Showing posts with label Utak Atik Etika. Show all posts
Showing posts with label Utak Atik Etika. Show all posts

Thursday, August 16, 2012

Refleksi Ramadhan: Oh Sang Imam!


“Ah gak mau shalat tarawih di masjid A, bacaannya panjang panjang, bosen!” kata anakku.  Komentar seperti ini sering saya dengar dilontarkan anak anak ketika mereka shalat tarawih berjamaah di masjid. 
Kenapa para imam shalat cenderung melantunkan ayat suci yang panjang panjang saat memimpin shalat tarawih berjamaah?   Ini hipotesis saya:

-           Sebagai imam ada kesan harus mampu membaca ayat yang panjang dan yang tak terlalu dikenal orang banyak

-           Semakin sulit dan panjang bacaan, semakin hebat kesannya di mata orang dewasa

-           Bosan membaca ayat ayat pendek yang orang sudah sering dengar

-           Berlatih mengulang ayat ayat yang panjang supaya tidak lupa

-           Anggapan bahwa semakin panjang bacaan –semoga- pahala semakin banyak

Nah untuk para imam shalat yang biasa berpanjang panjang, saya punya permintaan:

1.       Ukurlah lamanya shalat dan ceramah dari kacamata banyak orang, bukan dari kacamata pribadi saja.  Keafdolan dan kekhusukan ibadah tidak berbanding lurus dengan waktu.  Ini sangat subjektif, dan diri sendiri tak bisa dijadikan ukuran untuk orang lain.

2.       Lihatlah sekeliling Anda setiap kali Anda akan memulai memimpin shalat dan pertimbangkan profil jamaah Anda sebelum memutuskan bacaan yang Anda pilih.

a.        malaikat malaikat kecil (baca: anak-anak) yang sedang berlatih mencintai masjid dan shalat tarawih.  Bacaan panjang akan membosankan untuk anak anak, ini adalah hal yang wajar.  Bantulah memberikan pengalaman berada di masjid, shalat tarawih, dan mendengarkan ceramah sebagai pengalaman menyenangkan dan indah.  Anda bertanggung jawab secara moril untuk itu.   

b.        Jamaah ibu ibu muda yang meninggalkan bayi bayinya di rumah.  Beri mereka kesempatan beribadah yang tenang dan indah, dan pada saat yang sama tidak menahan hak waktu dari para bayi untuk berada dalam pelukan ibunya kembali.

c.         Jamaah para manula yang sangat ingin merasakan khidmatnya beribadah berjamaah di masjid.  Fisik mereka mungkin sudah tak terlalu kuat untuk berlama lama berdiri atau rukuk, tetapi mereka tak mau terlihat berbeda dari jamaah lain, dengan shalat duduk.  Beri mereka kesempatan menikmati ibadah shalat dengan khidmat, tanpa diganggu oleh kelelahan fisik yang semestinya bisa dihindari

d.        Orang sakit diantara jamaah yang berdiri di belakang Anda.  Mungkin sedang pusing, sakit gigi, rematik, galau, stress dll.  Jangan bilang orang sakit semestinya di rumah saja.  Bantulah mereka menyembuhkan diri lewat keikutsertaan mereka beribadah bersama.  Jangan siksa fisik mereka secara tidak perlu, dengan berlama lama berdiri dan ruku’ padahal bacaan sudah semestinya selesai.

e.        Orang yang kebelet – mesti harus cepat cepat menunaikan hajat tetapi tak ingin meninggalkan.  Bantulah mereka menyempurnakan dan menyelesaikan shalat mereka, sebelum harus berlari ‘ngibrit’ ke toilet!

Para imam shalat dan penceramah yang dimuliakan Allah, sudah bukan level nya lagi bagi Anda untuk berhitung hitung pahala.  Yang pantas hitung hitungan itu pedagang atau guru matematika.  Lakukan pekerjaan Anda dengan ikhlas dan mempertimbangkan kepentingan dan keadaan orang lain.  Selamat menjadi imam yang hebat! 

Monday, March 26, 2012

Manikur di Kereta

Ditengah deru suara mesin dan roda kereta listrik dan kipas angin  di KRL Bekasi – Tanah Abang, tiba tiba saya dengar suara khas kletik kletik kayak suara gunting kuku. Lho, siapa yang buka salon pagi pagi gini? Aduh, mbak, kenapa enggak manicure di salon beneran aja sih? Nggunting kuku kok ya di kereta gitu loh. Emang mungkin keliatannya wajar aja, tapi menurut saya sih gak etis deh. Itu kuku sewaktu di potong kan bisa aja loncat kesana kemari.
 Iya sih enggak gimana gimana buat si mbak nya. Tapi buat saya atau penumpang lain, kalo tuh potongan kuku loncat ke celana panjang atau baju trus nyangkut dan menetap  disitu gimana? Jijik deh. Apalagi kalo sampai tuh kuku loncat ke mata penumpang yang duduk dekat dia, atau ke si Bapak sebelahnya yang tidur dengan mulut terbuka.

 Mulut usil saya sih kepinginnya menegur si mbak, tapi kok ya kesannya sadis banget sih mengurusi orang di kereta, di akan gak mengganggu…Memang sih kalau di tilik dari gangguannya tak seberapa. Tapi semestinya semua orang pengguna ruang public menyadari bahwa ada hal hal enggak etis dilakukan di ruang public. Mungkin termasuk ngupil dan ngorek kuping di tempat umum, kali ya. Apalagi kalau  habis itu tangannya dilap kan ke baju orang hehehe…

Tuesday, March 13, 2012

Pak Serobot

Setting: Takashimaya Department Store, Singapore, antrian beli kacang kacangan yang harga sekilonya rata rata berlipat lipat dari harga beras.

Biarpun saya (belum) kaya, boleh dong nyobain makanan mahal dan sehat kayak gini, dikit aja kok, Saya bergumam di depan konter kacang kacangan di Takashimaya. Di depan saya udah ada 2 orang yang juga sedang antri. Dengan manisnya saya ngantri di belakang seorang cowok ganteng sebaya saya, berkebangsaan Jepang. Tiba tiba, tanpa ba-bi-bu seorang bapak langsung ke konter dan menyerobot antrian. Saya dan cowok itu berpandangan, dan tak tahan dengan kelakuan sembrono serobotan itu, saya nyindir si Bapak ‘serobot’ itu dengan ngomong cukup keras ke arah si Jepang, ‘Aren’t you in the queue? – elo lagi antri kan?’ Si Jepang senyum dengan manisnya dan mengangguk.

Ya, rupanya Pak Serobot ini kupingnya cukup tambeng. Dia cuek saja. Kami berdua akhirnya menunggu Pak Serobot yang tanpa rasa bersalah sedang dilayani. Dia senyum senyum senang karena penghematan waktu tunggu dengan menyerobot antrian.

Dalam hati, saya bertaruh si bapak serobot ini pasti bangsa sendiri. Soalnya urusan kayak gini udah jadi budaya di negeriku Indonesia tercinta. Terus terang saat itu saya berharap si Jepang enggak ngira ngira kalo saya sebangsa setanah air sama bapak serobot itu (sorry bukan saat nya patriotic kalo begini).

Horee! Tebakan saya betul! Tuh bener kan? Di belakang sang Bapak, ada anggota keluarganya yang ngajak ngomong dia dalam bahasa Indonesia. Sial, malu maluin martabat bangsa aja…

Antri

Gampang banget deh ngenalin sodara sebangsa setanah air sendiri di negeri orang. Liat aja siapa siapa yang kelakuannya seenak udel di antrian, nah kemungkinan besar dia orang bangsa sendiri. Enggak peduli pendidikan tinggi, penampilan necis, professional, wangi, barang yang di pake brand premium semua, tapi kelakuan bias aja teteup norak! Dasar orang kita, kalo namanya antri, ilmu yang di pake ya ilmu kudu, “kudu saya duluan”.

Suatu sore di Mandarin Emeritus, Singapore, sewaktu antri menunggu check out.  Di antrian baru cuma saya duluan. Di meja receptionnya ada satu orang. Emang dasar lemot juga sih reception nya, dan kebetulan yang lagi di layanin orang Indonesia juga di depan saya. Maklum, Mandarin Emeritus ini emang salah satu tempat favoritnya orang Indonesia kalau nginep di Singapore. Anyway, urusannya di meja reseption itu lamaaaa banget, sampe sampe saya curiga ini bapak lagi ngecengin sang receptionist kali ya.

Lima belas menit nunggu, tiba tiba bapak lain, berjas, necis main seruduk ngantri, di depan saya. (Biasa antri raskin kali ya?). Saya coba nahan diri dan cuekin aja dia begitu. Dalam hati saya nebak: ‘lah, pasti bangsa sendiri nih, penyakit turunan, ngantri gak mau tertib’. Kalo ama yang begini, saya jadi pasang muka kenceng, dan secepatnya saya lihat meja check out kosong, saya memotong jalannya si Bapak Anti Antri,  sebelum disela lagi, dengan gagah berani saya bilang, ‘I have been in this queue longer than you …(gue udah ngantri lama-an tau!’). Tuh bener kan bangsa sendiri, dia bilang: “mau check-in ya mbak…”. Hahaha!

Sunday, November 29, 2009

Penumpang dari Neraka

Tulisan yang sama dimuat di:
http://community.kompas.com/read/artikel/2289


Pesawat baru saja mendarat. Lampu Tanda gambar kencangkan sabuk pengaman kursi di atas masih menyala. Suasana sepi, kecuali bunyi pesawat yang perlahan mereda. Tiba tiba suara kapten yang empuk terdengar: “Cabin Crew…” rupanya memanggil semua anggota kabin (pramugara dan pramugari ) pesawat untuk mempersiapkan penumpang keluar pesawat. Lampu bergambar tali pengaman masih menyala beberapa saat lagi. Tapi entah salah dengar, entah para penumpang pesawat merasa merekalah para pramugara dan pramugari, mereka serentak berdiri, tanpa mempedulikan sebenarnya belum waktunya untuk melepaskan sabuk pengaman dan berdiri…

Kelakuan sembrono seperti ini bukan satu satunya yang terjadi menjelang naik pesawat, di pesawat, maupun ketika turun. Banyak hal norak yang dilakukan para penumpang tanpa mengindahkan keselamatan, ketertiban dan etika publik.

Bepergian dengan pesawat masih di anggap sebagai kemewahan. Siapa yang bisa menikmati kemewahan? Orang orang yang secara materi mampu, yang tentu saja seharusnya juga mampu membayar untuk menjadi terdidik. Tetapi kebanyakan dari sikap mereka di pesawat, tidak mencerminkan intelektual, etika dan pertimbangan keselamatan.

Antri dong!
Mari kita mulai dengan antrian masuk. Sebelum masuk pesawat, biasanya terdengarlah suara merdu pengumuman yang meminta para penumpang dengan nomer duduk tertentu untuk masuk pesawat terlebih dahulu. Tentu saja ada alasannya. Para penumpang bisnis tentu karena mereka membayar lebih. Para penumpang dengan nomer duduk besar biasanya terletak paling belakang dekat ekor pesawat. Logis kan, kalau mereka di panggil duluan? Yang repotnya, penumpang bernomor kecil juga ngotot ikut masuk, tak peduli dan mendadak linglung dengan bunyi pengumuman. Yang terjadi adalah kemacetan yang tak perlu dimana penumpang yang akan ke kursi belakang mesti menunggu penumpang garis tengah atau depan bebenah peralatan lenong mereka. Efficiency waktu terganggu secara tidak perlu.
Hand phone
Kecintaan kita pada satu barang itu memang rada rada mengerikan. Kelakuan kita sebagai penumpang pesawat bisa sangat keterlaluan dalam hal handphone, pda, blackberry dan semua gadget yang berhubungan dengan komunikasi. Jelas jelas sudah ada pengumuman “…matikan seluruh alat komunikasi Anda karena dapat mengganggu…”, eh kelihatannya para pengguna ini mendadak jadi tuli tak mengindahkan pengumuman, padahal kedengarannya pembicaraan tak penting deh. “Iya nih say, pesawatnya udah mau take off…” “Kalo ada yang cari bilangin aku lagi ke luar negeri ya!” Mana tahaaan.. kalau sudah begitu saya sering geregetan dan menghayal menjadi pramugari yang kasih announcement. Pasti saya akan bilang: “helo para penumpang, pasti ngerti dong, kalo saya bilang mati-in handphone nya, ya mati-in dong. Gak usah belagak pilon!”.

Kelakuan kita sebagai penumpang juga begitu waktu pesawat mendarat. Baru aja ban pesawat menyentuh tanah, eh udah banyak kedengeran suara tatat tutut, musik, dan klak klik orang membuka handphone dan pda nya. Maksudnya apa sih? Memangnya gatel apa ya kalau nunggu sampai keluar dari pesawat untuk menelpon?
Keselamatan
Mengakulah. Berapa banyak dari Anda yang memperhatikan pengumuman cara-cara keselamatan di pesawat? Paling banter Anda yang baru pertama kali naik pesawat. Atau para lelaki yang senang melihat peragaan keselamatan dari para pramugari cantik, tapi tak ingat apa isi peragaannya. Selebihnya mungkin akan berkata, ‘ah udah tahu kok. Ini kan bukan pertama kalinya aku naik pesawat’. Ya, memang sih, kalau Anda keseringan naik pesawat, mungkin Anda bosan dengan pengumuman yang itu lagi itu lagi. Maskapai penerbangan yang funky seperti Virgin Atlantic punya cara cara yang jitu dan tak biasa untuk membuat penumpangnya menaruh perhatian terhadap pengumuman keselamatan di awal penerbangan. Tapi kalaupun tak ada yang seperti Virgin Atlantic, nikmati saja dan sadarilah, semakin hapal Anda pada langkah langkah keselamatan di pesawat, semakin siap Anda bila situasi darurat disana terjadi dan semakin besar kemungkinan Anda Selamat. Banyak pula dari penumpang yang ajaib dan keras kepala ketika diingatkan untuk tetap di tempat, dan kencangkan sabuk pengaman bila ada turbulence. Ini disebabkan tingkat kesadaran kita terhadap keselamatan secara umum masih parah. Jangan gitu dong Friends, siapa sih yang mau jaga keselamatan kita selain kita sendiri?
Majalah
Nah ini untuk yang hobi baca, biasanya melihat banyaknya majalah yang di display di dinding sekat dekat lavatory, banyak yang lantas jadi kalap. Alih alih mengambil satu atau dua majalah, dirauplah semua majalah yang ada di display. Perkara suka atau tidak urusan belakang, jangan sampai keduluan. Tinggallah penumpang lain yang gigit jari melihat tempat majalah sudah kosong.

Masih mendingan kalau setelah baca, majalah itu di kembalikan ke tempatnya supaya penumpang lain bisa menarik manfaatnya. Saking ogah rugi nya merasa sudah bayar tiket pesawat, lebih sering majalah diam diam sudah masuk ke tas mereka, dan raib selamanya dari pesawat. Kalau di lihat sih, penumpang yang membaca Time, Business Week, Forbes, etc seharusnya penumpang yang intelek yang tidak norak norak banget sama majalah begituan, gengsi dong kalau harus ngembat, harganya kan gak seberapa gitu loh!

Toilet
Untuk penerbangan beberapa jam sih mungkin kekurang ajaran penumpang tidak terlalu kelihatan. Tapi bayangkan kalau Anda harus terbang dari Jakarta ke Seoul atau San Francisco, pasti terasa tersiksanya kalau terpaksa harus masuk ke toilet super sempit yang bau nya minta ampun karena tetangga baru saja melancarkan serangan berbau jengkol di tempat yang sama. Belum lagi kalau sisa sisa koktail kuningnya masih tertinggal disana untuk Anda membereskan nya. Hiii! Saya sering enggak ngerti apa yang ada dalam pikiran orang orang seperti ini. Apa balas dendam karena mereka sering menemukan hal yang sama? Atau sama sekali tak peduli akibat nya terhadap orang lain?

Sebagai penggemar setia toilet, saya pasti akan selalu cek dan re-cek sebelum keluar dari tempat keramat itu. Masih bau kah? Masih ada yang tercecer-cecerkah? Kalau bukan kita, siapa lagi sih yang mau memelihara kebersihan di tempat keramat itu? Tidak ada tukang bersih WC yang di bayar untuk bepergian di udara khusus untuk bersihkan WC. Dan kasihanilah para pramugari cantik itu, kalau mereka mesti bau jengkol setelah membersihkan sisa sisa perjuangan Anda di toilet…

Tetangga dari neraka
Pernah kah Anda satu pesawat, duduk dibarisan yang sama dengan seorang penumpang utusan neraka? Well, sebenernya bukan juga utusan neraka, tapi orang itu membuat kenyamanan Anda terasa seperti di neraka. (MEmangnya pernah kesana apa?). Apa sih sebenarnya ciri ciri dan contoh penumpang utusan neraka?

Mari kita mulai dengan para penumpang yang bermasalah dengan bau badan dan bau kaki. Kurang sadar diri membuat mereka pede saja dan tidak merasa bau badan atau kaki mereka merangsang penumpang lain untuk muntah, atau pusing.

Saya biasanya sedia parfum botol kecil yang handy dengan wangi halus dan bisa di selipkan di kantong atau tas tangan. Ini akan membantu setidaknya menangkis bau badan tetangga duduk saya itu. Saran saya sih, lakukan cek apakah Anda punya masalah dengan bau badan. Pakailah roll on sebelum bepergian. Paling tidak ini akan mencegah orang menutup hidung di depan Anda.

Ada juga sih yang memakai wewangian extra keras sepertinya penumpang ini baru saja tercebur di tong percobaan pabrik pewangi.. hati hatilah memilih pewangi kala bepergian apalagi di pesawat di mana kedekatan fisik antar penumpang tak bisa di hindarkan. Sadarilah banyak juga orang yang menderita reaksi alergi terhadap wewangian tertentu.
Asyik Masyuk
Duduk di dekat pasangan yang punya gelagat akan berasyik masyuk juga tak enak, apalagi kalau Anda sendirian dan penerbangan waktu lama. Tak ada teman berbagi haha hihi sebagai balasan terhadap pasangan yang pamer kemesraan di samping Anda.

Saya pernah mendapatkan tempat duduk bersama pasangan muda di penerbangan Vancouver – Singapore. Sepanjang perjalanan saya Cuma bisa menelan air liur mendengarkan bunyi clepat clepot dan desah desah tak karuan. Entah apa yang terjadi dengan gerakan gerakan tak karuan di balik selimut itu. Yang jelas saya jadi gerah, meskipun temperature pesawat cukup dingin.

Jadi jika Anda bepergian berpasangan dan berniat bermesraan di pesawat, tolonglah sedikit berperasaan dengan tetangga satu barisan. Atau Anda secara tak sengaja akan menciptakan neraka pada tetangga duduk itu, Anda yang senang senang sementara dia menderita.

Ada juga tetangga penumpang yang rada norak dan membunyikan ipod atau MP3 nya dengan suara keras, meskipun ini jarang terjadi. Dalam salah satu penerbangan panjang dari Moskow ke Singapore, seorang penumpang anak muda mengeluarkan portable dvd player dan mulai memasangnya. Anehnya, bukan memakai earphone, dia membiarkan suara film koboy ala Rusia yang seru itu berdentam dentam sehingga penumpang di radius 3 barisan pun mendengarnya.

Sayang tidak ada satupun yang bergerak untuk mengingatkannya. Masuk akal juga karena sebagian besar penumpang lain di radius tersebut terlena dalam tidur mereka. Tapi tidak dengan saya. Suara itu terlalu mengganggu, tapi saya terlalu sungkan menegurnya, khawatir dia akan meninju saya. Ini memberi kesempatan saya untuk sedikit ngelaba ke salah satu pramugara ganteng di pesawat dan meminta dia menegur penumpang norak itu. Jangan sungkan meminta tolong pramugara dan ri bila Anda menemukan penumpang dari neraka, biarkan mereka dengan keahliannya mengkomunikasikan masalah ini.

Pikir punya pikir, kasihan sekali para pramugara dan pramugari menghadapi banyaknya ulah para penumpang dari neraka. Coba deh introspeksi diri, apakah Anda salah satunya?

Ngobrolin Toilet

Tulisan tentang toilet dan kita ini bisa juga dibaca di
http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/26/700/ngobrolin_toilett

Menurut hasil riset di beberapa situs internet terpercaya, rata rata orang di dunia menghabiskan 3 tahun dalam hidupnya melakukan bisnis ini, besar dan kecil, di suatu tempat yang sangat pribadi. Bisnis dan kegiatan ini juga sangat pribadi hingga biasanya kita tidak mau berbagi dengan orang lain, betapapun dekatnya hubungan kita dengan orang lain itu. Sayangnya seringkali bisnis ini memang benar benar kotor dalam arti sebenarnya.

Dalam disiplin manajemen waktu, bisnis ini biasanya berada di kwadrant 1, penting dan mendesak, sekarang ya sekarang, tak bisa ditunda lagi. Penundaan akan berakibat fatal, gawat dan memalukan… Saya sedang bicara tentang bisnis Toilet. Siapa yang tak kenal dan tak sayang yang satu ini? Sebagai salah satu tempat yang paling penting bagi hidup kita, seberapa besar kita memberi perhatian kepadanya, terutama di ruang publik? Karena pentingnya bisnis ini, marilah melakukan perbincangan T, Toilet dan membahas bagaimana kegiatan toilet ini bisa berlangsung nyaman dan sukses, terutama saat kita di ruang publik.. Inilah beberapa tips yang bisa kita lakukan:

1. Gunakan waktu T ini semaksimal dan se-spesial mungkin.
Jika Anda seperti saya, pengguna aktif dari toilet, pasti Anda menghabiskan lebih dari hanya 3 tahun saja dari hidup Anda berurusan dengan toilet. Menggunakan waktu sebanyak itu hanya untuk satu kegiatan saja, bukan tindakan yang pintar. Mari kita nyambi, multi-tasking, melakukan banyak hal di saat yang sama. Lagipula secara biologis, kita memang di disain untuk multi-tasking. Bawalah buku, laptop, buku catatan, handphone, MP3, apa saja yang bisa membuat waktu kita berlalu secara efisien disana. Saya sendiri sering harus membawa buku bacaan atau buku catatan kalau kalau inspirasi mendadak datang saat saya menunaikan tugas mulia dan besar di toilet itu. Dengan catatan, jangan lakukan ini di toilet basah ataupun di mall-mall yang punya toilet kotor, basah dan sekedarnya, bisa repot. Hati hati juga dengan penggunaan handphone pada saat menunaikan tugas besar di toilet. Seringkali saya mendengar percakapan tetangga toilet, baik di kantor maupun di mall. ‘Halllooo hheee yaaa,’ (brruuuttt, serrrrr) ‘Hah, apa? Enggak kok, bukan bunyi apa apa, aku di restoran kok…’

Toilet adalah satu satunya tempat dimana kita bisa jujur dan menjadi diri sendiri, tanpa harus pikir pikir tentang ja-im jaga image. Tempat persembunyian yang tepat dari tamu tamu kantor yang tak di kehendaki, atau saat ingin menghindar dari boss dan rekan kerja. Pendek kata, toilet adalah tempat yang kaya akan inspirasi. Banyak perempuan seperti saya yang membuat toilet sebagai tempat menumpahkan gossip, tangisan dan kemarahan bila perlu. Bahkan juga melakukan hal hal terlarang seperti merokok dan ngobat. Dengan catatan, saya tak pernah melakukan keduanya, baik di toilet atau dimanapun. Toilet adalah saksi bisu yang baik hati, gunakan waktu disana se-spesial mungkin.

2. Bersiaplah, Selalu Bersiap…
Jika Anda pergi ke tempat umum seperti pusat belanja, pilihlah yang punya persediaan toilet cukup banyak, berfungsi, dan bersih, cukup air dan kertas toilet. Jangan hanya lihat dari megahnya sebuah bangunan mall. Kebanyakan mall di Jakarta punya kapasitas toilet yang menyedihkan baik secara kondisi maupun pemeliharaan. Jika tidak memasukkan faktor toilet ke dalam pertimbangan tempat berbelanja, percuma juga, Anda tak akan menikmati belanja mata dan dompet anda secara maksimal. Apalagi jika kita tanpa ba-bu lagi langsung menunaikan tugas besar, karena kwadrant 1 tadi, you gotta go when you gotta go, padahal ternyata tak ada air, dan kertas toilet habis. Hayo, mau bilang apa? Keluar dalam keadaan kotor dan bau? Hiiyyy. Jadi bersiaplah selalu dengan membawa air di botol minum, kertas tissue, dan botol pembersih tangan yang mengandung alkohol di dalam tas Anda, jika bepergian.

Jika kita bepergian jarak jauh dengan pesawat, kereta, atau bis, kenali dimana lokasi toilet berada. Dan sedikit trik mungkin akan membantu. Jika bisa, lakukan tugas toilet Anda sebelum jam makan. Latihlah tubuh dan perut Anda untuk siap beraksi pada jam jam tak biasa, dimana kebanyakan orang lain sedang tertidur atau tengah makan. Ini dapat membantu mengurangi waktu antrian karena orang biasanya akan bertugas ke toilet setelah waktu makan.

ada salah satu penerbangan panjang non-stop ke salah satu negara di Utara, saya belajar trik baru yaitu memesan makanan saji vegetarian saja. Bukannya saya senang sih, tapi biasanya makanan khusus begini akan diberikan kepada kita jauh lebih dahulu daripada makanan normal untuk para penumpang lainnya. Jadi pada saat orang baru menerima nampan makanannya, saya sudah selesai makan, siap beranjak ke kerajaan toilet itu, dan menjadi ratunya untuk waktu lama, dan nyaman buat saya. Meskipun sepanjang 20 jam perjalanan ini, saya mesti puas dengan makanan vegetarian saja hahaha.

3. Tanggung Jawab Sosial
Memimpikan toilet umum yang bersih di ruang public seperti di mall, restoran, pasar tradisional, stasion, bandara dan lainnya mungkin masih jauh panggang dari api. Utamanya hal ini disebabkan fasilitas yang tidak memadai atau rusak, kurangnya pemeliharaan, dan tanggung jawab kita sebagai pengguna.
Banyak dari toilet duduk di mall atau airport menjadi ajang kreatifitas dan ekspresi seni para penggunanya yang selain meninggalkan airseninya, juga meninggalkan seni tapak sepatu di dudukan toiletnya, toilet tissue yang bertebaran di mana mana, dan air yang bercipratan di sekelilingnya. Ini banyak ditemui di tempat publik di negeri kita, bahkan di kantor kantor pun terjadi juga.

Pengguna toilet di tempat umum banyak mengandalkan belas kasihan dari pengguna sebelumnya. Jika orang sebelumnya seniman jadi jadian yang meningggalkan berbagai ekspresi seni disana, sial-lah kita, mungkin terpaksa membersihkan sebelum digunakan kembali, atau membatalkan janji temu toiletnya.

Saya sendiri termasuk orang yang sering bernasib apes di toilet. Di beberapa toilet umum, saya terpaksa membersihkan bekas bekas perjuangan orang lain, karena saya harus menggunakannya. Awalnya saya sering menggerundel, lebih karena kekesalan dan tak habis pikir, kenapa seseorang, utamanya perempuan, sampai sebegitu tidak pedulinya, meninggalkan sisa perjuangan di toilet umum, tidak malukah? Tidak kasihankah pada pengguna berikutnya?

Suatu saat saya sedang berada di ruang bawah pusat belanja negara tetangga kita, ketika tiba tiba kebutuhan toilet datang. Tanpa melihat lihat lagi, saya duduk di salah satu toilet disana, untuk menunaikan tugas besar. Kebanyakan toilet di negara kota ini, mempunyai sensor gerakan yang sensitif, sehingga, jika kita bergerak sedikit saja ketika duduk di sana, secara otomatis, air akan mengguyur mangkok toilet, mengirim semua yang ada disitu ke dasar bumi. Itulah yang saya lakukan, bergerak gerak dan mendapat respon yang cukup bagus, air menyiram sendiri… tapi ketika saya cek dasar toilet, ya ampun macet! Ada segulungan besar kertas toilet yang menyumbat, sementara diatas kertas itu, hasil karya besar saya berenang dengan santainya. (maaf!)

Rupanya orang sebelum saya, melempar setumpukan kertas toilet ke dalam lubang toilet, dan masih bertengger disana. Air naik ke permukaan, saya harap harap cemas tidak ada banjir yang membawa hasil karya besar saya keluar dari toilet. Selama lebih dari 30 menit saya harus menyiram berkali kali dengan sia sia. Setiap kalinya saya mesti menunggu air surut, tapi kertas toilet dan hasil karya saya tetap disana.

Saya putus asa, dan tak berani meninggalkannya, khawatir orang lain yang menemukan pemandangan tak indah disana akan menyumpah serapah. Guru Meditasi saya bilang, hindari energi negative yang tidak perlu, yang bisa saja datang ke kita karena perbuatan kita kepada seseorang, baik disengaja atau tidak. Saya tak mau sumpah serapah orang akan memberikan saya energi negative yang tak perlu, jadi saya tunggui air pasang surut disana. Saya sempat hilang akal. Sampai akhirnya saya temui petugas kebersihan toilet yang baru saja kembali. Saya jelaskan masalahnya kepadanya, dan meminta maaf saya tak mampu menyelesaikan. Sambil membawa peralatan kebersihannya, dengan gagah perkasa, dia bilang, ‘Aaah, don’t worry. Chill out laaah, leave it to me ha…’ tangan nya mengelus lengan saya dengan penuh simpati, mungkin dia iba lihat keringat berkeleleran di dahi dan hidung saya turun perlahan… padahal ruang itu ber-AC.

Semoga itu kejadian sial terakhir yang saya alami dalam petualangan toilet saya. Insiden ini mengajarkan saya untuk lebih hati hati memilih toilet dan menggunakannya. Cek dan cek ulang, sebelum dan sesudah, akan menjamin berkurangnya rasa frustasi yang tak perlu. Dan jangan lupa, pada saat kita di ruang umum, kita punya tanggung jawab sosial. Bersihkan sendiri kotoran kita, dan jadilah pengguna toilet umum teladan. ***