http://community.kompas.com/read/artikel/2699
Saya meloncat terbangun dengan dada berdegup kencang. Bingung. Ada dimana saya? Tak sepotongpun pakaian melekat di tubuh. Saya merasa sendiri, tapi suara yang cukup keras itu membangunkan saya. Pikiran saya yang masih bingung karena terbangun kaget, mereka reka, kenapa ada suara cowok? Berbahasa India pula. Perasaan sih saya belum pernah ke India? Perasaan waktu berangkat tidur tadi saya sendirian? Tak lama sang lelaki berbahasa Mandarin terdengar. Lho kok?
Kebingungan saya baru berakhir setelah terdengar pengumuman berbahasa Inggris. Barulah saya sadari suara itu berasal dari public announcement meminta para tamu hotel di Singapore ini untuk bersiap siap evakuasi karena kemungkinan ada api. Saya lari ke pintu di lantai 16 itu, tanpa apa-apa saking paniknya, beruntunglah belum sempat menjebretkan pintu dan terkunci diluar. Bayangkan kalau itu terjadi hiiyyy malunya! Saya kembali masuk kamar, sempat lari serabutan mencari baju dan dompet. Sial!
Beginilah nasibnya kalau hobi tidur telanjang, dan kurang perhatian pada tips tips keselamatan. Padahal saya adalah praktisi dan peminat masalah masalah keselamatan. Jika api dan evakuasi benar benar terjadi, mungkin waktu kritis yang terpakai untuk mencari baju, dan memakainya tidak akan menyelamatkan saya. Semenjak itu, saya berjanji, jika tidur dihotel sendirian, jangan sampai mencopot semua pakaian. Jika terjadi apa apa yang membutuhkan evakuasi, akan lebih sulit melakukannya.
Apakah Yang Paling Berharga?
Apakah yang pertama terlintas di kepala kita jika kita dihadapkan pada situasi sulit atau bencana yang memerlukan evakuasi diri? Jarang rasanya kita langsung berpikir ‘aku harus selamatkan diri’. Lebih sering yang pertama terpikir, ‘ya ampun, gimana nasib keluargaku, pacarku, binatang piaraanku, kalau aku mati…’ ‘Waduh, dompetku ketinggalan…’ ‘wah sebelum menyelamatkan diri, aku harus menyelamatkan harta benda’. Biasanya kalau pikiran pikiran seperti ini ditindaklanjuti, kita semakin lupa pada keselamatan diri.
Ini mengingatkan saya pada kebakaran sebuah gedung bank terkemuka di bilangan Thamrin, Jakarta bertahun lalu. Diceritakan ada seorang karyawan yang sebenarnya sudah selamat berada di pelataran gedung dalam proses evakuasi. Sayangnya, dia tiba tiba teringat dompet dan tas nya yang tertinggal di ruang kerjanya, dan dengan gagah berani kembali ke atas, untuk mengambil dompet tersebut. Damailah jiwanya, sang karyawan bukannya kembali ke tempat berkumpul di halaman gedung, tetapi kembali ke Yang Maha Kuasa.
Tips Mengurangi Rasa Panik
Selain lupa diri, dan lebih memikirkan orang lain atau harta benda yang mesti diselamatkan dalam keadaan emergency, ada kondisi yang lebih parah lagi. Ini terjadi bila kita menjadi panik dan terpaku, tak mampu berpikir apalagi bertindak cepat dan logis. Hal ini dipengaruhi oleh kinerja bagian otak kita yang berhubungan dengan emosi – amygdale – mengendalikan bermacam macam emosi, dimana panik adalah salah satu manifestasinya (jangan ada yang protes ya, saya bukan ahli otak nih – pembaca yang lebih ahli silakan menambahkan).
Menurut penelitian dari berbagai sumber, pada saat bagian dari amygdale kita terpicu dan aktif, hanya memerlukan 6 detik saja untuk bebas berkeliaran, dan mengejawantah dalam tindakan. Enam detik kritis tadi bisa saja merugikan kita, bila kita tak mampu mengendalikannya. Dalam hal menghadapi bencana, kuncinya adalah mengendalikan picuan amygdale, meredam rasa panik yang timbul. Panik terjadi karena ketidak-siapan mental. Bukan hal yang mudah untuk menguranginya, kecuali kalau kita terbiasa dengan latihan latihan. Apakah bentuk latihan itu?
1. Afirmasi terhadap diri sendiri.
Sering seringlah mengatakan pada diri sendiri dengan sepenuh hati, ‘nyawa dan akal sehat adalah harta paling berharga, tak ada apapun yang menggantikannya.’ Tentu keluarga dan cinta, sangat berharga, tapi kalau tak ada nyawa, bagaimana kita bisa menikmatinya. Kalau tak ada nyawa dan akal sehat, bagaimana kita bisa mempertahankan keluarga dan cinta? Hal utama adalah yang pertama, yang selanjutnya akan lebih mudah mengikuti. Bila afirmasi terhadap diri sendiri ini sudah mendarah daging, akan sangat mudah melepaskan apa yang menjadi tak penting dalam hidup kita, bila diperlukan.
2. Jadilah sutradara, dimana kita dan keluarga kita merupakan pemain utama!
Kita bisa mengajak otak untuk memikirkan scenario bencana atau insiden yang paling mungkin terjadi dalam keluarga, bekerja, sewaktu bepergian, ataupun di situasi situasi tertentu. Tulislah scenario itu bila perlu, dan rincilah bagaimana cara terbaik seharusnya menghadapi situasi tersebut. Ini bisa menjadi bagian yang paling sulit, karena biasanya keluarga kita dan kawan kawan kita sendiri yang resistan. Bisa juga kita dianggap berlebihan, dan paranoid. Sewaktu saya melakukan mental drill terhadap keluarga ibu dan bapak saya, tentang bagaimana keluar dari rumah bila ada kebakaran. Ibu saya bilang: “Ah, umur itu di tangan Tuhan, kalo aku harus mati, ya mati aja. Kalo harus lari, ya lari aja lewat pintu. Tua tua gini-gini aku juga masih sekuat kebo…” lha iya, tapi kalo daerah pintunya udah penuh api, gimana hayo!
3. Berlatih memainkan imajinasi mental untuk menghadapi bencana.
Kita bisa menggunakan scenario yang sudah kita susun dan praktekkan bersama di poin ke 2. Ada pepatah alah bisa karena biasa. Membiasakan diri berlatih memainkan imajinasi mental akan mengurangi tingkat kepanikan karena secara mental kita sudah menyiapkan diri. Misalnya dalam kasus saya di halaman atas tadi, saya seharusnya sudah bisa membayangkan, bila harus evakuasi, kemana saya akan pergi? Dimanakah arah emergency exit? Kanan? Kiri? Berapa langkahkah pintu emergency kamar hotel saya? Apakah saya akan berjalan atau merangkak, bila banyak kepulan asap?
4. Seringlah bertanya sendiri: Bagaimana Kalau?
Inilah permainan antisipasi dan improvisasi yang bisa jadi sangat mengasyikkan, bila kita sudah terbiasa. Manfaat lain bisa di dapat, karena latihan ini seperti mengasah kepekaan dan kesiapan kita menghadapi sesuatu yang tidak terduga dalam hidup kita. Contoh kecil saat kita akan memasang lampu, dan saking malesnya kita menyeret saja kursi seadanya, bukannya mengambil tangga yang letaknya di bagian belakang rumah. Toh kursinya cukup tinggi. Bila ini yang terjadi, berhentilah sejenak, dan tanya diri: ‘bagaimana kalau saya terpeleset, soalnya dengan kursi ini saya akan harus berjinjit.’ Jawablah juga dengan jujur, misalnya: ‘mungkin tak apa apa, kaki saya kuat kok. Tapi mungkin saja terpeleset, dan kepala saya terbentur, atau kaki saya patah. Ongkos dokter lebih mahal dari pada waktu dan usaha saya mengambil tangga yang lebih aman…’ Silakan menciptakan contoh contoh lainnya…
5. Jadilah pemerhati yang teliti:
Kalau kita sudah terbiasa dengan poin 1-4, pasti akan sangat mudah menjadi pemerhati yang teliti terhadap situasi di sekitar kita, dan mainkan mental imaging jika kita ada di tengah tengah situasi itu. Contoh yang paling gampang: berapa banyak dari kita yang mengecek lokasi exit emergency pada saat kita berkunjung ke gedung tinggi, kantor atau mall? Hayo, tunjuk tangan! Pasti banyak. Apalagi perempuan seperti saya yang hobby window shopping, alih alih mengecek lokasi exit, -emangnya kita pegawai maintenance disana apa – yang pertama kita cek adalah tulisan SALE gede-gede, dan display manekin dan barang barang yang cantik… wuiss, sudahlah ileran duluan, boro boro ingat exit…
6. Pelajarilah hal hal teknis mengenai potensi bahaya, dan bagaimana menanggulanginya.
Nah, jika mental kita sudah siap, dan pikiran kita sudah terbuka akan pentingnya berprinsip keselamatan adalah yang hal utama, inilah saatnya membelajari hal hal yang keras. Hardwarenya. Soalnya, percuma juga tahu hal hal teknis, bila pikiran kita dan mental kita tidak siap. Serangan panik bisa datang kapan saja…Siapkan apa apa yang perlu diketahui di rumah, misalnya cara aman untuk membongkar barang listrik, cara menggunakan fire extinguisher, bahan bahan makanan atau kimiawi yang membuat kita alergi, dan lain lainnya.
Kalau kita sudah melakukan apa yang perlu dari semua poin diatas, dijamin deh serangan panik dalam keadaan emergency bisa dikurangi. Saya akhiri dengan sebuah cerita yang pernah saya baca, sayang sumbernya lupa – jika ada pembaca yang tahu, silakan di KOLOM KOMENTAR
Di sebuah warehouse luas untuk menyimpan bahan makanan yang berpendingin dan bersuhu sangat rendah, seorang pegawai yang tengah memeriksa stok makanan, terkunci di dalamnya. Sayangnya tak ada media baginya untuk menghubungi dunia luar memberitahu bahwa dia terkunci disana. Satu-satunya kesempatan adalah menunggu sampai keesokan hari. Siapa yang bisa menunggu sampai esok hari di tempat seperti kulkas raksasa begitu? Ketika ditemukan, si pegawai sudah tak bernyawa, tubuhnya meringkuk seperti menahan kedinginan. Ironisnya, pada hari dimana dia terkunci, pendingin di ruang tersebut bermasalah, dan suhunya tidak dingin seperti di kulkas. Nah lho! Mungkinkah, karena panik dan merasa tak ada harapan, si pegawai menutup semua kemungkinan harapan dari benaknya, dan membiarkan nyawanya melayang tanpa melawan?
Begitulah otopsi menyebutkan sebab kematian. Entahlah, but never underestimate the power of mind, my friends…
Sunday, November 29, 2009
Curahan Hati Si Emas Bening
http://community.kompas.com/read/artikel/2574
Kecil disayang. Besar ditendang. Butuh disayang, tak butuh dibuang. Itulah nasibku. Seperti Si Abang dalam lagu penyanyi kondang Lusi AB Three. “Ada uang Abang Sayang. Tak Ada Uang Abang Kutendang.” Bedanya, aku bukan abang-abang. Dan aku tak ada uang. Tapi aku bernilai lebih dari pada sekedar uang. Setiap bulan ibu dan bapak rumah tangga pasti membeliku lewat PAM.
Untuk para pebisnis, akulah si Emas Cair Bening. Hargaku lebih mahal dari bensin. Sebotol 500 ml diriku bisa berharga 2 ribu perak sampai puluhan ribu, tergantung namaku Agua, Aqua, Avian atau Perrier. Juga tergantung di mana aku ditemukan, di tangan para pedagang kaki lima atau di restoran dan hotel mewah.
Para ahli kesehatan menyebutku mu’jizat. Aku di puja puja semua orang. Aku ada di 99% tubuh manusia. Lebih dari 2/3 permukaan bumi diliputi aku, meskipun sebagian besarnya tak dapat digunakan manusia, karena kotor, payau, atau beracun. Aku sebagai si Bersih, cuma ada sekian persen saja di perut ibu bumi.
Di restoran, kantor, rumah, bahkan di jalanan, aku sudah menjadi Indonesian Idol. Setiap pagi semua orang mencari ku untuk di minum.. Aku juga membantu orang mandi, berwudhu, membasuh bagian terpenting badan mereka, dan membersihkan gigi dari jengkol dan sambal terasi sisa makan siang mereka. Di rumah-rumah, aku juga menjadi favorit, kalau aku bersih, kecil dan tidak membahayakan. Anak anak suka bermain denganku. Apalagi orang dewasa…
Kata pakar data statistik di negeri makmur sohor Amerika, Setiap hari nya, menurut data AWWA (American Water Works Association), setiap rumah tangga sederhana saja menghabiskan air bersih sebanyak 69.3 galon. Dan angka ini adalah potret penggunaan sederhana seperti mandi, mencuci baju dan piring, toilet, minum, siram pot tanaman (bukan taman/kebun), kebocoran keran air, memasak dan kebutuhan minor lainnya. Mungkin jika di Indonesia, angka ini lebih kecil. Tapi tetap saja signifikan.
Menurut Circle of Blue, organisasi yang peduli terhadap krisis air, dan UNESCO, badan dunia yang mengurus sains, edukasi dan budaya, dari 100% air di permukaan bumi, hanya 2,5% nya merupakan air bersih. Itupun hanya 0.3% dari 2,5 % tadi yang dapat diakses dan dinikmati oleh manusia.
Yang menarik, dari semua penggunaan dasar tadi, konsumsi diriku, air, terbanyak adalah untuk toilet, sebanyak 27%. Yang kedua terbanyak adalah untuk mencuci baju. Bahkan banyaknya konsumsi air untuk mandi hampir sebanding dengan banyaknya air terbuang karena kebocoran keran dan pipa.
Mungkin diantara Anda pembaca akan berkilah. “Jaka Sembung ketemu suku Asmat. Infonya enggak nyambung-nyambung amat…” Itu kan statistik Amrik apa hubungannya sama penggunaan domestik air di Indonesia? Yah maklumlah, susah cari data kongkrit statistik penggunaan air bersih rumah tangga di Indonesia.
Sebagai ilustrasi, kiranya cukuplah gambaran penggunaan diriku itu di sebuah rumah tangga. Yang jelas, hidupku lebih sering terombang ambing. Kadang di suka kadang di benci.
Sebagai ilustrasi, bila semua air di muka bumi ini bisa di masukkan dalam 100 buah gelas, maka hanya sepertiga dari segelas air saja yang bisa diakses dan digunakan oleh manusia. Herannya, dengan langkanya aku si bersih, orang masih saja mensia-siakan aku.
Kata manusia, yang konon mahluk Tuhan yang tercipta, yang paling pintar di seluruh jagat, aku penyebab banyak kejadian seperti banjir, jalan macet, atap bocor, bisnis surut . Banyak manusia menyalahkan ku karena menyebabkan banyak dari mereka kehilangan bisnis, harta berharga, tempat tinggal, dan kenyamanan. Apalagi datangku dalam bentuk hujan dan bah sering datang tak diundang. Hah, siapa bilang tak diundang?
Mahluk Tuhan yang mengaku paling pintar itu sebenarnya idiot! Tapi sok dan narsis abisss -meminjam istilah anak muda sekarang. Mereka sebenarnya sering mengundangku sebagai Si Kotor secara diam diam, tanpa mereka sadari. Kelakuan mereka itu lho! Pelan-pelan, sebenarnya mereka sedang melakukan usaha bunuh diri kolektif. Mereka menutup banyak permukaan bumi dengan bedak semen dan gedung yang sama sekali berbeda dengan bedak Revlon, memaksaku si Air Bersih untuk bergabung dengan air laut. Mereka membuang sampah tanpa rasa bersalah. Dan melakukan banyak perusakan lingkungan, termasuk memakai aku si Bersih secara jor-joran.
Ya. Aku disia-siakan, seperti istri yang disia-siakan suami berhubung ada WIL (Wanita Idaman Lain). Mentang-mentang nilaiku sebagai komoditi tak seindah berlian. Lihat saja sebagian orang masih melakukan praktek-praktek cuek. Mencuci tangan dan wajah dan bagian tubuh rahasia, dan alat-alat makan mereka seperti sedang mencuci kerbau dekil berlumpur yang memerlukan bertangki tangki air. Membiarkan aku mengalir merana sia-sia dari keran pada saat mereka nongkrong melamun sambil menunggu keluarnya ampas makan siang, menyikat gigi sambil ngobrol dengan temannya, atau sambil memencet jerawatnya dan bersenandung.
Kalau saja aku bisa bicara, aku pasti akan menjerit. STOP! Gunakan aku sewajarnya! Aku tahu ada diantara kalian para manusia akan berkilah. Ah rese’ deh lo! Duit-duit gue, air-air gue, hidup-hidup gue …
Tapi bayangkan kalau jutaan manusia berpola pikir dan berperilaku egois seperti ini, dari setetes bisa jadi se-ember. Dari se-ember bisa se-kolam… Perlahan, aku akan bernasib seperti badak Sumatra yang sebentar lagi akan tinggal nama. Kalau sudah begitu, musnah jugalah manusia…
Setiap orang bisa membantu menyelamatkanku, mencegahku untuk menjadi komoditi langka menyaingi langkanya orang jujur di republik ini, demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Jurus sakti 13 untuk prinsip hemat air: dari setetes jadi se-ember
1. Hormati keberadaanku. Habiskan aku pada saat kau minum, baik di gelas maupun di tempat minum. Bila tidak mudah menghabiskan, buanglah di tempat yang bisa memanfaatkan sisa air tersebut, misalnya untuk menyiram tanaman.
2. Tempatkan aku di ember pada saat kau berwudhu atau mencuci tangan dan wajah, supaya sisa ku tidak kemana-mana. Aku masih bisa digunakan kok, misalnya untuk menyiram tanaman. Memang sih tak praktis, tapi bisa membantu menghemat penggunaanku dan menurunkan biaya tagihan PAM.
3. Gunakan air sisa bilasan terakhir cucian rumah tangga untuk mencuci bagian teras atau carport yang kotor.
4. Buat penadang air hujan yang bisa di pakai kembali untuk menyiram tanaman atau membersihkan barang-barang
5. Gunakan aku sewajarnya. Berhentilah membuatku mengalir sia-sia. Buka kran air hanya pada saat kau memerlukannya, dan tutup keran dengan seksama sehingga tak ada air menetes sia-sia.
6. Pastikan semua kran bebas bocor. Kran yang bocor menimbulkan tiga masalah. Air terbuang sia-sia. Rekening tagihan PAM melonjak, dan Anda rugi membayar sesuatu yang tidak anda gunakan.
7. Buatlah lubang biofor atau sumur serapan air di halaman rumah. Ini akan membantu keberlangsungan keberadaanku untuk mu.
8. Hindari menyiram toilet berlebihan bilamana tak diperlukan. Kalau sisa makan sudah tak terlihat, jangan menjadi paranoid dan terus menyiramkan aku. Aku akan terbuang sia-sia.
9. Mandikan tanaman dengan sisa bilasan terakhir cucian yang tidak mengandung bahan kimia. Usahakan memandikan tanaman pagi hari sebelum panas terik, supaya hemat air, karena tidak cepat menguap ke udara panas, tetapi menyerap ke tumbuhan dan akar.
10. Usahakan mengurangi waktu atau jatah air mandi Anda. Mandi dengan air banyak dan intensitas waktu lebih, tidak selalu berbanding lurus dengan hasil bersih.
11. Jangan membiarkan aku mengalir dari keran waktu Anda sikat gigi, cuci muka ataupun bercukur. Bukalah keran hanya waktu Anda siap menggunakannya. Keran air yang terbuka selama 1 menit akan membuang percuma 4 galon air, sama nilainya dengan membuang uang sebesar rp. 40.000 jika 1 galon aqua berharga rp. 10.000. Tidak percaya? Coba saja sendiri, eh jangan dong, itu namanya konyol!
12. Biarkan aku tinggal di sekitarmu. Jangan tutup semua permukaan ibu bumi dengan blok blok semen. Jika masih ada tanah, aku masih bisa bersembunyi di sana dan memberikanmu kehidupan.
13. Buatlah inspeksi rumah Anda, dimana semua anggota keluarga terlibat mencari adanya kerusakan dan kebocoran yang mengakibatkan penghamburan sumber daya sia-sia. Gantilah segera jika kran dan pipa di rumah Anda bocor. Betulkan yang rusak untuk mencegah kerugian lebih besar, jangan tunggu tanggal gajian. Kalau perlu, ngutang dan nge-bon dulu di toko tetanggga.
Ajaklah keluarga Anda, tetangga Anda, teman-teman Anda untuk lebih menghargai aku dan mepraktekkan gaya hidup trendy hebat hemat bersahabat dengan alam.
Kecil disayang. Besar ditendang. Butuh disayang, tak butuh dibuang. Itulah nasibku. Seperti Si Abang dalam lagu penyanyi kondang Lusi AB Three. “Ada uang Abang Sayang. Tak Ada Uang Abang Kutendang.” Bedanya, aku bukan abang-abang. Dan aku tak ada uang. Tapi aku bernilai lebih dari pada sekedar uang. Setiap bulan ibu dan bapak rumah tangga pasti membeliku lewat PAM.
Untuk para pebisnis, akulah si Emas Cair Bening. Hargaku lebih mahal dari bensin. Sebotol 500 ml diriku bisa berharga 2 ribu perak sampai puluhan ribu, tergantung namaku Agua, Aqua, Avian atau Perrier. Juga tergantung di mana aku ditemukan, di tangan para pedagang kaki lima atau di restoran dan hotel mewah.
Para ahli kesehatan menyebutku mu’jizat. Aku di puja puja semua orang. Aku ada di 99% tubuh manusia. Lebih dari 2/3 permukaan bumi diliputi aku, meskipun sebagian besarnya tak dapat digunakan manusia, karena kotor, payau, atau beracun. Aku sebagai si Bersih, cuma ada sekian persen saja di perut ibu bumi.
Di restoran, kantor, rumah, bahkan di jalanan, aku sudah menjadi Indonesian Idol. Setiap pagi semua orang mencari ku untuk di minum.. Aku juga membantu orang mandi, berwudhu, membasuh bagian terpenting badan mereka, dan membersihkan gigi dari jengkol dan sambal terasi sisa makan siang mereka. Di rumah-rumah, aku juga menjadi favorit, kalau aku bersih, kecil dan tidak membahayakan. Anak anak suka bermain denganku. Apalagi orang dewasa…
Kata pakar data statistik di negeri makmur sohor Amerika, Setiap hari nya, menurut data AWWA (American Water Works Association), setiap rumah tangga sederhana saja menghabiskan air bersih sebanyak 69.3 galon. Dan angka ini adalah potret penggunaan sederhana seperti mandi, mencuci baju dan piring, toilet, minum, siram pot tanaman (bukan taman/kebun), kebocoran keran air, memasak dan kebutuhan minor lainnya. Mungkin jika di Indonesia, angka ini lebih kecil. Tapi tetap saja signifikan.
Menurut Circle of Blue, organisasi yang peduli terhadap krisis air, dan UNESCO, badan dunia yang mengurus sains, edukasi dan budaya, dari 100% air di permukaan bumi, hanya 2,5% nya merupakan air bersih. Itupun hanya 0.3% dari 2,5 % tadi yang dapat diakses dan dinikmati oleh manusia.
Yang menarik, dari semua penggunaan dasar tadi, konsumsi diriku, air, terbanyak adalah untuk toilet, sebanyak 27%. Yang kedua terbanyak adalah untuk mencuci baju. Bahkan banyaknya konsumsi air untuk mandi hampir sebanding dengan banyaknya air terbuang karena kebocoran keran dan pipa.
Mungkin diantara Anda pembaca akan berkilah. “Jaka Sembung ketemu suku Asmat. Infonya enggak nyambung-nyambung amat…” Itu kan statistik Amrik apa hubungannya sama penggunaan domestik air di Indonesia? Yah maklumlah, susah cari data kongkrit statistik penggunaan air bersih rumah tangga di Indonesia.
Sebagai ilustrasi, kiranya cukuplah gambaran penggunaan diriku itu di sebuah rumah tangga. Yang jelas, hidupku lebih sering terombang ambing. Kadang di suka kadang di benci.
Sebagai ilustrasi, bila semua air di muka bumi ini bisa di masukkan dalam 100 buah gelas, maka hanya sepertiga dari segelas air saja yang bisa diakses dan digunakan oleh manusia. Herannya, dengan langkanya aku si bersih, orang masih saja mensia-siakan aku.
Kata manusia, yang konon mahluk Tuhan yang tercipta, yang paling pintar di seluruh jagat, aku penyebab banyak kejadian seperti banjir, jalan macet, atap bocor, bisnis surut . Banyak manusia menyalahkan ku karena menyebabkan banyak dari mereka kehilangan bisnis, harta berharga, tempat tinggal, dan kenyamanan. Apalagi datangku dalam bentuk hujan dan bah sering datang tak diundang. Hah, siapa bilang tak diundang?
Mahluk Tuhan yang mengaku paling pintar itu sebenarnya idiot! Tapi sok dan narsis abisss -meminjam istilah anak muda sekarang. Mereka sebenarnya sering mengundangku sebagai Si Kotor secara diam diam, tanpa mereka sadari. Kelakuan mereka itu lho! Pelan-pelan, sebenarnya mereka sedang melakukan usaha bunuh diri kolektif. Mereka menutup banyak permukaan bumi dengan bedak semen dan gedung yang sama sekali berbeda dengan bedak Revlon, memaksaku si Air Bersih untuk bergabung dengan air laut. Mereka membuang sampah tanpa rasa bersalah. Dan melakukan banyak perusakan lingkungan, termasuk memakai aku si Bersih secara jor-joran.
Ya. Aku disia-siakan, seperti istri yang disia-siakan suami berhubung ada WIL (Wanita Idaman Lain). Mentang-mentang nilaiku sebagai komoditi tak seindah berlian. Lihat saja sebagian orang masih melakukan praktek-praktek cuek. Mencuci tangan dan wajah dan bagian tubuh rahasia, dan alat-alat makan mereka seperti sedang mencuci kerbau dekil berlumpur yang memerlukan bertangki tangki air. Membiarkan aku mengalir merana sia-sia dari keran pada saat mereka nongkrong melamun sambil menunggu keluarnya ampas makan siang, menyikat gigi sambil ngobrol dengan temannya, atau sambil memencet jerawatnya dan bersenandung.
Kalau saja aku bisa bicara, aku pasti akan menjerit. STOP! Gunakan aku sewajarnya! Aku tahu ada diantara kalian para manusia akan berkilah. Ah rese’ deh lo! Duit-duit gue, air-air gue, hidup-hidup gue …
Tapi bayangkan kalau jutaan manusia berpola pikir dan berperilaku egois seperti ini, dari setetes bisa jadi se-ember. Dari se-ember bisa se-kolam… Perlahan, aku akan bernasib seperti badak Sumatra yang sebentar lagi akan tinggal nama. Kalau sudah begitu, musnah jugalah manusia…
Setiap orang bisa membantu menyelamatkanku, mencegahku untuk menjadi komoditi langka menyaingi langkanya orang jujur di republik ini, demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Jurus sakti 13 untuk prinsip hemat air: dari setetes jadi se-ember
1. Hormati keberadaanku. Habiskan aku pada saat kau minum, baik di gelas maupun di tempat minum. Bila tidak mudah menghabiskan, buanglah di tempat yang bisa memanfaatkan sisa air tersebut, misalnya untuk menyiram tanaman.
2. Tempatkan aku di ember pada saat kau berwudhu atau mencuci tangan dan wajah, supaya sisa ku tidak kemana-mana. Aku masih bisa digunakan kok, misalnya untuk menyiram tanaman. Memang sih tak praktis, tapi bisa membantu menghemat penggunaanku dan menurunkan biaya tagihan PAM.
3. Gunakan air sisa bilasan terakhir cucian rumah tangga untuk mencuci bagian teras atau carport yang kotor.
4. Buat penadang air hujan yang bisa di pakai kembali untuk menyiram tanaman atau membersihkan barang-barang
5. Gunakan aku sewajarnya. Berhentilah membuatku mengalir sia-sia. Buka kran air hanya pada saat kau memerlukannya, dan tutup keran dengan seksama sehingga tak ada air menetes sia-sia.
6. Pastikan semua kran bebas bocor. Kran yang bocor menimbulkan tiga masalah. Air terbuang sia-sia. Rekening tagihan PAM melonjak, dan Anda rugi membayar sesuatu yang tidak anda gunakan.
7. Buatlah lubang biofor atau sumur serapan air di halaman rumah. Ini akan membantu keberlangsungan keberadaanku untuk mu.
8. Hindari menyiram toilet berlebihan bilamana tak diperlukan. Kalau sisa makan sudah tak terlihat, jangan menjadi paranoid dan terus menyiramkan aku. Aku akan terbuang sia-sia.
9. Mandikan tanaman dengan sisa bilasan terakhir cucian yang tidak mengandung bahan kimia. Usahakan memandikan tanaman pagi hari sebelum panas terik, supaya hemat air, karena tidak cepat menguap ke udara panas, tetapi menyerap ke tumbuhan dan akar.
10. Usahakan mengurangi waktu atau jatah air mandi Anda. Mandi dengan air banyak dan intensitas waktu lebih, tidak selalu berbanding lurus dengan hasil bersih.
11. Jangan membiarkan aku mengalir dari keran waktu Anda sikat gigi, cuci muka ataupun bercukur. Bukalah keran hanya waktu Anda siap menggunakannya. Keran air yang terbuka selama 1 menit akan membuang percuma 4 galon air, sama nilainya dengan membuang uang sebesar rp. 40.000 jika 1 galon aqua berharga rp. 10.000. Tidak percaya? Coba saja sendiri, eh jangan dong, itu namanya konyol!
12. Biarkan aku tinggal di sekitarmu. Jangan tutup semua permukaan ibu bumi dengan blok blok semen. Jika masih ada tanah, aku masih bisa bersembunyi di sana dan memberikanmu kehidupan.
13. Buatlah inspeksi rumah Anda, dimana semua anggota keluarga terlibat mencari adanya kerusakan dan kebocoran yang mengakibatkan penghamburan sumber daya sia-sia. Gantilah segera jika kran dan pipa di rumah Anda bocor. Betulkan yang rusak untuk mencegah kerugian lebih besar, jangan tunggu tanggal gajian. Kalau perlu, ngutang dan nge-bon dulu di toko tetanggga.
Ajaklah keluarga Anda, tetangga Anda, teman-teman Anda untuk lebih menghargai aku dan mepraktekkan gaya hidup trendy hebat hemat bersahabat dengan alam.
Penumpang dari Neraka
Tulisan yang sama dimuat di:
http://community.kompas.com/read/artikel/2289
Pesawat baru saja mendarat. Lampu Tanda gambar kencangkan sabuk pengaman kursi di atas masih menyala. Suasana sepi, kecuali bunyi pesawat yang perlahan mereda. Tiba tiba suara kapten yang empuk terdengar: “Cabin Crew…” rupanya memanggil semua anggota kabin (pramugara dan pramugari ) pesawat untuk mempersiapkan penumpang keluar pesawat. Lampu bergambar tali pengaman masih menyala beberapa saat lagi. Tapi entah salah dengar, entah para penumpang pesawat merasa merekalah para pramugara dan pramugari, mereka serentak berdiri, tanpa mempedulikan sebenarnya belum waktunya untuk melepaskan sabuk pengaman dan berdiri…
Kelakuan sembrono seperti ini bukan satu satunya yang terjadi menjelang naik pesawat, di pesawat, maupun ketika turun. Banyak hal norak yang dilakukan para penumpang tanpa mengindahkan keselamatan, ketertiban dan etika publik.
Bepergian dengan pesawat masih di anggap sebagai kemewahan. Siapa yang bisa menikmati kemewahan? Orang orang yang secara materi mampu, yang tentu saja seharusnya juga mampu membayar untuk menjadi terdidik. Tetapi kebanyakan dari sikap mereka di pesawat, tidak mencerminkan intelektual, etika dan pertimbangan keselamatan.
Antri dong!
Mari kita mulai dengan antrian masuk. Sebelum masuk pesawat, biasanya terdengarlah suara merdu pengumuman yang meminta para penumpang dengan nomer duduk tertentu untuk masuk pesawat terlebih dahulu. Tentu saja ada alasannya. Para penumpang bisnis tentu karena mereka membayar lebih. Para penumpang dengan nomer duduk besar biasanya terletak paling belakang dekat ekor pesawat. Logis kan, kalau mereka di panggil duluan? Yang repotnya, penumpang bernomor kecil juga ngotot ikut masuk, tak peduli dan mendadak linglung dengan bunyi pengumuman. Yang terjadi adalah kemacetan yang tak perlu dimana penumpang yang akan ke kursi belakang mesti menunggu penumpang garis tengah atau depan bebenah peralatan lenong mereka. Efficiency waktu terganggu secara tidak perlu.
Hand phone
Kecintaan kita pada satu barang itu memang rada rada mengerikan. Kelakuan kita sebagai penumpang pesawat bisa sangat keterlaluan dalam hal handphone, pda, blackberry dan semua gadget yang berhubungan dengan komunikasi. Jelas jelas sudah ada pengumuman “…matikan seluruh alat komunikasi Anda karena dapat mengganggu…”, eh kelihatannya para pengguna ini mendadak jadi tuli tak mengindahkan pengumuman, padahal kedengarannya pembicaraan tak penting deh. “Iya nih say, pesawatnya udah mau take off…” “Kalo ada yang cari bilangin aku lagi ke luar negeri ya!” Mana tahaaan.. kalau sudah begitu saya sering geregetan dan menghayal menjadi pramugari yang kasih announcement. Pasti saya akan bilang: “helo para penumpang, pasti ngerti dong, kalo saya bilang mati-in handphone nya, ya mati-in dong. Gak usah belagak pilon!”.
Kelakuan kita sebagai penumpang juga begitu waktu pesawat mendarat. Baru aja ban pesawat menyentuh tanah, eh udah banyak kedengeran suara tatat tutut, musik, dan klak klik orang membuka handphone dan pda nya. Maksudnya apa sih? Memangnya gatel apa ya kalau nunggu sampai keluar dari pesawat untuk menelpon?
Keselamatan
Mengakulah. Berapa banyak dari Anda yang memperhatikan pengumuman cara-cara keselamatan di pesawat? Paling banter Anda yang baru pertama kali naik pesawat. Atau para lelaki yang senang melihat peragaan keselamatan dari para pramugari cantik, tapi tak ingat apa isi peragaannya. Selebihnya mungkin akan berkata, ‘ah udah tahu kok. Ini kan bukan pertama kalinya aku naik pesawat’. Ya, memang sih, kalau Anda keseringan naik pesawat, mungkin Anda bosan dengan pengumuman yang itu lagi itu lagi. Maskapai penerbangan yang funky seperti Virgin Atlantic punya cara cara yang jitu dan tak biasa untuk membuat penumpangnya menaruh perhatian terhadap pengumuman keselamatan di awal penerbangan. Tapi kalaupun tak ada yang seperti Virgin Atlantic, nikmati saja dan sadarilah, semakin hapal Anda pada langkah langkah keselamatan di pesawat, semakin siap Anda bila situasi darurat disana terjadi dan semakin besar kemungkinan Anda Selamat. Banyak pula dari penumpang yang ajaib dan keras kepala ketika diingatkan untuk tetap di tempat, dan kencangkan sabuk pengaman bila ada turbulence. Ini disebabkan tingkat kesadaran kita terhadap keselamatan secara umum masih parah. Jangan gitu dong Friends, siapa sih yang mau jaga keselamatan kita selain kita sendiri?
Majalah
Nah ini untuk yang hobi baca, biasanya melihat banyaknya majalah yang di display di dinding sekat dekat lavatory, banyak yang lantas jadi kalap. Alih alih mengambil satu atau dua majalah, dirauplah semua majalah yang ada di display. Perkara suka atau tidak urusan belakang, jangan sampai keduluan. Tinggallah penumpang lain yang gigit jari melihat tempat majalah sudah kosong.
Masih mendingan kalau setelah baca, majalah itu di kembalikan ke tempatnya supaya penumpang lain bisa menarik manfaatnya. Saking ogah rugi nya merasa sudah bayar tiket pesawat, lebih sering majalah diam diam sudah masuk ke tas mereka, dan raib selamanya dari pesawat. Kalau di lihat sih, penumpang yang membaca Time, Business Week, Forbes, etc seharusnya penumpang yang intelek yang tidak norak norak banget sama majalah begituan, gengsi dong kalau harus ngembat, harganya kan gak seberapa gitu loh!
Toilet
Untuk penerbangan beberapa jam sih mungkin kekurang ajaran penumpang tidak terlalu kelihatan. Tapi bayangkan kalau Anda harus terbang dari Jakarta ke Seoul atau San Francisco, pasti terasa tersiksanya kalau terpaksa harus masuk ke toilet super sempit yang bau nya minta ampun karena tetangga baru saja melancarkan serangan berbau jengkol di tempat yang sama. Belum lagi kalau sisa sisa koktail kuningnya masih tertinggal disana untuk Anda membereskan nya. Hiii! Saya sering enggak ngerti apa yang ada dalam pikiran orang orang seperti ini. Apa balas dendam karena mereka sering menemukan hal yang sama? Atau sama sekali tak peduli akibat nya terhadap orang lain?
Sebagai penggemar setia toilet, saya pasti akan selalu cek dan re-cek sebelum keluar dari tempat keramat itu. Masih bau kah? Masih ada yang tercecer-cecerkah? Kalau bukan kita, siapa lagi sih yang mau memelihara kebersihan di tempat keramat itu? Tidak ada tukang bersih WC yang di bayar untuk bepergian di udara khusus untuk bersihkan WC. Dan kasihanilah para pramugari cantik itu, kalau mereka mesti bau jengkol setelah membersihkan sisa sisa perjuangan Anda di toilet…
Tetangga dari neraka
Pernah kah Anda satu pesawat, duduk dibarisan yang sama dengan seorang penumpang utusan neraka? Well, sebenernya bukan juga utusan neraka, tapi orang itu membuat kenyamanan Anda terasa seperti di neraka. (MEmangnya pernah kesana apa?). Apa sih sebenarnya ciri ciri dan contoh penumpang utusan neraka?
Mari kita mulai dengan para penumpang yang bermasalah dengan bau badan dan bau kaki. Kurang sadar diri membuat mereka pede saja dan tidak merasa bau badan atau kaki mereka merangsang penumpang lain untuk muntah, atau pusing.
Saya biasanya sedia parfum botol kecil yang handy dengan wangi halus dan bisa di selipkan di kantong atau tas tangan. Ini akan membantu setidaknya menangkis bau badan tetangga duduk saya itu. Saran saya sih, lakukan cek apakah Anda punya masalah dengan bau badan. Pakailah roll on sebelum bepergian. Paling tidak ini akan mencegah orang menutup hidung di depan Anda.
Ada juga sih yang memakai wewangian extra keras sepertinya penumpang ini baru saja tercebur di tong percobaan pabrik pewangi.. hati hatilah memilih pewangi kala bepergian apalagi di pesawat di mana kedekatan fisik antar penumpang tak bisa di hindarkan. Sadarilah banyak juga orang yang menderita reaksi alergi terhadap wewangian tertentu.
Asyik Masyuk
Duduk di dekat pasangan yang punya gelagat akan berasyik masyuk juga tak enak, apalagi kalau Anda sendirian dan penerbangan waktu lama. Tak ada teman berbagi haha hihi sebagai balasan terhadap pasangan yang pamer kemesraan di samping Anda.
Saya pernah mendapatkan tempat duduk bersama pasangan muda di penerbangan Vancouver – Singapore. Sepanjang perjalanan saya Cuma bisa menelan air liur mendengarkan bunyi clepat clepot dan desah desah tak karuan. Entah apa yang terjadi dengan gerakan gerakan tak karuan di balik selimut itu. Yang jelas saya jadi gerah, meskipun temperature pesawat cukup dingin.
Jadi jika Anda bepergian berpasangan dan berniat bermesraan di pesawat, tolonglah sedikit berperasaan dengan tetangga satu barisan. Atau Anda secara tak sengaja akan menciptakan neraka pada tetangga duduk itu, Anda yang senang senang sementara dia menderita.
Ada juga tetangga penumpang yang rada norak dan membunyikan ipod atau MP3 nya dengan suara keras, meskipun ini jarang terjadi. Dalam salah satu penerbangan panjang dari Moskow ke Singapore, seorang penumpang anak muda mengeluarkan portable dvd player dan mulai memasangnya. Anehnya, bukan memakai earphone, dia membiarkan suara film koboy ala Rusia yang seru itu berdentam dentam sehingga penumpang di radius 3 barisan pun mendengarnya.
Sayang tidak ada satupun yang bergerak untuk mengingatkannya. Masuk akal juga karena sebagian besar penumpang lain di radius tersebut terlena dalam tidur mereka. Tapi tidak dengan saya. Suara itu terlalu mengganggu, tapi saya terlalu sungkan menegurnya, khawatir dia akan meninju saya. Ini memberi kesempatan saya untuk sedikit ngelaba ke salah satu pramugara ganteng di pesawat dan meminta dia menegur penumpang norak itu. Jangan sungkan meminta tolong pramugara dan ri bila Anda menemukan penumpang dari neraka, biarkan mereka dengan keahliannya mengkomunikasikan masalah ini.
Pikir punya pikir, kasihan sekali para pramugara dan pramugari menghadapi banyaknya ulah para penumpang dari neraka. Coba deh introspeksi diri, apakah Anda salah satunya?
http://community.kompas.com/read/artikel/2289
Pesawat baru saja mendarat. Lampu Tanda gambar kencangkan sabuk pengaman kursi di atas masih menyala. Suasana sepi, kecuali bunyi pesawat yang perlahan mereda. Tiba tiba suara kapten yang empuk terdengar: “Cabin Crew…” rupanya memanggil semua anggota kabin (pramugara dan pramugari ) pesawat untuk mempersiapkan penumpang keluar pesawat. Lampu bergambar tali pengaman masih menyala beberapa saat lagi. Tapi entah salah dengar, entah para penumpang pesawat merasa merekalah para pramugara dan pramugari, mereka serentak berdiri, tanpa mempedulikan sebenarnya belum waktunya untuk melepaskan sabuk pengaman dan berdiri…
Kelakuan sembrono seperti ini bukan satu satunya yang terjadi menjelang naik pesawat, di pesawat, maupun ketika turun. Banyak hal norak yang dilakukan para penumpang tanpa mengindahkan keselamatan, ketertiban dan etika publik.
Bepergian dengan pesawat masih di anggap sebagai kemewahan. Siapa yang bisa menikmati kemewahan? Orang orang yang secara materi mampu, yang tentu saja seharusnya juga mampu membayar untuk menjadi terdidik. Tetapi kebanyakan dari sikap mereka di pesawat, tidak mencerminkan intelektual, etika dan pertimbangan keselamatan.
Antri dong!
Mari kita mulai dengan antrian masuk. Sebelum masuk pesawat, biasanya terdengarlah suara merdu pengumuman yang meminta para penumpang dengan nomer duduk tertentu untuk masuk pesawat terlebih dahulu. Tentu saja ada alasannya. Para penumpang bisnis tentu karena mereka membayar lebih. Para penumpang dengan nomer duduk besar biasanya terletak paling belakang dekat ekor pesawat. Logis kan, kalau mereka di panggil duluan? Yang repotnya, penumpang bernomor kecil juga ngotot ikut masuk, tak peduli dan mendadak linglung dengan bunyi pengumuman. Yang terjadi adalah kemacetan yang tak perlu dimana penumpang yang akan ke kursi belakang mesti menunggu penumpang garis tengah atau depan bebenah peralatan lenong mereka. Efficiency waktu terganggu secara tidak perlu.
Hand phone
Kecintaan kita pada satu barang itu memang rada rada mengerikan. Kelakuan kita sebagai penumpang pesawat bisa sangat keterlaluan dalam hal handphone, pda, blackberry dan semua gadget yang berhubungan dengan komunikasi. Jelas jelas sudah ada pengumuman “…matikan seluruh alat komunikasi Anda karena dapat mengganggu…”, eh kelihatannya para pengguna ini mendadak jadi tuli tak mengindahkan pengumuman, padahal kedengarannya pembicaraan tak penting deh. “Iya nih say, pesawatnya udah mau take off…” “Kalo ada yang cari bilangin aku lagi ke luar negeri ya!” Mana tahaaan.. kalau sudah begitu saya sering geregetan dan menghayal menjadi pramugari yang kasih announcement. Pasti saya akan bilang: “helo para penumpang, pasti ngerti dong, kalo saya bilang mati-in handphone nya, ya mati-in dong. Gak usah belagak pilon!”.
Kelakuan kita sebagai penumpang juga begitu waktu pesawat mendarat. Baru aja ban pesawat menyentuh tanah, eh udah banyak kedengeran suara tatat tutut, musik, dan klak klik orang membuka handphone dan pda nya. Maksudnya apa sih? Memangnya gatel apa ya kalau nunggu sampai keluar dari pesawat untuk menelpon?
Keselamatan
Mengakulah. Berapa banyak dari Anda yang memperhatikan pengumuman cara-cara keselamatan di pesawat? Paling banter Anda yang baru pertama kali naik pesawat. Atau para lelaki yang senang melihat peragaan keselamatan dari para pramugari cantik, tapi tak ingat apa isi peragaannya. Selebihnya mungkin akan berkata, ‘ah udah tahu kok. Ini kan bukan pertama kalinya aku naik pesawat’. Ya, memang sih, kalau Anda keseringan naik pesawat, mungkin Anda bosan dengan pengumuman yang itu lagi itu lagi. Maskapai penerbangan yang funky seperti Virgin Atlantic punya cara cara yang jitu dan tak biasa untuk membuat penumpangnya menaruh perhatian terhadap pengumuman keselamatan di awal penerbangan. Tapi kalaupun tak ada yang seperti Virgin Atlantic, nikmati saja dan sadarilah, semakin hapal Anda pada langkah langkah keselamatan di pesawat, semakin siap Anda bila situasi darurat disana terjadi dan semakin besar kemungkinan Anda Selamat. Banyak pula dari penumpang yang ajaib dan keras kepala ketika diingatkan untuk tetap di tempat, dan kencangkan sabuk pengaman bila ada turbulence. Ini disebabkan tingkat kesadaran kita terhadap keselamatan secara umum masih parah. Jangan gitu dong Friends, siapa sih yang mau jaga keselamatan kita selain kita sendiri?
Majalah
Nah ini untuk yang hobi baca, biasanya melihat banyaknya majalah yang di display di dinding sekat dekat lavatory, banyak yang lantas jadi kalap. Alih alih mengambil satu atau dua majalah, dirauplah semua majalah yang ada di display. Perkara suka atau tidak urusan belakang, jangan sampai keduluan. Tinggallah penumpang lain yang gigit jari melihat tempat majalah sudah kosong.
Masih mendingan kalau setelah baca, majalah itu di kembalikan ke tempatnya supaya penumpang lain bisa menarik manfaatnya. Saking ogah rugi nya merasa sudah bayar tiket pesawat, lebih sering majalah diam diam sudah masuk ke tas mereka, dan raib selamanya dari pesawat. Kalau di lihat sih, penumpang yang membaca Time, Business Week, Forbes, etc seharusnya penumpang yang intelek yang tidak norak norak banget sama majalah begituan, gengsi dong kalau harus ngembat, harganya kan gak seberapa gitu loh!
Toilet
Untuk penerbangan beberapa jam sih mungkin kekurang ajaran penumpang tidak terlalu kelihatan. Tapi bayangkan kalau Anda harus terbang dari Jakarta ke Seoul atau San Francisco, pasti terasa tersiksanya kalau terpaksa harus masuk ke toilet super sempit yang bau nya minta ampun karena tetangga baru saja melancarkan serangan berbau jengkol di tempat yang sama. Belum lagi kalau sisa sisa koktail kuningnya masih tertinggal disana untuk Anda membereskan nya. Hiii! Saya sering enggak ngerti apa yang ada dalam pikiran orang orang seperti ini. Apa balas dendam karena mereka sering menemukan hal yang sama? Atau sama sekali tak peduli akibat nya terhadap orang lain?
Sebagai penggemar setia toilet, saya pasti akan selalu cek dan re-cek sebelum keluar dari tempat keramat itu. Masih bau kah? Masih ada yang tercecer-cecerkah? Kalau bukan kita, siapa lagi sih yang mau memelihara kebersihan di tempat keramat itu? Tidak ada tukang bersih WC yang di bayar untuk bepergian di udara khusus untuk bersihkan WC. Dan kasihanilah para pramugari cantik itu, kalau mereka mesti bau jengkol setelah membersihkan sisa sisa perjuangan Anda di toilet…
Tetangga dari neraka
Pernah kah Anda satu pesawat, duduk dibarisan yang sama dengan seorang penumpang utusan neraka? Well, sebenernya bukan juga utusan neraka, tapi orang itu membuat kenyamanan Anda terasa seperti di neraka. (MEmangnya pernah kesana apa?). Apa sih sebenarnya ciri ciri dan contoh penumpang utusan neraka?
Mari kita mulai dengan para penumpang yang bermasalah dengan bau badan dan bau kaki. Kurang sadar diri membuat mereka pede saja dan tidak merasa bau badan atau kaki mereka merangsang penumpang lain untuk muntah, atau pusing.
Saya biasanya sedia parfum botol kecil yang handy dengan wangi halus dan bisa di selipkan di kantong atau tas tangan. Ini akan membantu setidaknya menangkis bau badan tetangga duduk saya itu. Saran saya sih, lakukan cek apakah Anda punya masalah dengan bau badan. Pakailah roll on sebelum bepergian. Paling tidak ini akan mencegah orang menutup hidung di depan Anda.
Ada juga sih yang memakai wewangian extra keras sepertinya penumpang ini baru saja tercebur di tong percobaan pabrik pewangi.. hati hatilah memilih pewangi kala bepergian apalagi di pesawat di mana kedekatan fisik antar penumpang tak bisa di hindarkan. Sadarilah banyak juga orang yang menderita reaksi alergi terhadap wewangian tertentu.
Asyik Masyuk
Duduk di dekat pasangan yang punya gelagat akan berasyik masyuk juga tak enak, apalagi kalau Anda sendirian dan penerbangan waktu lama. Tak ada teman berbagi haha hihi sebagai balasan terhadap pasangan yang pamer kemesraan di samping Anda.
Saya pernah mendapatkan tempat duduk bersama pasangan muda di penerbangan Vancouver – Singapore. Sepanjang perjalanan saya Cuma bisa menelan air liur mendengarkan bunyi clepat clepot dan desah desah tak karuan. Entah apa yang terjadi dengan gerakan gerakan tak karuan di balik selimut itu. Yang jelas saya jadi gerah, meskipun temperature pesawat cukup dingin.
Jadi jika Anda bepergian berpasangan dan berniat bermesraan di pesawat, tolonglah sedikit berperasaan dengan tetangga satu barisan. Atau Anda secara tak sengaja akan menciptakan neraka pada tetangga duduk itu, Anda yang senang senang sementara dia menderita.
Ada juga tetangga penumpang yang rada norak dan membunyikan ipod atau MP3 nya dengan suara keras, meskipun ini jarang terjadi. Dalam salah satu penerbangan panjang dari Moskow ke Singapore, seorang penumpang anak muda mengeluarkan portable dvd player dan mulai memasangnya. Anehnya, bukan memakai earphone, dia membiarkan suara film koboy ala Rusia yang seru itu berdentam dentam sehingga penumpang di radius 3 barisan pun mendengarnya.
Sayang tidak ada satupun yang bergerak untuk mengingatkannya. Masuk akal juga karena sebagian besar penumpang lain di radius tersebut terlena dalam tidur mereka. Tapi tidak dengan saya. Suara itu terlalu mengganggu, tapi saya terlalu sungkan menegurnya, khawatir dia akan meninju saya. Ini memberi kesempatan saya untuk sedikit ngelaba ke salah satu pramugara ganteng di pesawat dan meminta dia menegur penumpang norak itu. Jangan sungkan meminta tolong pramugara dan ri bila Anda menemukan penumpang dari neraka, biarkan mereka dengan keahliannya mengkomunikasikan masalah ini.
Pikir punya pikir, kasihan sekali para pramugara dan pramugari menghadapi banyaknya ulah para penumpang dari neraka. Coba deh introspeksi diri, apakah Anda salah satunya?
Subscribe to:
Posts (Atom)