Monday, November 30, 2009

Ih Jorok AH!

Tulisan ini juga termuat di: http://community.kompas.com/read/artikel/2612

Gara garanya buku terjemahan ‘Embroidery’ Bordir, itu buku komik lucu dan jujur keluaran Gramedia, tentang apa apa yang sering diomongin para perempuan di Iran kalau mereka kumpul kumpul. Saya membawa buku tersebut ke pantry kantor di jam istirahat makan, berharap mendapatkan tawa ria dari teman-teman ketika membahas buku ini untuk ngurangi stress dan bikin awet muda.

Sewaktu pembicaraan lagi sampai ke ‘banyak ibu ibu yang belum pernah melihat alat vital suaminya meskipun bertahun tahun berumah tangga, ‘ semua terbahak, dan bertanya sendiri:
“masa’ sih?”
“Ih rugi amat!!!...”
“ya mungkin karena suasananya gelap melulu, mana bisa lihat…”

Jadi lah kami mulai ngobrol masalah budaya keterbukaan bagi perempuan di Indonesia dan Iran tempat latar belakang buku ‘jorok’ (ingat, ini dalam tanda kutip) Bordir itu. Tapi baru saja tawa mereda, salah seorang anggota pantry yang rada serius dan alim, sebut saja Gadis langsung memotong dan menghentikan makannya.

“Udah ah, aku jadi nggak selera makan nih!!” dan seketika dia menghentikan makannya. Reaksi nya membuat semua yang mengelilingi meja bundar terdiam.

Tawa hilang, yang ada kecanggungan. Irma teman saya yang lain terburu buru minta maaf pada Gadis. Sementara dalam hati saya nyap-nyap. ‘ih kalau enggak suka dengerin ya pergi aja dong..’. Harapan saya sia-sia. Gadis tetap duduk di tempatnya. Akhirnya saya yang terpaksa ngeloyor meninggalkan pantry daripada mengalami ‘gegar emosi’. Beberapa orang lain juga ngeloyor pergi melihat suasana nya sudah enggak lucu lagi padahal waktu istirahat masih ada…

Berlanjut sekembali ke ruang kerjaku, laptop ku berbunyi ting-ting, tandanya ada IM Masuk.
“Mbak, sorry ya tadi di pantry, jadi gak enak..gara gara aku ya?”
“Lho Ellen kok ge-er gitu si? Emang kenapa?”
“Soalnya tadi aku kan quote kata kata ‘testis’ dari buku Bordir itu…”

(Haduh Ellen, testis itu kan kombinasi dari tes, sama betis, jadi gak apa apa lah, kata saya dalam hati…)

“Ellen, ini bukan soal elo kok, nyantai aja deh…”

Obrolan Jorok
Bagi teman saya yang tidak setuju obrolan di pantry itu, mungkin menganggapnya sebagai omongan jorok yang menjijikkan sampai sampai dia tak tega meneruskan makan. Jorok itu sebenarnya kayak apa sih? Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapi dan dalam konteks apa. Kalo omongnya kayak novel stensilan sih yang jelas jorok lah, tak pantas di omongin di pantry kantor. Salah salah nanti kena Code of Business Conduct, itu tuh kode etiknya dan bisnisnya perusahaan tempat saya menjadi kuli. Salah satunya jika ada orang yang terlalu nyentrik dan menyinggung orang dengan kata katanya, maka dia bisa aja kena Code ini.

Tapi yang namanya di pantry ini omongan bisa apa aja, dari gossip selebriti sampe gossip temen sendiri. Tidak pernah sampai keterlaluan sih, gossip temen sendiri jarang jarang terjadi. Kadang juga kami menggosip kebijakan kantor yang masih belum di mengerti …Tapi yang lebih sering, pantry ini menjadi tempat obrolan pendidikan sex yang aman bagi para perempuan di kantor kami. Ada beberapa pembicara ‘La Rose’ di pantry ini, dan biasanya saya menjadi salah satunya. Kebanyakan cewek pantriers ini biasanya sepakat tanpa diskusi lagi tentang obrolan kecil kami disini. Kalaupun sesekali terlalu nyerempet, biasanya kami semua sepakat menyudahi tanpa ada yang tersinggung..

Kontroversi Jorok
Hari berikutnya, pantry di jam makan siang sudah penuh lagi dengan anggotanya. Nah mumpung ada Gadis di pantry hari ini, saya pingin membagi sudut pandang saya yang berbeda darinya tentang definisi jorok.
Jorok itu adanya di benak (ini bukan omongan ilmiah, jadi kalau tanya letaknya benak di mana, ya saya tak tau. Cari aja ‘ndiri, harusnya sih tiap orang punya ya, kecuali orang tak waras!). Jadi jika kita bicara satu kata, dimana seseorang memandang itu sebagai istilah biologi, sementara yang lain melihat kata itu sebagai tabu dan jorok, ya, susah juga. Kita tak bisa memaksa. Tapi setidaknya, ya si orang yang punya definisi ketat ini mesti jaga jaga diri sendiri, dan tidak bisa berharap semua orang mentolerir dirinya, bila dalam suatu grup kebanyakan orang punya pandangan yang bertolak belakang dari pandangannya.

Jorok itu adanya di benak. Contohnya, ada banyak istilah yang dipakai untuk menggambarkan bagian tubuh kita yang paling private. Beberapa disamarkan, beberapa sangat gamblang. Tergantung konteks dan situasinya. Rasanya sulit berharap dokter kita akan bilang, “Bu, Ms V ibu normal aja kok”, atau “Jadi, burung Bapak bermasalah?”. Malah mungkin ini bisa merunyamkan suasana, apa-apaan dokter kok omongnya begitu?

Bahasa tulisan juga akan lain lagi. Tak bisa berharap, setiap kalinya ada kata kata yang kekiri-kirian, penulis selalu minta maaf. Memangnya lebaran? Bagi saya sendiri, jika tulisan itu adalah tulisan ilmiah tentang sex, kenapa pula harus menggunakan sandi seperti Ms V dan Mr P?

Apanya Yang Jorok?
Omong omong jorok, mengingatkan pengalaman saya semasa sekolah dasar, kelas 4 SD. Masa itu, anak-anak jauh lebih polos daripada anak sekarang. Hobby saya membaca tersalurkan salah satunya dengan membaca koran, yang sekarang sudah tak terbit lagi. Tulisan apapun di koran itu biasanya saya lalap, meskipun mungkin tak bisa dimengerti. Dan sayapun sering tak malu bertanya di sekolah. Pagi itu, setelah membaca sebuah artikel pendek di koran, saya bertanya kepada guru saya, Pak Syahril.

“Pak, boleh tanya? Buah zakar itu seperti apa ya pak? Kok saya belum pernah lihat di pasar”. Pak guru Cuma mesem-mesem saja. Dan dia bilang:”Tanya saja sama orangtuamu…”

Keesokan harinya, ibu saya dipanggil oleh pak Syahril, untuk memberitahu pertanyaan aneh saya, dan menyatakan keprihatinan, karena mungkin saya bermasalah. Kecil kecil kok tau-tauan buah zakar. Ibu saya yang tak tahu juntrungannya menginterogasi saya: “Dari mana kamu dengar istilah itu…?” Oalah! ibu saya saja tak tega memakai kata itu di depan saya. Dengan polosnya saya jawab: “Saya baca di koran langganan Bapak, ada pencangkokan buah zakar yang pertama di dunia. Saya pingin tahu buah zakar itu seperti apa. Siapa tahu kita bisa tanam…”

bu saya tak habisnya tertawa, dan pengalaman itu tak terlupakan sampai sekarang.

Kisah Guru: Siapa Yang Jorok?
Jadi, jorok itu ada di benak. Saya akhiri dengan kisah yang saya kutip dari buku komik berlatar budaya Tionghoa terbitan Gramedia yang saya baca bertahun tahun lalu. Maaf saya lupa judul bukunya. Kurang lebihnya, terima saja, maklum, saya penutur amatiran.

Dikisahkan seorang guru yang alim dan menjauhi dunia diikuti oleh seorang muridnya yang penasaran dengan kealiman sang guru. Sang murid bermaksud mengamati setiap langkah dan tindakan gurunya, untuk mempelajari. Dalam satu perjalanan, mereka harus menyeberang sungai, sementara di tepi sungai sedang duduk seorang perempuan cantik yang nampak kebingungan. Dia ingin menyeberang, tetapi terlalu takut untuk melakukannya sendiri. Sang guru menawarkan untuk membantu perempuan itu menyeberang dengan cara menggendong di punggungnya.

Sesampai di seberang, perempuan cantik itu mengucapkan terimakasih yang diterima dengan takzim oleh sang guru, lalu mereka meneruskan perjalanan. Sang murid yang masih terheran heran, berpikir: ‘Kenapa guru sigap sekali menawarkan bantuan untuk menggendong perempuan cantik? Kenapa tak diserahkannya ke saya? Wah, ternyata beliau suka ngelaba juga, pikirnya. Dasar tua-tua keladi! Tergoda juga dia pada perempuan cantik. Haduh, kenapa saya kurang sigap tadi ya? Coba kalau saya yang menggendongnya, hmm alangkah nikmatnya…’ pikirannya berandai-andai…

Tak tahan hatinya, dia sampaikan unek-uneknya pada sang Guru. “Guru, kenapa sih, tadi Anda menggendong perempuan muda cantik itu. Tuan Guru kan seorang suci, kenapa masih tertarik kepada perempuan? Saya kan lebih muda, kalau saya yang gendong kan paling tidak saya beruntung.”

Dengan tenang sang guru menjawab:
“Aku tidak menggendong perempuan. Aku menolong seorang manusia. Sementara kamu, muridku, kamu lah yang masih menggendong perempuan itu sampai saat ini, di dalam benakmu…”

Jorok itu adanya di benak. Bisa saja mata fisik memandang sebatang pohon beringin yang seram, tetapi benak berpikir di balik pohon rimbun itu ada seorang cewek cantik telanjang tersenyum menggoda, melambaikan tangan nya ke arah Anda. Hayo, siapa yang jorok, kalau begitu?

Bukan salah tulisan, bukan salah ucapan, jinakkan saja benak itu…

Sunday, November 29, 2009

Kawan Istimewa Berbulu (atau Tidak)

Tulisan yang sama ada di: http://community.kompas.com/read/artikel/2513

Leher saya hampir saja tercekik karena kaget ketika tetangga teman memperkenalkan Petunia, layaknya memperkenalkan anggota keluarga. Si Ibu yang memperkenalkan Petunia bilang kalau dia ‘cute’. Saya sendiri masih tertegun tegun menyadari kalau nama cantik bunga asal Amerika Selatan itu, Petunia, sungguh terlalu cantik untuk babi Vietnam tambun yang jelek dan hitam itu (ah saya juga hitam kok, tapi tidak jelek hehe).

Petunia hidup di dunia yang berbeda yang tak kan pernah terbayangkan oleh kawan kawan babi nya di Vietnam sana. Sebagai bagian dari keluarga tetangga teman saya di Amerika Utara, dia tak perlu khawatir akan diubah menjadi bacon yang lezat untuk sarapan pagi ala Western.

Petunia adalah salah satu fenomena aneh yang saya jumpai pertama kali saya bersinggungan secara intim dengan budaya Barat. Banyak saya jumpai orang orang yang mencintai dan merawat hewan peliharaannya dengan cara luar biasa. Begitu luarbiasanya mereka punya pesta ulang tahun, kunjungan ke dokter, leha leha di salon… Begitu luarbiasanya, biaya makanan dan perawatan mereka per bulannya bisa setara dengan pemasukan upah buruh Indonesia. Mainan mereka jauh lebih banyak dan mahal dibandingkan mainan kuda kudaan anak desa Indonesia yang cuma dari pelepah pisang. Pendeknya, hidup itu nikmaat untuk para hewan peliharaan ini…

Lihatlah para pesohor Hollywood yang kemana mana sering membawa anjing nya, baik di keranjang, digendong seperti bayi, maupun di ajak berjalan jalan. Banyak dari sahabat berkaki empat ini memakai pakaian (baju, topi, jaket, kalung) setrendy sang empunya. Saya rasa kalau mereka bisa bicara, mereka akan menjerit. ‘Dasar manusia! Tak punya perikebinatangan. Masak aku sudah punya bulu tebal masih harus berjaket sih…’

Di salah satu saluran TV international, ada salah satu program untuk menguji coba bagaimana hewan peliharaan dapat membantu orang connected dengan orang lain. Pria dalam eksperiment ini merasa tidak menarik dan kurang percaya diri. Produser TV memberinya anjing yang ganteng untuk jalan jalan sepanjang pantai California yang ramai dengan cewek cewek seksi dan cantik. Seperti diharapkan, banyak cewek yang memandangnya dengan tatapan kagum. Well, sebenernya sih tatapan kagum itu lebih ke anjing yang ganteng itu. Tapi hal ini menumbuhkan rasa percaya diri cowok kita ini.

Beberapa cewek yang rada agresif, juga sempat teriak padanya. “I will marry you for the dog!” Wah rasa terbang ke langit deh! Para cewek ini mungkin merasa, kalau seorang pria begitu telaten mengurus hewan peliharaan, seperti pria dengan anjing ini, pastinya dia juga akan sabar dan telaten mengurus kita kita, istri, pacar atau tema mereka…Lucu ya, peran mak comblang sekarang bisa dilakukan oleh hewan peliharaan.

Cerita yang berbeda tentang rasa cinta kita terhadap peliharaan di-ilustrasikan di sebuah acara berita TV setempat. Seorang gadis yang hidungnya sempat dikunyah oleh anjing bulldog peliharaannya sendiri, ditanya oleh reporter. Jawabannya singkat, padat dan jelas. Anjing itu tak bersalah. Dia mungkin sedang melatih hak dan nalurinya sebagai binatang buas. ‘Saya tidak marah, dan masih sayang…’ ujarnya. Wow! Indahnya rasa cinta yang memaafkan.

Selain merekat persahabatan dan percintaan, hewan peliharaan bisa juga memisahkan kita dari koneksi dengan orang tercinta kita. Banyak contohnya. Salah satunya saya. Ini kejadian bertahun silam. Putus cinta gara gara kucing. Sebenernya sih, tidak secara langsung disebabkan hewan peliharaan, tapi karena opini saya yang tertulis di majalah internal kampus, Asia Ink.

Dalam tulisan itu, saya menyatakan opini sepihak bahwa banyak dari orang Barat yang memberikan kasih sayang dan atensi berlebihan terhadap hewan peliharaannya. Sesuatu hilang dari hidup mereka, rasa percaya, persahabatan dan hubungan sesama. Mereka bisa lebih kesal karena seorang teman memecahkan gelas anggur di pesta mereka tetapi merasa terhibur dengan anjing dan kucing yang asyik menggaruk garuk sofa kulit Italia mereka yang mahal itu.

Salah satu opini saya yang heboh adalah kenyataan semu di mata saya bahwa banyak orang Barat yang hidup memisahkan diri dari komunitasnya, dari sesama manusia. Tidak tahu siapa tetangga sebelah. Gampang curiga bila seseorang asing mendekati mereka di jalan. Kini mereka mengganti apa yang hilang dari hidup mereka dengan kawan istimewa, mahluk mahluk lucu dan seram yang tak kan curang, tak menipu, jujur dan super setia.

Nah, opini sepihak saya di majalah kampus itu, akhirnya jatuh ke tangan beberapa teman bule saya yang kecewa dengan pandangan sempit saya. Yang paling parah, berita ini jatuh ke tangan pacar saya waktu itu, yang adalah seorang pilot, bukan mahasiswa. Dia kebetulan punya sepasang kucing Persia yang lucu. Dengan ringannya, di putuskannya hubungan percintaan kami. Dia pikir saya tak dapat di percaya. Dia pikir, rasa sayang saya pada Ruby dan Flo, sang kucing itu, adalah aksi pura pura. Biarpun tidak terbukti. Biarpun sewaktu dia pergi ke luar negeri sebulan, sayalah yang mengurus buah hati nya itu, dan mereka sehat sehat. Saat itu saya berharap para kucing itu bisa membantu membela diri saya…apa daya mereka tak bisa sembarang bicara. Meooongg…

Baiklah, itu kan kesan pertama saya berinteraksi dan hidup di dunia yang berbeda, jadi wajar dong kalau sedikit mengejutkan buat saya. Sekarang saya akan coba lebih adil memandang. Tidak semua orang Barat hidup teralienasi dari komunitasnya. Bahkan bisa terjadi orang kita sendiri lebih lebih mengasingkan diri dari lingkungannya. Tergantung banyak faktor seperti kelompok budaya, siapa kita, tingkat sosial ekonomi kita dan di mana kita tinggal.

Kalau mau jujur cara Barat dan cara orang kita, Indonesia, memperlakukan tetangga, bersosialisasi dengan sekitar, juga tak jauh beda. Dan cara kita memperlakukan hewan peliharaan sebagai sahabat, juga setali tiga uang. Konon banyak orang yang perlakukan peliharaannya seperti anjing, kucing, burung (ini burung beneran lho!) secara super istimewa, dimandikan, dirawat, dielus-elus, dan diberi makan mahal. Bahkan banyak pula dari kita yang saking sayangnya dengan kawan istimewa ini, melupakan hak keluarga dan hak sosial orang orang di sekeliling kita.

Untuk saya sendiri, kenyataan baru sungguh mengejutkan, tulisan saya di Asia Ink itu seolah berbalik arah. Karma. Kini saya adalah pemelihara hewan berkaki empat yang lucu yang biaya makan dan dokternya bahkan melebihi uang SPP anak sendiri. Yang ongkos groomingnya lebih mahal dari ongkos creambath kepala saya di salon. Nah Lho! Tau rasa deh. Karena itulah saya bertekad mencari keseimbangan sembari mengurangi rasa bersalah telah membiayai kucing, padahal saya mampu membantu biaya sekolah anak tetangga dan kerabat. Mungkin pula karena selfish dan malu hati, jadi salah satu cara membayarnya yah bertekad mengalokasikan biaya bukan hanya untuk miss pet, tapi juga untuk anak anak tak mampu di sekitar saya.

Solusi Instan? Bener Nih?

Tulisan yang sama dimuat disini: http://community.kompas.com/read/artikel/2431

Mi instan? Sedap!… Kopi instan? Hmm mantap! Tapi kalau Anda punya masalah, apakah ada jalan keluar yang instan? Saya ragu deh. Tapi seorang saudara dari teman saya ini percaya, ada jalan keluar yang instan (meskipun kalau di pikir dengan akal sehat, sebenernya juga bukan instan lah).

Sebut saja namanya Gadis. Dia bekerja di sebuah bank swasta. Pekerjaan sehari-harinya termasuk memindahkan uang dari satu tempat ke tempat lain dan membuat laporannya. Di akhir hari, dia harus memastikan bahwa laporan neraca dan keuangannya seimbang. Uang yang keluar harus seimbang dengan yang masuk. Tidak ada document yang terselip, tidak ada uang yang hilang. Sejauh ini, dia melakukannya dengan baik. Gampang banget, yang penting jujur, pikirnya. Sampai suatuketika…uang sejumlah 30 juta raib dari mejanya. Tak ada bukti uang keluar. Tak ada dokument yang mendukung, tak ada sisa sisa bau 30 juta itu di sekitar ruang kerjanya.

“Ya ampun, kemana ya? Perasaan udah aku cek di mana mana, dan aku enggak korup deh. Wah apa kata orang nih, apalagi boss ku! Pasti aku di tuding tidak becus kerja dan enggak bisa di percaya. Sebaiknya aku tunda laporan dulu deh siapa tahu ada jalan keluar beberapa hari lagi …” pikir Gadis ini bingung, dan kesal.
Begitulah. Beberapa hari si Gadis murung dan muram. Belum juga ketahuan kemana lari nya uang itu. Tergoda juga dia untuk nomboki dari kantong nya sendiri. Dia berhitung hitung, dengan bantuan tokek di dinding, to..kek…ganti, to…kek… enggak, to..kek… ganti. Tapi, uang sekian banyak memangnya segampang mencabut bulu ketiak. Cabut bulu saja, kalau tak hati hati sakit lah…apalagi cabut duit dari rekening bank untuk nomboki kehilangan, bisa sakit lah hati ini…

Setelah dua hari tanpa jalan keluar, akhirnya dia menyerah, dan berpikir untuk mencari jalan keluar instan yang dipikirnya paling gampang dan aman. Dia pergi menemui seorang pintar, yang dianggap bisa membaca dan melihat diluar batas baca buku dan lihat lihat belanjaan…Dia pergi ke Ki Dukun, bukan Dik Dukun seperti Ponari.

Tentu saja, mana ada dukun yang katanya tidak punya kemampuan supra natural. Kalo begitu bukan dukun namanya. Baiklah, Ki Dukun bisa membantu memberitahu kemana perginya uang itu. Kalau dicuri, dia akan memberi tahu siapa sang pencuri nya. Hanya saja, dia tidak bisa mengucapkannya langsung dari mulutnya sendiri. Jadi Si Gadis harus membawa seorang wanita tua ke tempat prakteknya Ki Dukun. Melalui perantaranya, sang wanita tua akan bisa melihat apa yang terjadi sekali longok ke dalam tempayan butut berisi air di ruang praktek yang rada suram dan seram itu.

Si Gadis sangat optimis dia akan bisa menemukan, atau setidaknya tahu apa yang terjadi dengan uangnya lewat kesaktian sang Dukun. Dan uang 30 juta sebagai motivasi, jelas membuatnya hilang akal sehat. Dengan bujuk rayu, dia sanggup membawa neneknya yang sudah mulai rabun untuk pergi ke tempat si Aki. Sialnya, seberapapun sang nenek berusaha melongok ke dalam tempayan berisi air itu, dia tak mampu melihat apapun selain riak riak air dan dasar tempayan yang berdaki itu. Yah, apalagi dengan matanya yang rabun senja begitu…

Aki Dukun dengan yakinnya menyatakan bahwa si nenek tak bisa melihat apa yang terjadi di air disebabkan karena kurang bersihnya hati si nenek. (Kurang ajar juga ya sang Aki, menghina nenek-nenek..). Si Gadis hanya bisa pasrah dan mendongkol neneknya dihina sedemikian rupa. Maklum, dia masih membutuhkan dukun itu.

Akhirnya sang Dukun meminta seorang anak kecil yang secara kebetulan tiba tiba ada disana, seperti sudah di rencanakan saja. Tak seorangpun tahu siapa anak kecil itu. Mungkin dia bagian dari rencana rahasia sang dukun. Akhirnya si anak kecil ini pun melongok ke dalam tempayan dan mulai bercerita:
“aku lihat bapak bapak, sebaya dengan mbak. Pakai baju biru. Sedang jongkok dekat meja dan kursi, kayaknya di kantor deh. Dia sedang pegang duit…”.

Kembalilah si Gadis dari sarang dukun dengan keyakinan penuh bahwa seseorang di kantornya telah mencuri uang yang raib itu. Dan ciri-ciri yang diberikan sepertinya cocok dengan seorang teman kerja di kantor yang sudah lama tak di sukainya, sebut saja namanya Djoko. Jangan-jangan… Tapi tentu saja tak mudah menuduh tanpa dasar.

Ah memang mulut ini tak ada resletingnya, jadi gampang sekali terbuka. Tanpa buang waktu dia ceritakan kecurigaannya kepada teman baiknya di kantor. “Tapi jangan cerita cerita lagi lho” pesan sponsornya kepada temannya itu. Nah! Siapa bilang rahasia itu rahasia? Dengan cepat berita menyebar bahwa Djoko telah menilap uang 30 juta dari meja Gadis. Dengan cepat pula Djoko mendapatkan berita burung itu.

Sebagai seorang cowok yang gentleman di hampirinya Gadis untuk meminta dan memberi penjelasan perihal berita burung pencurian uang, dimana dirinya di tuduh sebagai biang keladi nya. Percekcokan pun tak bisa terhindarkan. Entah siapa yang betul dan yang salah. Ditengah seru serunya perdebatan mulut itu, masuklah sang Boss dengan gagah perkasa ke ruang kerja Gadis.

“Ada apa ini…?” tanyanya.
“Ah enggak Pak, biasa …” keduanya sungkan dan enggan menjawab dengan baik dan benar. Dengan serempak mereka mengendorkan urat marah di wajah.
“Oh ya sudah. Gadis, saya cuma mau kembalikan document ini. Bukti expenditure perusahaan sejumlah 30 juta rupiah yang lupa kamu bawa, tertinggal di meja saya beberapa hari lalu. Kamu sih ‘slordig’…” katanya dengan santai ngeloyor dari ruangan.

“HAH?” Gadis melongo, lega, kesal dan malu tidak mampu bicara apapun. Dalam hatinya dia memaki, dasar dukun sontoloyo…

Kapokkah Gadis pergi ke dukun untuk mendapatkan jawaban instan dari masalahnya? Enggak tuh! Kalo butuh ya pergi lagi dong, pantang menyerah, siapa tahu dukunnya waktu itu memang lagi pusing banyak pikiran. Siapa tahu lain kali manjur?! ***