuan tinggi, pirang, sensual, dan banyak ketentuan fisik lainnya. Huh! Perempuan dengan deskripsi seperti itu, mana mungkin juga mencari cinta ala Georgia Straight? Berdiri saja di depan stasiun kereta, sudah pasti akan banyak lelaki yang tergila-gila melihatnya.

Singkat cerita, akhirnya ada juga sasaran yang nampaknya cocok. Dia adalah seorang lelaki kaukasia sederhana –down to earth, katanya- suka bersepeda, suka buku, dan cukup melek budaya non-western. Dia sebutkan pula statistic tubuhnya, dengan tinggi sekian inchi, dan berat sekian pound. Saya tak ngerti persis ukuran seperti ini. Semuanya ada di satu kolom kecil dua paragraph saja, disertai nomer hotline. Cara bekerja hotline ini susah susah gampang. Para pencari cinta yang memasang iklan, membayar paket space di surat kabar, sekaligus mendapatkan sebuah kotak suara, dimana dia akan meninggalkan suaranya, untuk para peminat mengakses melalui nomer keanggotaannya. Sebagai peminat, saya akan bisa mengakses suaranya, dan meninggalkan pesan suara juga. Pesan suara dari peminat ini Cuma bisa diakses oleh sang pemasang cinta saja.

Tapi di tahap seperti ini, saya tak mau terlalu banyak cingcong dan rewel. Kita lihat saja lagi. Meskipun saya tak pernah berjudi di Las Vegas, ataupun di Macao, tapi dalam hidup, saya suka berjudi dengan nasib saya. Inilah salah satunya. Setelah timbang menimbang, akhirnya, saya hubungi nomer hotline pencari cinta itu. Setelah tekan sana tekan sini, saya mendengar suara…

Suaranya cukup merdu bak buluh perindu. Seru juga membayangkan seperti apa orangnya cuma berdasarkan suaranya. Karena proyek berburu ini merupakan uji coba tentu saya mesti berhati hati. Kalau untung, ini bisa jadi sungguhan, tapi mana tau. Salah satu bentuk kehati-hatian saya adalah dengan tidak memberikan nomer telpon, atau alamat tempat tinggal saya. Saya set sebuah email address dengan nama palsu, just in case diperlukan. Jadi, untuk berkontak-kontak, akan terserah pada saya untuk memulai, atau mengakhiri. Lho, namanya juga berburu, iya gak? Jadi kontak telpon-telponan kami biasanya dimulai oleh saya yang menelpon ke nomer cowok itu. Seperti layaknya masa penjajakan, urusan ngobrol di telpon selalu ngalor ngidul sembari mencari benang merahnya, seperti apa ya, cowok ini, dari ceritanya dan response nya terhadap saya.

Tidak sampai 2 minggu, dia mengajak kopi darat. Saya gembira, sekaligus kecut. Bagaimana kalau dia ternyata kecewa, tampang saya tak seindah suara saya? Tapi peduli amat, namanya juga uji coba. Dapat, untung, tak dapat, buntung (buat sementara). Daripada penasaran. Kami memutuskan untuk betemu di depan bioskop di daerah Granville jam 7-an malam, kebetulan hari itu saya berniat menonton filem indie dokumenter tree hugger (Butterfly). Filem mulai jam 8 malam, masih ada waktu ketemu cowok itu, kalau mujur, dia bisa saya ajak nonton juga, daripada nonton sendirian.

Jam 7 kurang, saya sudah mejeng di pinggir jalan di Granville, kali ini saya tak repot repot bersiap siap, kalau dia terima saya syukur, kalau tidak ya keterlaluan... Waktu itu musim dingin, jadi saya cuma berjumper ungu, tidak berpakaian provokatif. Saya bilang, “kamu lihat saja kalo ada liliput berjumper ungu, itulah saya…”, sementara dia sendiri, katanya akan datang dengan sepeda, dan berjaket kuning. Saya berharap, pada saat saya datang ke tempat bertemu, dia sudah berdiri disana dengan gagahnya bersama sepeda kesayangannya. Sudah terbayang, cowok ini pasti the hero of environment, bersepeda kemana-mana, berotot dan sehat, karena menggenjot terus setiap hari. Di daerah ini, kontur nya beragam, sudah pasti harus kuat dan sehat untuk bisa genjot sepeda naik turun jalanan.

Sayangnya, sayalah yang harus menunggu. Sialan! Saya sudah mengikuti jam western, eh, dia yang mengikuti jam karet! Tunggu punya tunggu, kepala saya sudah puyeng tengok kanan kiri, mata jelalatan mencari cowok bersepeda berbaju kuning. Banyak sih, cowok cowok ganteng bersepeda, tapi jaket kuning? Haduh, cowok macam apa yang memilih berjaket kuning on a date? Emangnya mahasiswa UI yang lagi demo? Atau petugas pembetul jalanan yang harus mencolok supaya tidak ditabrak mobil? Ah saya jadi sangsi. Tapi jangan panggil saya Imung, kalau saya tak punya hati baja. Urusan seperti ini bisa membuat 3-AN saya bertahan. Saya punya rasa penasarAN, harapAN, dan kesabarAn seluas angkasa. Saya cuma bisa berdoa, semoga pengorbanan saya berdiri, dan menengok kiri kanan seperti wayang golek, berakhir dengan mulia.

Haduh, sudah hampir habis kesabaran saya, badan saya tambah mengkerut karena kedinginan, dan leher saya sudah pegal tengok kanan kiri. “Bego lo Mung! Cowok apa-an yang membiarkan cewek menunggu selama ini?” hati saya mengumpat. Mahluk bertanduk dan mahluk berhalo putih di kepala saya masih berperang. “Udah pergi aja!’”. “Jangan, sapa tau cowok itu guanteng dan mau sama elo…” Hampir 30 menit menunggu, akhirnya, seorang cowok dengan sepeda kumbang mendekati saya.

Si mahluk bertanduk di kepala saya terlihat menari nari, “tuh kan, gue bilang juga apa, ngapain nunggu buat cowok model begituan, rasain deh lo, rugi!”… sementara mahluk berhalo putih masih saja membujuk, “siapa tau orangnya baik. Tampang bukan segalanya. Elo juga gak cakep cakep amat, gak usah rewel deh…” Kesal saya bertambah, karena pertarungan kedua mahluk di kepala saya, rasa capek, dan kecewa karena harapan tak sesuai kenyataan. Tapi jangan panggil saya Imung, kalau saya tidak bisa memberi senyum semanis madu kepada orang, meskipun hati ini geram. Inilah ajaran Jawa dari ibu saya.

Meskipun dia minta maaf, rasa kecewa saya sudah tak terobati. Terutama, jujur saja karena harapan tak sesuai kenyataan. Untungnya saya bisa berkilah supaya bisa cepat hengkang dari hadapannya, ada filem yang saya mesti tonton, dan udah beli tiket. Jadi saya coba permisi. Sialnya lagi, dia bilang, “oh kayaknya filemnya menarik, saya juga mau nonton ah!” Pelajaran buat cewek-cewek: jangan suka terlalu jujur sama orang belum dikenal.

“Mati deh gue!”, pikir saya. Bagaimana mungkin saya bisa melarangnya pergi nonton filem yang akan saya tonton? Emangnya saya pemilik bioskop ini. Hak asasi dia dong. Manyun-nya lagi, bioskop disini masih lebih primitive daripada yang kita punya di Jakarta. Kursinya lebih sempit daripada di Jakarta. Dan tidak pakai nomor kursi. Siapapun boleh duduk dimana saja. Siapa cepat dia boleh milih. Wah, kacau nih. Dia pasti duduk disebelah saya. Sudah begitupun, dalam hati saya masih bersyukur. Untung filemnya dokumenter, tentang seorang cewek yang hidup lebih dari setahun di atas pohon red tree demi mempertahankan supaya pohonnya tidak ditebang. Coba kalo filemnya romantis atau beradegan hot, hiiyy mana tahaaann!

Epilog
Saya memang tak tahu diri, sudah jelek, kok belagu, masih kepingin yang cakep juga. Walaupun belum tentu juga kalau cowok itu cakep, saya lantas mau aja. Namanya juga cita-cita, boleh dong setinggi bintang di angkasa. Perkara enggak tercapai, ya judulnya aja cita-cita…

Akhir cerita, ditengah filem, saya bilang, saya pingin ke toilet dulu…padahal saya menyelinap keluar dan pulang dengan tangan hampa! ***

Pemburu Cinta (jilid 1)

Menemukan cinta. Aaah, indahnya. Di masa lalu, saya selalu menjadi seseorang yang menunggu, barangkali saja ada cowok yang sudi mengejar ngejar saya. Sayangnya, ini tak sering terjadi. Di masa kini, kayaknya saya bisa berganti peran, dan menjadi sang pemburu. Itulah yang terpikir ketika saya bersekolah di luar negeri. Karena hidup yang membosankan, bumbu sedap cinta dibutuhkan, dan saya Cuma punya budget mahasiswa, akhirnya memutuskan untuk memburu pacar non mahasiswa. Pacaran dengan mahasiswa, modalnya dengkul dan tampang saja. Ini namanya tambah runyam, pikir saya. Pacaran dengan non-mahasiswa lebih banyak manfaatnya. Lebih dewasa. Punya penghasilan sendiri. Tidak pusing dengan jajan bayar sendiri-sendiri. Saya bisa belajar bahasa Inggris lebih cepat. Jalan jalan ke tempat tempat yang belum pernah saya kunjungi sembari indehoy. Makan malam romantis dengan ongkos yang minim. Hadiah hadiah… (mengharap.com – nih! Siapa tahu kan?)

Tentu saja untuk berburu, diperlukan perilaku assertif-agressif, bukan melulu menunggu bulan jatuh dari langit. Sebagai pemburu, saya mesti putar otak memilih hutan yang tepat untuk sasaran perburuan. Sungguh tak gampang. Bisa saja saya pergi ke mall, bar, atau klub olahraga. Tapi realistis saja, biaya tinggi dan kompetisi berat. Harus bayar minum sendiri di bar, tergoda belanja di mall, atau bayar membership sports club sembari berburu. Belum tentu juga banyak sasaran. Pasti banyak perempuan pemburu yang bermodal tampang dan tinggi badan lebih bagus. Ini namanya besar modal dan kecil kemungkinan berhasil.

Setelah membuat business plan yang feasible dan menimbang nimbang untung rugi, saya memutuskan jalan terbaik adalah berburu cinta lewat Internet. Ya, mungkin bagus mencoba. Biaya tentu ada, tapi masih bisa di tolerir deh, apalagi tingkat keberhasilannya mungkin bisa lebih besar. Banyak yang bisa saya kadali dengan tulisan dan foto yang sudah di touch-up, pikir saya. Sudah terbayang coklat, makan malam romantis, nonton, piknik ke gunung dan pantai, bunga bunga segar setiap minggunya, pelukan dan pujian. Semua gratis! Ah indahnya dunia.

Tapi mimpi saya dibangunkan oleh kenyataan bahwa bila ingin memasang profile di suatu situs, pasti saya perlu menciptakan iklan personal yang mantap. Berbekal pengalaman sebelumnya sebagai seorang public relations, akhirnya saya coba menulis personal ad yang bombastis untuk ukuran saya yang cari pacar di Jakarta pun sulitnya setengah mati. Ah Mau malu apanya? Wong pake nama samaran kok. Pasang foto pun bisa bisanya kita saja. Kulihat foto ku sewaktu tingkat satu kuliah cukup representative. Senyum lugu. Wajah muda dan segar. Bohong sedikit, boleh dong. Toh yang terpasang foto sendiri, bukan foto artis…Tuh lihat saja para kokiers, ada JC , dia pakai foto buto ijo yang ngetop, atau Bocah Tua Nakal yang pakai foto kakeknya, dan Janda_Keren yang pakai foto cantik mirip artis latin.

Voila! Bermodal keanggotaan bayar di salah satu situs pencari cinta terkenal, Jadilah iklan saya. Setiap hari menjadi hari yang penuh harapan. Saya tunggu reaksi dari para pencari cinta lain. Sehari. Seminggu. Tak ada yang terjadi. Tak seorangpun yang menyapa di ruang maya. Iseng iseng saya coba juga menyapa beberapa profile. Sampai mata pedas dan nanar memandang layer computer, tak ada yang balas menyapa. Wah!

Saya pikir iklan profile itu cukup bagus, “Attractive slim woman, with sweet smile to melt your heart. Smart, independent and adventurous …” yah saya akui, iklan ini sedikit norak tapi ahem, saya jujur kok...tapi jujur saja, iklan ini gagal menarik peminat.

Setelah dipikir pikir, kegagalan ini pasti disebabkan karena kalimatnya kurang menggigit dan menggoda. Maklum, biasanya menulis profil perusahaan atau press release, saya sungguh tak tahu bagaimana jual diri sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk menelpon penulis professional, yang biasanya memasang iklan di Koran komunitas setempat. Jika saya ingin memancing ikan hiu, tak mungkin berumpan cacing kan? Bermodal sedikit, mungkin akan menghasilkan lebih banyak…Sayangnya, bukannya penulis handal untuk iklan yang saya telpon, tapi penulis khusus obituary, itu tuh penulis yang biasanya menulis kenangan orang yang sudah pergi ke akhirat. Maklum, waktu itu saya tak paham obituary itu apa. Bingung juga sih waktu dia bertanya: “so, siapamu yang meninggal?”

Apa boleh buat, akhirnya saya harus puas dengan iklan buatan sendiri, dan berharap Tuhan berbaik hati mengirim ikon senyum ke layar computer saya. Beberapa minggu setelah pengorbanan menunggui layar computer sampai mata pedas dan pantatku rata, penantian saya berbuah. Tuhan sayang pada hambanya yang gigih. (huh! Kalo begini aja baru ingat Tuhan…)

Mulailah petualangan saya mencari cinta lewat dunia maya. Satu demi satu. Setiap malam sepulang kuliah, bukannya mengerjakan tugas esok hari, saya asyik chatting online. Banyak dari jumpa darat berakhir dengan kekecewaan. Biasanya sih, dari pihak cowoknya. Harapan melebihi kenyataan. Iklan tak sesuai kenyataan hahaha. Ya, dari sayapun ada kekecewaan. Karena di tolak hehehe. Banyak sekali tolakan. Sebegitu banyaknya, sampai sampai saya tergoda untuk menulis sebuah buku 101 Dummy Guide to Accept Rejection Safely. Petunjuk menerima penolakan cinta dengan aman, tanpa khawatir tangan sakit karena meninju sang cowok, atau melempar barang sendiri karena kesal, atau bahkan tergoda untuk bunuh diri karena malu hati dan rendah diri, setelah ditolak mentah mentah…

Tapi Tuhan juga sayang orang penyabar. Saya terima penolakan demi penolakan tanpa kehilangan akal sehat. Dan sesekali saya juga punya kesempatan untuk menolak. Seperti cowok yang datang jumpa darat, sambil membawa anjingnya. Sepanjang duduk di taman, dan mengobrol, tak hentinya dia mengelus elus anjingnya dan bercerita tentang sang anjing. Bukannya saya tak suka anjing, tapi rasanya akan susah buatku bersaing dengan anjing betina itu. Anjing itu cantik dan lucu. Namanya pun indah: Sophia. Bayangkan kalau saya jadi pacar si cowok ganteng ini. Pasti rasa percaya diri akan berkurang setiap kali dia panggil nama saya: IMUNG…. Bandingkan mana lebih mesra dan merdu dengan SOPHIA….

Suatu hari, kebesaran hati saya menerima penolakan mentah mentah bertubi tubi itu akhirnya berbuah juga. Saya temukan juga cowok impian. Sepertinya sih ganteng ya, kalau foto yang di berikannya asli. Dia seorang wartawan dari sebuah surat kabar internasional yang cukup ngetop. Dia juga pemilik bisnis travel safari adventure. Pintar. Kaya. Suka berpetualang. Haduh! Pas banget, pikirku.

Setelah 3 minggu bercakap online hampir setiap hari, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Malam sebelumnya, saya sampai bermimpi menunggang gajah bersama sang cowok dalam sebuah petualangan di Kenya.

Pada hari yang penting itu, saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk memastikan potongan rambut baru, membeli baju baru, dan berlatih berdiri dan tersenyum di depan cermin. Saya memutuskan untuk menunggunya di tempat terbaik: Starbuck. Iya sih, bukan tempat yang romantis, tapi ini tempat paling ideal bertemu dengan orang asing. Aman, banyak orang, dan tidak terlalu kentara kalau kita sebenarnya sedang dalam misi blind date. Lagi pula, disini kita bisa duduk berjam jam, meskipun Cuma pesan segelas kopi. Cocok untuk kantong mahasiswa.

Jadilah saya menunggu di Starbuck. Groginya tak karuan sampai sampai tak ingat lagi seperti apa wajah cowok yang akan saya temui itu. Setiap ada cowok yang masuk ke tempat ngopi ini, pasti tak kelewat dari radar. Inikah dia? Saya bahkan tak menyadari saking gugupnya, saya bertanya tanya pada beberapa orang cowok yang kelihatannya sedang menunggu.

“excuse me, are you Jim?” “Hi what’s your name?”

Sewaktu menunggu dengan gelisah, tiba tiba seorang cowok berjalan mendekati tempat saya duduk. Jangkung. Ganteng. Hati ini serasa mau meledak. Hore! Terima kasih Tuhan! Saya mendapat lotere! Duh, lutut saya gemetaran. Saya Cuma bisa melongo. Tak mampu bersuara. Benak saya menari nari liar, dan berharap. Tuhan, tolong saya jangan ditolak lagi. Janji deh, kalau cowok ini jadi pacar saya, sungguh saya tak keberatan berlari larian sembari telanjang dada di seputaran Robson Street untuk merayakannya…

Sambil menentramkan hati yang dag dig dug, dengan gugup saya coba buka mulut. Baru saja saya ingin memanggil namanya, dia tersenyum pada saya. Wah rasanya hampir semaput! Lupakan deh senyumnya Brad Pitt. Itu Cuma ada di film, bukan senyum kepada saya pula. Yang ini asli! Dia tersenyum kea rah saya. Wow! serasa bermimpi…

Pada detik detik yang paling menentukan itu, dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. ‘God, make him my knight in the shining armour…’ doa saya. Dasar manusia, bisanya minta aja.

Suaranya yang empuk dan simpatik, membangunkanku dari rapal rapal doa. Dengan senyumnya, dia menyapa: “Hi, Estella!”

Owalah! Biyung! Saya berharap saat itu juga namaku bukan Imung. Saya tak keberatan berbohong jika namaku Estella. Ternyata, saya ge-er saja, tatapan matanya terarah ke seseorang yang duduk tepat di belakang saya.

Jadilah saya menanti. Dua jam dengan secangkir kopi. My dream date tidak pernah menongolkan wajahnya. Rugi berkali kali, ongkos potong rambut, ongkos baju baru, ongkos internet, ongkos secangkir kopi, dan ongkos perasaan... Owalah! Biyung!

Wednesday, June 09, 2010

Jakarta Sang Nomor Dua

“Jakarta is number two..” begitu Colin, teman se-klub saya di Toastmasters memulai pidatonya di klub kami malam itu. Sebagai orang Jakarta dan sebagai seorang yang suka berimajinasi ngawur, saya langsung ke-ge-er-an. Saya pikir, Colin akan bilang bahwa Jakarta adalah cintanya yang kedua setelah negaranya. Banyak teman saya yang non-Indonesia begitu sih, jatuh cinta berat dengan Jakarta. Ternyata Jakarta nomer 2 yang dimaksudnya lebih heboh. Masuk ranking secara international! Menurut sebuah lembaga riset sumber daya di New York, Jakarta dinobatkan dalam peringkat kedua di dunia sebagai kota …yang terburuk buat para ekpat untuk tinggal dan hidup. Hidup Jakarta!!

“Ya, hidup Jakarta!...” teman saya masih berujar: “Saya enggak ngerti dasar apa yang dipakai oleh lembaga ini sampai sampai Jakarta yang cool ini sejajar dengan Lagos (nomer 1), dan Riyadh, Kazakstan dan Mumbay (dari urutan ke 3 sampai ke 5). Buat saya yang pernah hidup dan tinggal di banyak kota dunia, menempatkan Jakarta sebagai kota terburuk untuk para expat untuk tinggal, menggelikan sekali.”

Colin yang pernah menetap di beberapa kota besar seperti New York, London, Sydney, Hongkong, Seoul, dan Denver, tidak sedang bicara manis. Saya yakin dia tulus, dan mengerti betul, jika statement Jakarta nomer 2 terburuk itu ridikyules. Walaupun didaulat sebagai nomer 2, yang terjelek, pasti tak ada yang bisa membantah kenyataan bahwa, Jakarta superior dalam hal-hal berikut ini:

Transportasi umum
Coba sebutkan dimana ada kota metropolitan di dunia yang punya sistim transportasi umum yang secanggih Jakarta, kebanyakan dikelola secara swadaya pula. Mau apa juga ada. Dari roda dua sampai roda banyak. Dari yang pakai otot untuk menggerakkannya sampai yang pake otak saja. Dari yang ukuran kurus seperti sepeda kumbang nya pak Omar Bakri di daerah kota sana, sampai yang bomber gedenya seperti busway. Dari yang halus bunyinya seperti beca (maklum Cuma bunyi napas berat ah..ahhh.. abang becaknya) sampai yang berisik minta ampun seperti bajaj ada! Ojek sepeda, motor, beca, busway, bis bis yang sanggup acrobat miring sana miring sini, omprengan, taxi.. tinggal pilih sesuai selera dan kocek.

Mau naik yang mewah, adem dan pelayanan prima ada silverbird dan taxi lainnya. Mau coba rasanya olahraga pilates dan bergesekan tubuh sembari merasakan bau bauan yang natural dari badan, bisa bergelantungan di bis kota yang penuh sesak. Mau lihat pertunjukan sulap gratis? ada di bis dimana copet beraksi.

Mau menikmati romantika Jakarta dengan para actor bermain live? Tinggal naik kereta api kelas ekonomi yang Cuma seribu lima ratus perak karcisnya. Di kereta itu kita bisa lihat segala rupa orang, bisa sembari shopping, belanja jepitan rambut, lem tikus, celana dalam, kalkulator, buah-buahan, buku, kondomnya handphone, gunting kuku, pensil. Seringkali dihibur pula dengan para musisi jalanan dari yang bersuara cempreng serak sember sampai grup musik yang serius menggotong bass dan sound systemnya atau bisa juga menikmati pertunjukan fashion show dari para waria yang bergerombol menaiki kereta.

Dua puluh empat jam dengan transportasi public yang gampang dicari, kita bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta. Bayangkan bahkan tinggal di kota kota besar seperti New York pun tidak ada kemudahan dan kemurahan transport yang setara dengan Jakarta…

Cuaca yang konsisten dan menyenangkan
Ok. Saya tidak sedang bicara tentang udara ya, ini beda. Udara sih, memang tercemar, seperti banyak kota metropolitan di Asia. Tapi perkara cuaca, dibandingkan banyak kota besar lainnya, Jakarta sangat friendly. Bepergian setiap saat di segala cuaca sangat memungkinkan. Bisa ketebak, kalau tak hujan ya panas. Hujannya pun keseringan hujan romantis, jarang yang disertai angin kencang, tidak super dingin dan terus menerus seperti di London atau Vancouver.

Banyak orang dari Asia yang baru baru tinggal di negara empat musim mengalami syndrome musim dingin, yang bawaannya gloomy melulu karena jarang lihat matahari. Apalagi kalau tinggal di tempat dimana musim dinginnya langganan berat salju. Masak mesti hibernate selama musim dingin, enggak kemana mana? Teman saya Colin ini cerita, sewaktu di Denver, keseringannya dia merasa bosan dirumah, tapi mau bepergian juga susah, hiburan luar kurang. Tapi untuk doing nothing itu enggak enak juga. Jadilah dia bisa bolak balik ke gym sehari tiga kali, kayak minum obat cacing.

Dengan cuaca seperti Jakarta, kita enggak perlu pusing sama urusan fashion seperti di negara 4 musim, tiap 3 bulan mesti ganti model. Bagi para perempuan yang mau berpakaian seksi di tempat umum, enggak harus setahun sekali tunggu musim panas. Pokoke Jakarta pancen oye!

Hub yang Strategis
Mau lihat pantai pelabuhan yang masih bergaya tempo dulu? Kurang dari dua jam sudah dapat Sunda Kelapa. Mau pantai pantai lain yang bisa di jangkau dalam waktu dua tiga jam berikut paket resortnya? Ada marina Ancol, kepulauan seribu, Anyer, dan banyak lagi.

Mau lihat gunung? Ah gampang, pergi aja ke gedung pencakar langit dengan kaca menghadap Bogor. Walaupun dengan susah payah, pasti kelihatan juga. Tapi kalau mau pergi ke gunungnya pun, bisa ke arah puncak, ke arah Bandung, kea rah Banten. Pilih pilih aja sendiri deh. Pendeknya, enaknya hidup di Jakarta itu ya bisa ke luar kota dengan gampang dan dekat jaraknya.

Toleransi Agama dan Budaya
Mungkin banyak pembaca yang gak setuju sama saya , tapi yang saya ungkapkan ini pandangan dari beberapa teman non-Indonesia termasuk Colin ini. Kalo yang ini sih memang khasnya Indonesia. Mau beragama apa aja, silakan, asal jangan mengganggu orang. Hari libur keagamaan menjadi libur nasional yang bisa dinikmati oleh penggembira beragama apa saja. Kebanyakan penduduk Indonesia, dan Jakarta tentunya punya tingkat toleransi yang jauh lebih tinggi daripada bahkan dibandingkan penduduk Negara adidaya yang menurut pendapat mereka sendiri lebih sulit mentoleransi agama, ras dan budaya yang berbeda. Contoh kecil saja, komunitas waria, di Jakarta, diterima apa adanya oleh masyarakat, sementara nun jauh disana di kota kota yang sudah jauh lebih maju, masih saja terdengar berita mereka di-bully karena menjadi diri mereka sendiri.

Swalayan Dunia Hiburan
Mau hiburan receh seperti pengamen dipinggir jalan sampai hiburan kelas tinggi yang butuh kocek ratusan ribu atau jutaan rupiah, sambil merem (melek) bisa dinikmati. Mau belanja? Dari tali beha sampai sekrup pesawat ada. Dari pasar becek dan bau sampai mall mewah yang suka bikin kita minder kalau lihat harga harganya, ada. Tempat tempat itu buka sampai jauh malam. Bahkan dunia dugem ada yang buka sampai subuh!

Mau nonton? Bioskop dari yang paket tambahan gratis binatang bangsat di kursinya, sampai yang bisa sembari tiduran dilengkapi pelayanan butler, Cuma Jakarta yang punya. Teman saya yang berasal dari Jerman sampai ternganga sewaktu saya ajak ke bioskop mewah Jakarta. Saya juga ternganga sewaktu nonton di salah satu bioskop di downtown Vancouver. Lho kok, kursinya kecil banget sih, dibanding kursi normal bioskop Jakarta.

Enggak punya duit tapi pingin nonton? Gampang! Pergi aja ke Mall Ambassador, atau Ratu Plaza atau Glodok. Dengan minimal uang 7-ribu sudah bisa dapat satu filem bajakan, dari filem horror sampai porno, komplit! Bule-bule saja sering keluyuran cari filem disana!

Hiburan lain? Wah pasti kolom ini tak muat membahas banyaknya jenis hiburan di Jakarta. Bagi saya, tak ada yang bisa mengalahkan dinamika Jakarta sebagai kota metropolitan. Jakarta kota segala ada. Hidup Jakarta! *** (Artikel juga ada di: http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/367/jakarta_sang_nomor_dua_

Monday, November 30, 2009

Ih Jorok AH!

Tulisan ini juga termuat di: http://community.kompas.com/read/artikel/2612

Gara garanya buku terjemahan ‘Embroidery’ Bordir, itu buku komik lucu dan jujur keluaran Gramedia, tentang apa apa yang sering diomongin para perempuan di Iran kalau mereka kumpul kumpul. Saya membawa buku tersebut ke pantry kantor di jam istirahat makan, berharap mendapatkan tawa ria dari teman-teman ketika membahas buku ini untuk ngurangi stress dan bikin awet muda.

Sewaktu pembicaraan lagi sampai ke ‘banyak ibu ibu yang belum pernah melihat alat vital suaminya meskipun bertahun tahun berumah tangga, ‘ semua terbahak, dan bertanya sendiri:
“masa’ sih?”
“Ih rugi amat!!!...”
“ya mungkin karena suasananya gelap melulu, mana bisa lihat…”

Jadi lah kami mulai ngobrol masalah budaya keterbukaan bagi perempuan di Indonesia dan Iran tempat latar belakang buku ‘jorok’ (ingat, ini dalam tanda kutip) Bordir itu. Tapi baru saja tawa mereda, salah seorang anggota pantry yang rada serius dan alim, sebut saja Gadis langsung memotong dan menghentikan makannya.

“Udah ah, aku jadi nggak selera makan nih!!” dan seketika dia menghentikan makannya. Reaksi nya membuat semua yang mengelilingi meja bundar terdiam.

Tawa hilang, yang ada kecanggungan. Irma teman saya yang lain terburu buru minta maaf pada Gadis. Sementara dalam hati saya nyap-nyap. ‘ih kalau enggak suka dengerin ya pergi aja dong..’. Harapan saya sia-sia. Gadis tetap duduk di tempatnya. Akhirnya saya yang terpaksa ngeloyor meninggalkan pantry daripada mengalami ‘gegar emosi’. Beberapa orang lain juga ngeloyor pergi melihat suasana nya sudah enggak lucu lagi padahal waktu istirahat masih ada…

Berlanjut sekembali ke ruang kerjaku, laptop ku berbunyi ting-ting, tandanya ada IM Masuk.
“Mbak, sorry ya tadi di pantry, jadi gak enak..gara gara aku ya?”
“Lho Ellen kok ge-er gitu si? Emang kenapa?”
“Soalnya tadi aku kan quote kata kata ‘testis’ dari buku Bordir itu…”

(Haduh Ellen, testis itu kan kombinasi dari tes, sama betis, jadi gak apa apa lah, kata saya dalam hati…)

“Ellen, ini bukan soal elo kok, nyantai aja deh…”

Obrolan Jorok
Bagi teman saya yang tidak setuju obrolan di pantry itu, mungkin menganggapnya sebagai omongan jorok yang menjijikkan sampai sampai dia tak tega meneruskan makan. Jorok itu sebenarnya kayak apa sih? Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapi dan dalam konteks apa. Kalo omongnya kayak novel stensilan sih yang jelas jorok lah, tak pantas di omongin di pantry kantor. Salah salah nanti kena Code of Business Conduct, itu tuh kode etiknya dan bisnisnya perusahaan tempat saya menjadi kuli. Salah satunya jika ada orang yang terlalu nyentrik dan menyinggung orang dengan kata katanya, maka dia bisa aja kena Code ini.

Tapi yang namanya di pantry ini omongan bisa apa aja, dari gossip selebriti sampe gossip temen sendiri. Tidak pernah sampai keterlaluan sih, gossip temen sendiri jarang jarang terjadi. Kadang juga kami menggosip kebijakan kantor yang masih belum di mengerti …Tapi yang lebih sering, pantry ini menjadi tempat obrolan pendidikan sex yang aman bagi para perempuan di kantor kami. Ada beberapa pembicara ‘La Rose’ di pantry ini, dan biasanya saya menjadi salah satunya. Kebanyakan cewek pantriers ini biasanya sepakat tanpa diskusi lagi tentang obrolan kecil kami disini. Kalaupun sesekali terlalu nyerempet, biasanya kami semua sepakat menyudahi tanpa ada yang tersinggung..

Kontroversi Jorok
Hari berikutnya, pantry di jam makan siang sudah penuh lagi dengan anggotanya. Nah mumpung ada Gadis di pantry hari ini, saya pingin membagi sudut pandang saya yang berbeda darinya tentang definisi jorok.
Jorok itu adanya di benak (ini bukan omongan ilmiah, jadi kalau tanya letaknya benak di mana, ya saya tak tau. Cari aja ‘ndiri, harusnya sih tiap orang punya ya, kecuali orang tak waras!). Jadi jika kita bicara satu kata, dimana seseorang memandang itu sebagai istilah biologi, sementara yang lain melihat kata itu sebagai tabu dan jorok, ya, susah juga. Kita tak bisa memaksa. Tapi setidaknya, ya si orang yang punya definisi ketat ini mesti jaga jaga diri sendiri, dan tidak bisa berharap semua orang mentolerir dirinya, bila dalam suatu grup kebanyakan orang punya pandangan yang bertolak belakang dari pandangannya.

Jorok itu adanya di benak. Contohnya, ada banyak istilah yang dipakai untuk menggambarkan bagian tubuh kita yang paling private. Beberapa disamarkan, beberapa sangat gamblang. Tergantung konteks dan situasinya. Rasanya sulit berharap dokter kita akan bilang, “Bu, Ms V ibu normal aja kok”, atau “Jadi, burung Bapak bermasalah?”. Malah mungkin ini bisa merunyamkan suasana, apa-apaan dokter kok omongnya begitu?

Bahasa tulisan juga akan lain lagi. Tak bisa berharap, setiap kalinya ada kata kata yang kekiri-kirian, penulis selalu minta maaf. Memangnya lebaran? Bagi saya sendiri, jika tulisan itu adalah tulisan ilmiah tentang sex, kenapa pula harus menggunakan sandi seperti Ms V dan Mr P?

Apanya Yang Jorok?
Omong omong jorok, mengingatkan pengalaman saya semasa sekolah dasar, kelas 4 SD. Masa itu, anak-anak jauh lebih polos daripada anak sekarang. Hobby saya membaca tersalurkan salah satunya dengan membaca koran, yang sekarang sudah tak terbit lagi. Tulisan apapun di koran itu biasanya saya lalap, meskipun mungkin tak bisa dimengerti. Dan sayapun sering tak malu bertanya di sekolah. Pagi itu, setelah membaca sebuah artikel pendek di koran, saya bertanya kepada guru saya, Pak Syahril.

“Pak, boleh tanya? Buah zakar itu seperti apa ya pak? Kok saya belum pernah lihat di pasar”. Pak guru Cuma mesem-mesem saja. Dan dia bilang:”Tanya saja sama orangtuamu…”

Keesokan harinya, ibu saya dipanggil oleh pak Syahril, untuk memberitahu pertanyaan aneh saya, dan menyatakan keprihatinan, karena mungkin saya bermasalah. Kecil kecil kok tau-tauan buah zakar. Ibu saya yang tak tahu juntrungannya menginterogasi saya: “Dari mana kamu dengar istilah itu…?” Oalah! ibu saya saja tak tega memakai kata itu di depan saya. Dengan polosnya saya jawab: “Saya baca di koran langganan Bapak, ada pencangkokan buah zakar yang pertama di dunia. Saya pingin tahu buah zakar itu seperti apa. Siapa tahu kita bisa tanam…”

bu saya tak habisnya tertawa, dan pengalaman itu tak terlupakan sampai sekarang.

Kisah Guru: Siapa Yang Jorok?
Jadi, jorok itu ada di benak. Saya akhiri dengan kisah yang saya kutip dari buku komik berlatar budaya Tionghoa terbitan Gramedia yang saya baca bertahun tahun lalu. Maaf saya lupa judul bukunya. Kurang lebihnya, terima saja, maklum, saya penutur amatiran.

Dikisahkan seorang guru yang alim dan menjauhi dunia diikuti oleh seorang muridnya yang penasaran dengan kealiman sang guru. Sang murid bermaksud mengamati setiap langkah dan tindakan gurunya, untuk mempelajari. Dalam satu perjalanan, mereka harus menyeberang sungai, sementara di tepi sungai sedang duduk seorang perempuan cantik yang nampak kebingungan. Dia ingin menyeberang, tetapi terlalu takut untuk melakukannya sendiri. Sang guru menawarkan untuk membantu perempuan itu menyeberang dengan cara menggendong di punggungnya.

Sesampai di seberang, perempuan cantik itu mengucapkan terimakasih yang diterima dengan takzim oleh sang guru, lalu mereka meneruskan perjalanan. Sang murid yang masih terheran heran, berpikir: ‘Kenapa guru sigap sekali menawarkan bantuan untuk menggendong perempuan cantik? Kenapa tak diserahkannya ke saya? Wah, ternyata beliau suka ngelaba juga, pikirnya. Dasar tua-tua keladi! Tergoda juga dia pada perempuan cantik. Haduh, kenapa saya kurang sigap tadi ya? Coba kalau saya yang menggendongnya, hmm alangkah nikmatnya…’ pikirannya berandai-andai…

Tak tahan hatinya, dia sampaikan unek-uneknya pada sang Guru. “Guru, kenapa sih, tadi Anda menggendong perempuan muda cantik itu. Tuan Guru kan seorang suci, kenapa masih tertarik kepada perempuan? Saya kan lebih muda, kalau saya yang gendong kan paling tidak saya beruntung.”

Dengan tenang sang guru menjawab:
“Aku tidak menggendong perempuan. Aku menolong seorang manusia. Sementara kamu, muridku, kamu lah yang masih menggendong perempuan itu sampai saat ini, di dalam benakmu…”

Jorok itu adanya di benak. Bisa saja mata fisik memandang sebatang pohon beringin yang seram, tetapi benak berpikir di balik pohon rimbun itu ada seorang cewek cantik telanjang tersenyum menggoda, melambaikan tangan nya ke arah Anda. Hayo, siapa yang jorok, kalau begitu?

Bukan salah tulisan, bukan salah ucapan, jinakkan saja benak itu…

Sunday, November 29, 2009

Solusi Instan? Bener Nih?

Tulisan yang sama dimuat disini: http://community.kompas.com/read/artikel/2431

Mi instan? Sedap!… Kopi instan? Hmm mantap! Tapi kalau Anda punya masalah, apakah ada jalan keluar yang instan? Saya ragu deh. Tapi seorang saudara dari teman saya ini percaya, ada jalan keluar yang instan (meskipun kalau di pikir dengan akal sehat, sebenernya juga bukan instan lah).

Sebut saja namanya Gadis. Dia bekerja di sebuah bank swasta. Pekerjaan sehari-harinya termasuk memindahkan uang dari satu tempat ke tempat lain dan membuat laporannya. Di akhir hari, dia harus memastikan bahwa laporan neraca dan keuangannya seimbang. Uang yang keluar harus seimbang dengan yang masuk. Tidak ada document yang terselip, tidak ada uang yang hilang. Sejauh ini, dia melakukannya dengan baik. Gampang banget, yang penting jujur, pikirnya. Sampai suatuketika…uang sejumlah 30 juta raib dari mejanya. Tak ada bukti uang keluar. Tak ada dokument yang mendukung, tak ada sisa sisa bau 30 juta itu di sekitar ruang kerjanya.

“Ya ampun, kemana ya? Perasaan udah aku cek di mana mana, dan aku enggak korup deh. Wah apa kata orang nih, apalagi boss ku! Pasti aku di tuding tidak becus kerja dan enggak bisa di percaya. Sebaiknya aku tunda laporan dulu deh siapa tahu ada jalan keluar beberapa hari lagi …” pikir Gadis ini bingung, dan kesal.
Begitulah. Beberapa hari si Gadis murung dan muram. Belum juga ketahuan kemana lari nya uang itu. Tergoda juga dia untuk nomboki dari kantong nya sendiri. Dia berhitung hitung, dengan bantuan tokek di dinding, to..kek…ganti, to…kek… enggak, to..kek… ganti. Tapi, uang sekian banyak memangnya segampang mencabut bulu ketiak. Cabut bulu saja, kalau tak hati hati sakit lah…apalagi cabut duit dari rekening bank untuk nomboki kehilangan, bisa sakit lah hati ini…

Setelah dua hari tanpa jalan keluar, akhirnya dia menyerah, dan berpikir untuk mencari jalan keluar instan yang dipikirnya paling gampang dan aman. Dia pergi menemui seorang pintar, yang dianggap bisa membaca dan melihat diluar batas baca buku dan lihat lihat belanjaan…Dia pergi ke Ki Dukun, bukan Dik Dukun seperti Ponari.

Tentu saja, mana ada dukun yang katanya tidak punya kemampuan supra natural. Kalo begitu bukan dukun namanya. Baiklah, Ki Dukun bisa membantu memberitahu kemana perginya uang itu. Kalau dicuri, dia akan memberi tahu siapa sang pencuri nya. Hanya saja, dia tidak bisa mengucapkannya langsung dari mulutnya sendiri. Jadi Si Gadis harus membawa seorang wanita tua ke tempat prakteknya Ki Dukun. Melalui perantaranya, sang wanita tua akan bisa melihat apa yang terjadi sekali longok ke dalam tempayan butut berisi air di ruang praktek yang rada suram dan seram itu.

Si Gadis sangat optimis dia akan bisa menemukan, atau setidaknya tahu apa yang terjadi dengan uangnya lewat kesaktian sang Dukun. Dan uang 30 juta sebagai motivasi, jelas membuatnya hilang akal sehat. Dengan bujuk rayu, dia sanggup membawa neneknya yang sudah mulai rabun untuk pergi ke tempat si Aki. Sialnya, seberapapun sang nenek berusaha melongok ke dalam tempayan berisi air itu, dia tak mampu melihat apapun selain riak riak air dan dasar tempayan yang berdaki itu. Yah, apalagi dengan matanya yang rabun senja begitu…

Aki Dukun dengan yakinnya menyatakan bahwa si nenek tak bisa melihat apa yang terjadi di air disebabkan karena kurang bersihnya hati si nenek. (Kurang ajar juga ya sang Aki, menghina nenek-nenek..). Si Gadis hanya bisa pasrah dan mendongkol neneknya dihina sedemikian rupa. Maklum, dia masih membutuhkan dukun itu.

Akhirnya sang Dukun meminta seorang anak kecil yang secara kebetulan tiba tiba ada disana, seperti sudah di rencanakan saja. Tak seorangpun tahu siapa anak kecil itu. Mungkin dia bagian dari rencana rahasia sang dukun. Akhirnya si anak kecil ini pun melongok ke dalam tempayan dan mulai bercerita:
“aku lihat bapak bapak, sebaya dengan mbak. Pakai baju biru. Sedang jongkok dekat meja dan kursi, kayaknya di kantor deh. Dia sedang pegang duit…”.

Kembalilah si Gadis dari sarang dukun dengan keyakinan penuh bahwa seseorang di kantornya telah mencuri uang yang raib itu. Dan ciri-ciri yang diberikan sepertinya cocok dengan seorang teman kerja di kantor yang sudah lama tak di sukainya, sebut saja namanya Djoko. Jangan-jangan… Tapi tentu saja tak mudah menuduh tanpa dasar.

Ah memang mulut ini tak ada resletingnya, jadi gampang sekali terbuka. Tanpa buang waktu dia ceritakan kecurigaannya kepada teman baiknya di kantor. “Tapi jangan cerita cerita lagi lho” pesan sponsornya kepada temannya itu. Nah! Siapa bilang rahasia itu rahasia? Dengan cepat berita menyebar bahwa Djoko telah menilap uang 30 juta dari meja Gadis. Dengan cepat pula Djoko mendapatkan berita burung itu.

Sebagai seorang cowok yang gentleman di hampirinya Gadis untuk meminta dan memberi penjelasan perihal berita burung pencurian uang, dimana dirinya di tuduh sebagai biang keladi nya. Percekcokan pun tak bisa terhindarkan. Entah siapa yang betul dan yang salah. Ditengah seru serunya perdebatan mulut itu, masuklah sang Boss dengan gagah perkasa ke ruang kerja Gadis.

“Ada apa ini…?” tanyanya.
“Ah enggak Pak, biasa …” keduanya sungkan dan enggan menjawab dengan baik dan benar. Dengan serempak mereka mengendorkan urat marah di wajah.
“Oh ya sudah. Gadis, saya cuma mau kembalikan document ini. Bukti expenditure perusahaan sejumlah 30 juta rupiah yang lupa kamu bawa, tertinggal di meja saya beberapa hari lalu. Kamu sih ‘slordig’…” katanya dengan santai ngeloyor dari ruangan.

“HAH?” Gadis melongo, lega, kesal dan malu tidak mampu bicara apapun. Dalam hatinya dia memaki, dasar dukun sontoloyo…

Kapokkah Gadis pergi ke dukun untuk mendapatkan jawaban instan dari masalahnya? Enggak tuh! Kalo butuh ya pergi lagi dong, pantang menyerah, siapa tahu dukunnya waktu itu memang lagi pusing banyak pikiran. Siapa tahu lain kali manjur?! ***

Wednesday, May 20, 2009

Balada Sang Be-Ha: Antara Butuh dan Ingin

Beberapa tahun lalu, ketika baru saja patah hati, saya mencoba menghibur diri dengan mengunjungi pusat belanja. Tidak seharusnya saya terkejut dengan harga harga disana mengingat mall ini adalah salah satu termewah di Jakarta. Tapi saya terkejut juga, bahkan merasa tercekik, sewaktu melihat harga sepotong kain kaus polos sebesar kepalan tangan berwarna biru cerah dan merah benderang.

Benda itu kelihatan seperti be-ha, penutup dada. Betul, penutup dada! Tapi kenapa yang kanan biru, dan yang kiri merah ya? Ah tolol kamu! Kata saya dalam hati. Ini mode tahu! Saya rasa, harga itu bukan untuk barangnya, tetapi untuk mereknya:Benetton. Padahal ini di buat di Indonesia juga. Coba kalau barang yang sama di jual di pasar Tanah Abang dengan nama Bentol, bukan Benetton. Sumpah, pasti di jual murah pun belum tentu laku. Itulah kekuatan sebuah nama…

Harganya di mall ini, lima ratus ribu rupiah! Ya ampun! Dengan harga gila itu saya bisa traktir lima puluh gelandangan makan nasi goreng gila, sepiring tiap orang nya. Pasti lebih heboh rasanya, dari pada memakai be-ha dimana tak seorangpun bisa melihat mereknya, kecuali kalau saya tidak waras dan berjalan jalan di tempat umum untuk memamerkannya.

Beruntung akal sehat saya masih menyala layaknya pake batterai baru Energizer. Coba kalau saya kesurupan barang itu, pasti sudah saya beli sang be-ha, cuma untuk memuaskan kebanggaan yang tak masuk akal. Sudah patah hati, bangkrut pula bah! Tapi percaya atau tidak, hingga kini, saya masih memimpikan dan mengingat benda kecil kurang ajar itu….

Berapa banyak dari kita mengalami kegilaan sesaat seperti ini? ‘Harus punya!’ ‘Pokoknya saya mau!’ ‘Saya butuh!’ ‘Saya pingin!’ ‘Harus! Harus!’. Hidup di dunia dan budaya tinggi materialistis memang tidak gampang. Apalagi di dukung oleh sarana, prasarana dan iklan yang heboh. Yang meninabobokan kita dengan kelembutan, kemanisan, kehebatan, kekuatan, kelezatan dan keindahan imaji, gambar dan suara. Hmm air liur mengalir tanpa terasa. Adrenalin menggebu gebu. Ingin. Butuh. Harus dapat! Desakan dan kegatalan untuk membeli dan memiliki…Haduh, walaupun isi kantong kita tipis, dan nominal yang kita punya adalah jumlah hutang kita, tapi itu tidak menghentikan kita…Ah masih ada teman, saudara, bank dan kartu kredit kok…boleh pinjem dooong.


Sebagai salah satu korban sukarela dari iklan, saya selalu merasa bahwa membeli, memelihara, dan mempamerkan sesuatu milik pribadi adalah salah satu terapi untuk rasa percaya diri saya. Contohnya handphone. Sebelumnya saya cuek saja menggunakan handphone butut yang hampir punah dari peradaban. Tetapi melihat iklan yang manjur itu, dan komentar sirik dan memalukan dari kawan kawan membuat saya enggan dengan handphone super jelek itu. Jadilah dia korban ‘habis manis sepah dibuang’. Dan saya membeli hp yang lebih kinclong. Dompet saya terluka, tapi tindakan ini memberikan rasa percaya diri saya kembali. Ah dangkal sekali kita kita ini, eh maksudnya sih saya gitu…Bener juga kata si penulis “Decoding Advertisement” Judith Williamson - “Shopping gives you a sense of choice and power which is often absent from the rest of your life”

Tapi boleh dong kalau saya salahkan iklan yang hebat hebat itu sebagai biang kerok dari kelemahan iman saya dan Anda juga terhadap gaya hidup konsumerisme tinggi..Mungkin para praktisi marketing tak setuju dengan pendapat saya bahwa kecerdikan marketing taktik mereka benar benar hebat untuk mengubah bangsa kita, kaya dan miskin menjadi mahluk zombie baru penderita wabah belanja, yang bahasa kerennya ‘shopaholic’. Dan mengubah masyarakat kita menjadi penganut aliran sesat: ‘beli biarpun tak butuh’. Salah kita juga sih, lemah iman lemah mental. Kita selalu ingin rumah yang lebih besar, hp yang yahud, laptop super canggih, mobil yang lebih kinclong, TV keluaran terbaru, baju baju butik yang trendy, dan barang barang yang bisa membuat kita sebagai pemiliknya mengalami ledakan emosi orgasmic bangga memiliki … ah tak ada habisnya.

Memang ya, aliran sesat ‘beli biarpun tak butuh’ sudah menjadi epidemi dunia. Apalagi dunia perempuan. Coba nih lihat angka tahunan belanja dunia untuk kosmetik, beberapa tahun lalu, 18 milyar dollar! Dasar perempuan! (eh saya juga ya..). Bandingkan dengan data dari WHO beberapa tahun lalu ini dimana perkiraan biaya total tahunan untuk imunisasi anak di seluruh dunia, penyediaan air minum dan pencapaian angka bebas buta huruf, berada di bawahnya, Cuma 16 milyar dollar. Haduh! Hayo sahabat perempuan, insyaf doong!


Tapi maaf ya, seperti saya bilang tadi, kan saya korban sukarela juga dari konsumerisme dan produk produk keren, jadi bukan berarti saya merasuk dan menyumpah serapahi konsumsi modern sebagai dangkal dan dekaden lho. Saya penikmat nya kok. Nikmaat! Jadi mungkin saya mesti berubah pikiran. Bukan hanya salah para marketer kaya raya itu untuk membuat kita menjadi tambah miskin, biang keroknya kita juga sih. Kita, keserakahan dan kedangkalan sendiri. Coba saking serakahnya ingin mencapai lebih dan lebih lagi untuk membayar gaya hidup tinggi, kita tidak peduli walaupun harus mencuri gaya sophisticated (korupsi), walaupun harus menumpuk hutang, walaupun harus lembur tiap malam… lupa ya? Ada keluarga nungguin di rumah lho! Ada diri sendiri yang mesti di manjain kesehatan dan batinnya lho!

Jadi harus gimana dong? Masak harus hidup bak pertapa, enggak lucu dong! Mungkin salah satunya, harus begini ya:

Hargailah milik kita. Sadarilah, berapa banyak investasi yang harus dan sudah kita lakukan untuk mendapatkan milik kita tersebut. Uangnya. Energinya. Mikirnya. Waktunya. Usahanya untuk bisa beli. Dengan menghargai dan menimbang seperti itu, Anda lebih menghargai diri sendiri dan benda benda milik Anda itu. Rasakan deh, biar gimana, kita masih jauh lebih beruntung dari sebagian besar penduduk bumi ini. Jangan suka takabur.

Pikir sebelum beli. Tanya diri sendiri dan jawab secara jujur. Apa sih alasan yang masuk akal dibalik niat menghabiskan uang dengan membeli. Teman? Ikut trend? Meningkatkan percaya diri? Atau benar benar butuh? Bisakah Anda hidup tanpa benda tersebut? Jangan hanya karena banyak teman Anda menggunakannya, atau bintang iklan bilang Anda membutuhkannya, Anda lantas berpikiran sama. Jangan gampang tergoda. Kan Anda sang Master dari diri Anda sendiri. Bukan orang lain. Dan Anda tidak perlu membuktikan apapun kepada orang di sekitar Anda kecuali dengan karya dan kebaikan. Kalau Anda pikir Anda butuh memanjakan diri, baiklah, belilah sesuka Anda. Tapi ikuti saran ke 3.

Beli, tapi dengan bijaksana. Tantang diri Anda untuk menghabiskan uang dengan cara hebat tanpa menyesal. Caranya habiskanlah dengan sadar. Beli lah barang yang sesuai dengan kebutuhan Anda, aman, dan tidak merusak diri, keluarga dan lingkungan. Kalau Anda bosan dengan banyak uang di tangan Anda, kenapa tidak berbagi dengan yang membutuhkannya? Misalnya, dengan saya.

Jika nafsu berbelanja Anda benar benar parah, ya, sudahlah Anda memang pemboros. Saatnya untuk menghukum Anda dengan mengikuti bootcamp atau ulang lagi ketiga proses yang sama, hargai yang Anda punya, pikir sebelum membeli, dan belilah dengan bijaksana.

Yang terakhir, pikirlah ini: seberapa kayapun kita, seberapa hebatpun kita, yang kita perlukan setiap kalinya hanya satu! Kita tak bisa berada di dua mobil pada saat yang sama. Kita Cuma butuh sepasang sepatu untuk berjalan, kita Cuma makan dari satu mulut! Jadi buat apa semua kemewahan itu?

Untuk saya sendiri, baiklah saya berjanji akan melupakan beha yang sempat membuat makan tak enak tidur tak nyenyak, dan bertanya tanya, apakah saya butuh? Atau saya Ingin? Saya mencoba kembali ke jalan yang benar, dan turuti kata pepatah: Live simply so other can simply live…

(sudah kelar baca artikel ini? Hayo! Waktunya belanjaaa hahaha!)

Artikel dimuat di http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/364/balada_sang_be-ha_antara_butuh_dan_ingin