Saturday, September 11, 2010

Suatu Malam di Pantai Juhu

Apalah yang bisa di lihat di Mumbai dalam beberapa hari yang padat acara, selain gadis cantik dan cowok ganteng seperti di film film Bollywood, di tempat kami ber-acara di Grand Hyatt? Saya kepingin sekali melihat lihat Mumbai yang sebenarnya. Bukan yang glamor, wangi dan indah. Mumbai yang milik jelata, berkarakter dan berjiwa.
Dan saya cuma punya kesempatan satu malam untuk melakukannya, itupun sudah larut. Sudah hampir jam 10 malam sewaktu beberapa teman India saya berbaik hati mengajak jalan jalan ke Juhu. Pantai yang cukup ngetop di Mumbai ini, indah, katanya. Dan sering di pakai oleh para produser film Bollywood untuk shooting film. Teman saya Rakesh bilang, ‘pantai ini kelihatan glamor di film, tapi, lihat saja deh malam ini, Juhu bukan hanya milik borju.’

Pantai Juhu terletak sekitar 18 kilometer di bagian utara dari pusat suburbia Mumbai, sekitar setengah jam perjalanan berkendara dari Grand Hyatt tempat kami menginap. . Taxi kami adalah taxi kelas ‘bodol’, tanpa ac, tanpa seatbelt, tanpa meteran, dengan bodi mungil yang ruang kursinya mesti berbagi, duduk berduaan terpaksa beradu badan. Dan rasanya normal normal saja naik taksi kelas bodol ini dari hotel mewah sekelas Grand Hyatt. Tak ada satupun dari kami yang merasa inferior biarpun sekeliling kami bintang bintang wangi dan cantik ganteng bermodalkan mobil mewah seliweran.

Malam sudah larut, tetapi menikmati kesibukan jalanan di Mumbai, serasa malam baru saja dimulai. Banyak orang masih keluyuran di jalan, para penjaja kaki lima dan pasar kaget di tepi jalan raya masih terang benderang, anak kecil dan remaja pun tak ketinggalan. Tak jauh dari kesibukan malam Jakarta.

Juhu menurut saya mirip-mirip pantai Kuta di Bali yang pemandangannya selalu spektakular kapanpun dilihat. Sayang, saya tak sempat lihat sunset yang katanya spektakular dilihat dari pantai Juhu ini yang menghampar luas ke laut Arabia. Yang membuatnya menarik dilihat malam seperti ini mungkin justru adalah kesibukan disana dan para pengunjungnya.

Hal pertama yang menyambut di area masuk ke pantai Juhu ini adalah deretan kios makanan, gemerlap dengan lampu neon kuningnya dan asesori makanan di diplay Hmm surga makanan local jika mau mencobanya. Sayang kami masih super kenyang, dari acara cocktail dan makan malam di hotel dengan para calon klien kami.

Sembari berjalan menyusuri pantai dengan kawan saya Rakesh, Sheema dan Sanjay, saya menikmati pantai Juhu dan mengambil beberapa foto. Sementara kedua kawan kami yang lain entah kemana. Tapi tak apa, angin sepoi dari arah laut sudah membuat mood saya senang luar biasa.

Ini oleh oleh photo amatiran yang saya buat:

Komidi Monyet

‘Uncle, uncle…’ teriak seorang gadis kecil kea rah seorang lelaki paruh baya yang menggandeng monyet di tangannya. Rupanya sang gadis cilik itu sedang jalan jalan malam dengan ibunya. Setelah tawar menawar untuk monyet penampilnya, sang Bapak menyuruh sang monyet beraksi, menari dan lari lari. Beberapa orang lagi berkerumun menonton.

Kaki lima di pantai. Dimana ada orang, disitulah ada kaki lima. Barang dagangannya tidak jauh beda dengan kaki lima di Indonesia, mainan anak anak, dan asesori wanita dengan warna warni neon yang menyolok. Tak jauh dari sana ada komidi putar ukuran kecil. Pemiliknya sedang asyik memutar komidi, dan 2 orang gadis cilik yang naik komidi putar tengah menjerit ngeri dan senang diiringi debur ombak pantai yang Cuma kelihatan busa putihnya meliuk menari…

Tak jauh dari sana, ada yang berkelap kelip dengan lampu disko dan music lokal yang bergairah. Rupanya para penjaja penyewaan mesin berat badan dan mesin pembaca nasib yang di lengkapi dengan layar tv mini tempat orang yang sedang menimbang berat badan atau membaca nasibnya bisa menikmati film atau pun lagu. Dasar Bollywood, tak mau ketinggalan dunia hiburan…



Es serut dan Jagung Bakar
Sanjay kawan saya mengajak mampir ke tukang es yang memajang botol dengan warna sirop mencolok, lebih pantas jadi warna cat dinding di sekolah TK. Sewaktu mereka menawarkan membelikan es serut yang di rendam sirop warna warni itu, saya agak ragu. saya curiga warna nya berasal dari pewarna industri. Belum lagi dari segi kebersihan, jari tangan si abang penjaja nya kelihatan kotor.
 Apa karena kulitnya memang gelap ya hahaha. Mau menolak tak enak. Dikira nanti sok borju, meskipun teman India saya yang sudah lama hidup di US sudah menolak atas nama kami berdua. Saurabh teman saya yang lain bilang sembari bercanda: ‘oh come on, you’ve got to try it. It’s a rare chance for you to get cholera…’ – ‘ayolah coba. Kapan lagi ada kesempatan langka untuk dapet kolera, hahaha’.

Saya nyerah juga, dan memilih sirop warna coklat, yang saya anggap lebih aman. Saya coba es serut itu sececap, rasanya aneh. Tak ada manis manisnya. Asin dan asam. ‘Oh itu memang isinya es, garam dan asam atau jeruk nipis’ sela Sanjay ketika saya tanya. Lalu darimana warna coklatnya? ‘mungkin dari air laut yang butek itu,’ kata Saurabh terkikik. Saya tak bisa berpura pura menikmati es coklat palsu ini, yang akhirnya jadi penghuni tong sampah. Maaf deh.

Untuk menghibur saya dari kecewa es palsu itu, sanjay kembali mentraktir saya. Kali ini makan jagung bakar, yang sebenarnya sudah saya tolak, tapi akhirnya saya terima dengan berat hati. Ah, ternyata rasanya juga hampir sama anehnya dengan es serut coklat asin itu. Rupanya jagung bakar di pantai Juhu ini memakai campuran, bukan mentega dan bumbu barbekyu, tapi taburan garam dan perasan jeruk nipis! Hah! Ketemu lagi deh…

Setelah puas menikmati Juhu, kami kembali ke dunia palsu Mumbai dalam gemerlap dan wangi nya hotel bintang lima Grand Hyatt yang jauh sekali dari dunia nyata disana…


Wednesday, June 16, 2010

Bertapa Meditasi di Baturiti




lokasi meditasi di Saranam, Baturiti
“Hah? Bertapa? Ya Allah! Emangnya kurang apa aku mendidik kamu, anakku. Sekolah tinggi tinggi kok ya jadi begini. Mau cari apa? Amit amit, anakku jangan sampai muja setan…” Dalam kamus ibuku berbertapa itu identik dengan jalan mencapai keinginan dengan meminta bantuan jin dan setan. “Mau cari apa sih?” Katanya. “Mau kaya, ya tinggal kerja. Mau dapet jodoh lagi, ya cari yang bener. Mau disayang orang ,ya kalau kita baik, masa’ iya enggak disayang…”

Mengetahui persis bagaimana tipe ibu saya, reaksi ini sudah saya perkirakan. Semula saya ingin bohong, karena tidak mau beliau khawatir dan tak tahu kemana gerangan anaknya ini. Tapi takut ketula, walaupun ‘white lie’ akhirnya saya beranikan diri mengatakan yang sebenarnya. Bukan untuk minta ijin, karena saya perempuan dewasa yang sudah tak perlu ijin orang tua. Tapi memberitahunya karena saya menghormatinya.

Iya, memang saya berniat berbertapa. Tapi bukan untuk mencari semua yang ibu saya khawatirkan. Saya jenuh dengan hidup kota Jakarta yang hiruk pikuk. Saya sedang jenuh dengan hidup saya sebagai kuli perusahaan. (Tapi mau tidak mau, itu sumber piring makan saya, jadi harus tetap dipenuhi.) Rasanya tak adil juga sih kalau saya jenuh dan bekerja asal-asalan seadanya menuruti mood saya. Dan saya kasihan kepada otak dan mulut saya yang bekerja tak henti, nyerocos sana dan sini. Saya ingin liburan yang juga meaningful dan menghasilkan. Maka ikutlah saya tapa brata di Baturiti, Bali, diadakan oleh organisasi Bali Usada.

Sesi Tapa Brata ini dilakukan dalam bahasa Inggris. Lho! Kok bertapa pake bahasa Inggris segala? Yang pertama, peserta butuh arahan panitia, yang dilakukan melalui instruksi verbal berbahasa Inggris. Yang kedua, bukannya mau sok-sok-an tidak cinta bahasa sendiri. Tapi kelas berbahasa Indonesia sudah penuh nuh! Baik yang diadakan di Cisarua maupun di Baturiti. Kelas berbahasa Inggris sebenarnya ditujukan lebih untuk para peserta non-Indonesia, tapi terbuka juga buat peserta lokal. 

Apa sih?
Baiklah yang bisa saya ceritakan adalah impresi pengalaman saya ikut serta di program Tapa Brata. Sederhananya, kegiatan ini mengajak peserta untuk berpuasa dari omong, merokok, menulis, membaca, mendengar musik, menonton tivi selama 6 hari. Di sela sela puasa itu, kami bermeditasi, membersihkan sampah sampah hati dan pikiran, olahraga, makan sehat vegetarian, dan belajar fokus, cara bernapas yang betul, belajar cara hidup sehat jiwa, mental dan raga.

Mungkin ada pembaca yang bertanya tanya, emangnya nggak bisa melakukan semua itu tanpa bertapa? Tanpa harus puasa omong dan alat alat komunikasi? Ya, bisa aja sih, kalau orang yang bersangkutan tabah menjalani hidup spartan dikelilingi oleh segala macam godaan email, web, handphone, blackberry, tv, keluarga, pacar, hubungan sex, nge-gosip, senyam senyum sama orang, makan bablas seenak udelnya dewe…siapa sih yang tahan digoda begitu?

Menjauh sekejap dari hiruk pikuk rutinitas dan hidup, dan sebagai gantinya beraktifitas se-sederhana mungkin akan memungkinkan kita mengisi energi. Komputer saja dari waktu ke waktu mesti di de-frag untuk memastikan sistim nya punya cadangan ruang agar bisa bekerja secara efisien. Nah kita juga mesti membersihkan pengalaman pengalaman hidup, terutama yang buruk, supaya masih ada ruang dalam benak kita untuk mencetak mutu hidup yang lebih baik. Hidup yang memaksimalkan fungsi semua panca indera.

Hidup kita sudah terlalu banyak tergantung pada teknologi sehingga sehari saja tanpanya rasanya seperti orang yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Coba saja lihat, jika koneksi computer atau internet di tempat kerja kita tidak berfungsi di suatu pagi, pasti kita kebingungan mau apa ya? Untuk saya sendiri, sebenernya tak terlalu tergantung pada teknologi seperti laptop ataupun handphone apalagi blackberry. Tapi selalu sulit untuk ketinggalan dari pena, kertas dan buku. Di program inilah saya belajar mendisiplinkan diri untuk itu.

Tempat melakukan tapa brata kami berlokasi di Banjar Pacung, Baturiti, disebuah tempat kecil yang indah namanya Saranam Eco-Resort. Di tempat ini, area kami bermeditasi letaknya di lembah dan hanya untuk grup kami sendiri, jauh dari tamu tamu resort yang lain. Untuk turun ke tempat ini orang bisa berjalan turun melalui tangga setinggi 5 tingkat, atau menggunakan sarana transportasi elevator sederhana, cukup untuk 4 orang tanpa menyentuh satu sama lain.

Teman Intim Bertapa
Siapa saja yang punya niat, berani mencoba, bisa ikutan program ini. Tak perlu persyaratan khusus. Di kelas saya, ada peserta 19 orang, dari berbagai bangsa, Australia, UK, Switzerland, US, Srilanka, Singapore dan 4 orang diantaranya dari Indonesia.   Kongga, satu satunya peserta cowok Indonesia mengira saya berasal dari Srilanka. Saya tersanjung juga, karena salah satu peserta yang benar benar dari Srilanka bernama Manjula, berkulit hitam manis, cantik eksotik. Perempuan mana yang tak suka diasosiasikan dengan itu? Begitu juga dengan saya. Bagusnya saya tahu diri. Hitam manis iya dong. Cantik Eksotik? Iya juga sih, dengan catatan kalau mata pemandang wajah saya, bolor…


Para peserta berfoto dengan Master Meditasi Pak Merta Ada
 Selain saya, ada Laras, seorang model dan Alice seorang artis ada diusia prima pertengahan 20-an. Dalam hati saya mengagumi tekad mereka, tapi juga menebak, mungkin mereka tidak tahu apa yang akan mereka temui disana. Give up facebook, handphone, dugem, rokok, dan puasa omong? Mana tahaann!

Kami menginap di bungalow.  Tiap bungalow umumnya di-isi oleh 3 orang. Memang sudah diseting begitu, rupanya ada juga tujuannya. Tantangannya adalah conquering comfort zone, keluar dari ruang nyaman kita, mengatur jadwal gentian mandi dan toilet dengan waktu yang sangat terbatas tanpa berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Dan menerima dengan lapang dada kebiasaan teman sekamar yang mungkin mengganggu, misalnya ngorok waktu tidur, atau berjalan mondar mandir ruangan pada saat orang lainnya tidur lelap.

Teman sekamar saya ada dua orang, Cecil dari Switzerland, seorang surfer dan massage therapist, dan Linda, direktur usaha perjalanan menyelam. Linda, di usianya yang matang selalu kelihatan kalem, sementara Cecil, hampir identik dengan namanya, selalu pecicilan. Dia selalu berusaha menggunakan komunikasi non-verbal dengan tangannya yang suka mencolek colek, mulutnya yang bergerak gerak mengatakan sesuatu tanpa suara, matanya yang sering mengedip sebelah seolah melempar senyum. Dan senyumnya yang menawan itu juga sering di obral. Sebenarnya ini harus dihindari selama melakukan tapa brata, tapi susah juga, bagaimana memberitahu dia tanpa bicara? Jadi Linda dan saya membiarkannya, dan kadang meresponnya dengan senyum juga.


 Membisu seminggu
Aneh juga untuk saya yang biasanya cerewet, doyan omong, dan tak bisa duduk diam, acara membisu ini benar benar saya nikmati. Bahkan pada hari ke –enam, sore hari- pada waktu setiap orang sudah boleh omong lagi, saya merasa sedikit terganggu dengan peserta lain yang ngobrol dengan suara keras. Ruang makan yang biasanya khidmat, dan nikmat untuk menikmati makanan, berubah menjadi pasar yang ramai, orang bicara sana sini. Saya duduk diam menikmati makanan, dan mengunyah sebaik baiknya. Merasakan setiap suapan, setiap kunyahan, sembari berterima kasih dalam hati kepada siapapun yang berjasa membawa makanan ini sampai ke mulut saya. Mulai dari para petani yang bercocok tanam dan memanen, para supir yang mendistribusikan sayuran sampai ke tempat ini, para pemasak yang dengan ahlilnya menciptakan masakan lezat. How I missed the quiet moments…

Pada program ini, di hari pertama setelah mendaftar, berkenalan dan mendapatkan brifing dari panitia, para peserta diminta untuk mengumpulkan dompet, laptop dan hp nya, serta makanan supply yang barangkali saja peserta bawa sebagai persiapan takut kelaparan. Memang sih, buku note, atau pulpen tidak diminta dikumpulkan, tapi diharapkan kita tidak memakainya selagi bisa. Menulis cuma diijinkan jika kita meminta sesuatu yang penting kepada panitia, misalnya sakit.

Di hari pertama dan kedua Meditasi, terasa berat sekali, bukan hanya bagi saya, tapi juga untuk yang lain, mungkin lebih lebih bagi kedua rekan meditasi saya Laras yang socialita dan Alien yang artis itu. Apalagi keduanya perokok, pasti super berat tantangan menyepi seperti ini. Jadi saya bisa memaklumi jika toilet wanita di belakang ruang Meditasi selalu berbau rokok. Hmm, pasti tempat yang cukup nikmat dan tersembunyi buat sesekali merokok pada jam istirahat. Hehehe.

Berapa seringnya semasa kami berbertapa, saya ingin sekali menuliskan isi hati saya, atau pengalaman batin yang saya alami, atau keindahan alam yang saya nikmati, tapi inilah saatnya melatih pikiran menjadi lebih tajam untuk mengingat dan menghidupkannya kembali manakala diperlukan, tanpa harus membuka catatan. Latihan yang sangat berguna buat saya yang terlalu mengandalkan banyak catatan, dan terlalu malas menyimpannya dengan baik dalam benak pikiran saya. Seringkali saking cepatnya peristiwa sehari hari terjadi, atau saking malasnya saya mencatat dalam benak, maka sulit betul buat saya mengingat, kemarin itu, apa saja sih yang saya lakukan? Lalu saya sekarang mulai melatih diri untuk mengingat hal hal kecil yang saya lakukan sehari hari…

Ya, buat saya tantangan terberat ya itu tadi, tak bisa menggunakan kertas dan pulpen untuk merekam kejadian atau perasaan saya. Dan tentu saja meditasinya. Secara natural, saya bukan tipe orang yang bisa duduk tenang untuk waktu lama. Dengan latihan yang saya dapat dari profesi saya sebagai orang kantoran, memungkinkan saya untuk duduk lama di kursi saya di depan komputer atau meeting. Tetapi duduk Meditasi adalah hal yang berbeda. Susaaah sekali. Duduk, diam dengan mata tertutup, kaki bersila, dan pikiran konsentrasi. Kaki semutan, pinggang dan punggung pegel, pikiran melayang layang, ngantuk, haduuuh. Kalau sudah begitu, satu satunya yang saya rindukan adalah jari jari Pak Merta Ada sang Maestro Meditasi mengetuk ujung mikrofon menandakan berakhirnya sesi. Tuk! Tuk! Diikuti suaranya yang mendadak menjadi yang paling merdu sedunia buat saya:: “you may finish the meditation now”. Aahhhh bebaaass!

Hiburan Kodok dan Tonggeret

Pemandangan dari ruang makan terbuka
Untungnya, acara Meditasi ini tidak dilakukan terus menerus. Selalu ada olahraga ringan setiap selesai, dan istirahat yang cukup. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu istirahat, wong tak ada dunia hiburan yang akrab sekali dengan kita. Semuanya terlarang.

Pemandangan dari kamar saya
Jadi kebanyakan dari kami asyik berjalan jalan sekeliling area. Ada yang asyik mondar mandir menikmati empuknya lumut tebal yang tumbuh di sisi jalan setapak, ada yang kagum mengamati kecebong di pinggir sawah, ada yang nanar menatap kolam lotus seolah menghitung berapa banyak helai bunganya, ada yang merenung tak mengerti kenapa pohon papaya kurus yang tumbuh di tembok itu subur berbuah papaya yang montok montok…Mungkin ada juga yang sedang menyesali diri, duh ngapain sih gue disini, udah bayar, disiksa lagi.. …

Menurut penyelenggara, dari kelas sebelumnya, ada juga yang merasa seperti itu dan tak tahan baru beberapa hari ngabur dari peace camp ini. Di kelas saya ini, takjubnya, tak ada seorangpun yang meloloskan diri, biarpun ada juga yang punya permintaan aneh aneh seperti minta dicarikan tukang pijat atau minyak kayu putih. Tapi yang paling lucu adalah permintaan supaya pengusir burung dari sebilah bamboo menjuntai di sawah, beserta orang orangan sawah yang berisik berayun tertiup angin itu dicabut saja! Letaknya yang dekat dengan ruang Meditasi dan bunyi nya yang kreoot kreooott mengganggu konsentrasi, katanya. Wah! Ya repot dong! Jangan jangan nanti semua kodok Bangkong, jangkrik dan tonggeret yang ngamen di sekitar situ diminta untuk diam. Padahal untuk saya, suara konser alam ini sungguh sajian sempurna dan mewah mengiringi nyanyian senyap saya selama Meditasi.

prinsip pikiran harmonis. catatan: typo seharusnya MIndfulness: Being in the present
Puasa dari membaca buku, menulis, ber hp dan laptop ria, mendengar yang tidak penting, ternyata berguna sekali untuk mengkalibrasi pikiran, dan pada saat yang sama berfungsi seperti detox bagi pikiran saya. Saya sudah bertekad, akan kembali ke program ini lagi, mengulang pengalaman luar biasa, semoga bisa tahun ini, jika cuti saya masih tersisa. Saya yakin kali itu, ibu saya takkan lagi berpikir saya bertapa untuk mencari bantuan jin dan setan hahaha!

“May All Beings Be Happy”


Yang berminat ikutan meditasinya, bisa cari tahu disini: http://www.baliusada.com/content/section/11/46/

Pemburu Cinta (jilid 2)

Ini seri kedua dari serangkaian kisah sang pemburu cinta. Kalau mau dirunut, seharusnya kisah ini menjadi kisah awal di masa lalu dari seri perburuan saya mencari cinta.
Seperti layaknya sebuah proyek, sebelum dimulai dengan yang sungguhannya, seringkali dibuat mock-up nya. Begitulah strategi pertama yang terpikir sebelum saya berani menerjunkan diri di hutan belantara maya dalam rangka memburu cinta. Latihan kecil kecilan sebagai pemanasan pasti diperlukan. Tapi apa ya? Malu dong, bilang bilang teman sekelas, bisa turun gengsi. Apalagi rasa percaya diri ini sedang turun turunnya seperti nilai rupiah terhadap mata uang asing. Tapi saya orang yang tak mau menyerah pada keadaan…yang penting bisa mendapatkan cara berburu cinta dengan murah meriah manjur! Seperti dalil ekonomi yang saya pelajari di SMP, dengan usaha yang sekecil kecilnya mendapatkan hasil yang sebesar besarnya. Wah mengingat hukum ekonomi ini membuat saya bersemangat berat!

Saya mulai dengan mengamati. Teman teman sekelas saya, hm! Tak minat! Bukan mereka tak menarik, tapi saya punya rule of thumb sedari dulu, jangan jadi pagar makan tanaman. Tidak pernah pacaran dengan teman sekelas, teman sekantor, teman sepermainan. Bisa bisa bermasalah, dan ketula! Tapi paling tidak, saya bisa memanfaatkan ibu kost, seorang nenek 70-tahunan yang tomboy, energetic, dan mendunia, dia tahu banyak hal. Siapa tahu dia punya informasi. Tentu saja, tidak dengan gamblang bilang saya sedang berminat mencinta dan dicinta, dengan catatan jangan dengan mahasiswa.

Suatu kali dia menyebutkan sebuah grup dansa gratisan, Irish dancing club, yang biasanya latihan di sebuah community club, 15 menit berkendara kea rah gunung dari tempat kos saya. Seketika saya terbayang adegan dansa romantis dan keren di film Shakespeare in Love. Menurut Roy –nama bu kost saya itu- dalam satu tarikan dansa, kita akan berganti ganti pasangan. Wah, boleh juga nih. Inilah hutan potensial untuk tempat berburu. Siapa tahu dapat macan, hrroaarr!!! Cihuy! pikiran jorokku sudah berdansa dengan cowok cowok Irish berbadan kekar, tapi romantis. Dan siapa tahu salah satu dari mereka berminat mencintai cewek manis mungil yang setia, lucu dan penuh nafsu (terjemahan ngasal dari passionate)

Dengan usaha yang halus, saya berhasil membujuk Roy, sang ibu kos, untuk mengantar ke community centre tempat Irish dancing class beraksi. Dengan penuh semangat saya memasuki hall tempat dansa. Banyak sudah yang datang, mereka ramah-ramah. Sampai dansa dimulai, saya cuma menemui ibu-ibu setengah baya ke atas, dengan beberapa orang bapak bapak gaek, yang mungkin sudah tak nafsu pergi ke bar dengan konco-konconya. Yaaa, kecewa! Pelajaran pertama, cari informasi dari sumber yang tepat! Informasi Roy mungkin lebih tepat untuk nenek-nenek yang kesepian dan mencari kegiatan. Bodoh juga sih saya nya…

AKhirnya saya mencoba peruntungan di tempat lain. Kali ini dengan menelusuri iklan-iklan pencari cinta di koran komunitas lokal gratisan, Georgia Straight. Cara bekerjanya mirip mirip iklan jodoh di Kompas, dimana sang pencari menjual profilenya, dan memaparkan pasangan seperti apa yang dicari. Wah kebanyakan pria mencari pria, atau wanita mencari wanita. Tak terlalu banyak iklan pria mencari wanita. Apalagi mencari yang spesifik, yang hitam manis, mungil, lucu dan setia seperti saya. Kebanyakan kualitas saya, tidak gampang dilihat dengan kasat mata (hehe ge-er dikit). Jadi agak susah juga berharap macam macam. Kebanyakan iklan itu mencari perempuan tinggi, pirang, sensual, dan banyak ketentuan fisik lainnya. Huh! Perempuan dengan deskripsi seperti itu, mana mungkin juga mencari cinta ala Georgia Straight? Berdiri saja di depan stasiun kereta, sudah pasti akan banyak lelaki yang tergila-gila melihatnya.

Singkat cerita, akhirnya ada juga sasaran yang nampaknya cocok. Dia adalah seorang lelaki kaukasia sederhana –down to earth, katanya- suka bersepeda, suka buku, dan cukup melek budaya non-western. Dia sebutkan pula statistic tubuhnya, dengan tinggi sekian inchi, dan berat sekian pound. Saya tak ngerti persis ukuran seperti ini. Semuanya ada di satu kolom kecil dua paragraph saja, disertai nomer hotline. Cara bekerja hotline ini susah susah gampang. Para pencari cinta yang memasang iklan, membayar paket space di surat kabar, sekaligus mendapatkan sebuah kotak suara, dimana dia akan meninggalkan suaranya, untuk para peminat mengakses melalui nomer keanggotaannya. Sebagai peminat, saya akan bisa mengakses suaranya, dan meninggalkan pesan suara juga. Pesan suara dari peminat ini Cuma bisa diakses oleh sang pemasang cinta saja.

Tapi di tahap seperti ini, saya tak mau terlalu banyak cingcong dan rewel. Kita lihat saja lagi. Meskipun saya tak pernah berjudi di Las Vegas, ataupun di Macao, tapi dalam hidup, saya suka berjudi dengan nasib saya. Inilah salah satunya. Setelah timbang menimbang, akhirnya, saya hubungi nomer hotline pencari cinta itu. Setelah tekan sana tekan sini, saya mendengar suara…

Suaranya cukup merdu bak buluh perindu. Seru juga membayangkan seperti apa orangnya cuma berdasarkan suaranya. Karena proyek berburu ini merupakan uji coba tentu saya mesti berhati hati. Kalau untung, ini bisa jadi sungguhan, tapi mana tau. Salah satu bentuk kehati-hatian saya adalah dengan tidak memberikan nomer telpon, atau alamat tempat tinggal saya. Saya set sebuah email address dengan nama palsu, just in case diperlukan. Jadi, untuk berkontak-kontak, akan terserah pada saya untuk memulai, atau mengakhiri. Lho, namanya juga berburu, iya gak? Jadi kontak telpon-telponan kami biasanya dimulai oleh saya yang menelpon ke nomer cowok itu. Seperti layaknya masa penjajakan, urusan ngobrol di telpon selalu ngalor ngidul sembari mencari benang merahnya, seperti apa ya, cowok ini, dari ceritanya dan response nya terhadap saya.

Tidak sampai 2 minggu, dia mengajak kopi darat. Saya gembira, sekaligus kecut. Bagaimana kalau dia ternyata kecewa, tampang saya tak seindah suara saya? Tapi peduli amat, namanya juga uji coba. Dapat, untung, tak dapat, buntung (buat sementara). Daripada penasaran. Kami memutuskan untuk betemu di depan bioskop di daerah Granville jam 7-an malam, kebetulan hari itu saya berniat menonton filem indie dokumenter tree hugger (Butterfly). Filem mulai jam 8 malam, masih ada waktu ketemu cowok itu, kalau mujur, dia bisa saya ajak nonton juga, daripada nonton sendirian.

Jam 7 kurang, saya sudah mejeng di pinggir jalan di Granville, kali ini saya tak repot repot bersiap siap, kalau dia terima saya syukur, kalau tidak ya keterlaluan... Waktu itu musim dingin, jadi saya cuma berjumper ungu, tidak berpakaian provokatif. Saya bilang, “kamu lihat saja kalo ada liliput berjumper ungu, itulah saya…”, sementara dia sendiri, katanya akan datang dengan sepeda, dan berjaket kuning. Saya berharap, pada saat saya datang ke tempat bertemu, dia sudah berdiri disana dengan gagahnya bersama sepeda kesayangannya. Sudah terbayang, cowok ini pasti the hero of environment, bersepeda kemana-mana, berotot dan sehat, karena menggenjot terus setiap hari. Di daerah ini, kontur nya beragam, sudah pasti harus kuat dan sehat untuk bisa genjot sepeda naik turun jalanan.

Sayangnya, sayalah yang harus menunggu. Sialan! Saya sudah mengikuti jam western, eh, dia yang mengikuti jam karet! Tunggu punya tunggu, kepala saya sudah puyeng tengok kanan kiri, mata jelalatan mencari cowok bersepeda berbaju kuning. Banyak sih, cowok cowok ganteng bersepeda, tapi jaket kuning? Haduh, cowok macam apa yang memilih berjaket kuning on a date? Emangnya mahasiswa UI yang lagi demo? Atau petugas pembetul jalanan yang harus mencolok supaya tidak ditabrak mobil? Ah saya jadi sangsi. Tapi jangan panggil saya Imung, kalau saya tak punya hati baja. Urusan seperti ini bisa membuat 3-AN saya bertahan. Saya punya rasa penasarAN, harapAN, dan kesabarAn seluas angkasa. Saya cuma bisa berdoa, semoga pengorbanan saya berdiri, dan menengok kiri kanan seperti wayang golek, berakhir dengan mulia.

Haduh, sudah hampir habis kesabaran saya, badan saya tambah mengkerut karena kedinginan, dan leher saya sudah pegal tengok kanan kiri. “Bego lo Mung! Cowok apa-an yang membiarkan cewek menunggu selama ini?” hati saya mengumpat. Mahluk bertanduk dan mahluk berhalo putih di kepala saya masih berperang. “Udah pergi aja!’”. “Jangan, sapa tau cowok itu guanteng dan mau sama elo…” Hampir 30 menit menunggu, akhirnya, seorang cowok dengan sepeda kumbang mendekati saya.

Si mahluk bertanduk di kepala saya terlihat menari nari, “tuh kan, gue bilang juga apa, ngapain nunggu buat cowok model begituan, rasain deh lo, rugi!”… sementara mahluk berhalo putih masih saja membujuk, “siapa tau orangnya baik. Tampang bukan segalanya. Elo juga gak cakep cakep amat, gak usah rewel deh…” Kesal saya bertambah, karena pertarungan kedua mahluk di kepala saya, rasa capek, dan kecewa karena harapan tak sesuai kenyataan. Tapi jangan panggil saya Imung, kalau saya tidak bisa memberi senyum semanis madu kepada orang, meskipun hati ini geram. Inilah ajaran Jawa dari ibu saya.

Meskipun dia minta maaf, rasa kecewa saya sudah tak terobati. Terutama, jujur saja karena harapan tak sesuai kenyataan. Untungnya saya bisa berkilah supaya bisa cepat hengkang dari hadapannya, ada filem yang saya mesti tonton, dan udah beli tiket. Jadi saya coba permisi. Sialnya lagi, dia bilang, “oh kayaknya filemnya menarik, saya juga mau nonton ah!” Pelajaran buat cewek-cewek: jangan suka terlalu jujur sama orang belum dikenal.

“Mati deh gue!”, pikir saya. Bagaimana mungkin saya bisa melarangnya pergi nonton filem yang akan saya tonton? Emangnya saya pemilik bioskop ini. Hak asasi dia dong. Manyun-nya lagi, bioskop disini masih lebih primitive daripada yang kita punya di Jakarta. Kursinya lebih sempit daripada di Jakarta. Dan tidak pakai nomor kursi. Siapapun boleh duduk dimana saja. Siapa cepat dia boleh milih. Wah, kacau nih. Dia pasti duduk disebelah saya. Sudah begitupun, dalam hati saya masih bersyukur. Untung filemnya dokumenter, tentang seorang cewek yang hidup lebih dari setahun di atas pohon red tree demi mempertahankan supaya pohonnya tidak ditebang. Coba kalo filemnya romantis atau beradegan hot, hiiyy mana tahaaann!

Epilog
Saya memang tak tahu diri, sudah jelek, kok belagu, masih kepingin yang cakep juga. Walaupun belum tentu juga kalau cowok itu cakep, saya lantas mau aja. Namanya juga cita-cita, boleh dong setinggi bintang di angkasa. Perkara enggak tercapai, ya judulnya aja cita-cita…

Akhir cerita, ditengah filem, saya bilang, saya pingin ke toilet dulu…padahal saya menyelinap keluar dan pulang dengan tangan hampa! ***