Sunday, November 29, 2009

Jimat Keramat Manusia Modern

Tulisan juga dimuat di http://community.kompas.com/read/artikel/2414
Tak perlu melibatkan jin, setan dan kuburan. Tak perlu dukun berdupa, apalagi pergi bertapa. Tak sampai membuat bulu kuduk meremang. Dan tak ada keharusan berpantang. Tak perlu fatma ulama untuk menyatakannya bebas dari cap sebagai berhala… Jimat ini di tanggung hebat, keramat. Tempat para dukunnya pun indah, nyaman dan adem (maklum ber-ac). Dilayani pula oleh gadis gadis cantik yang ramah. Hanya saja, tak ada uang, jimat tak sayang..

Tergantung isi dompet, jimat ini akan memberikan kesaktian dan kehebatan yang berbeda beda. Kesaktian itu berupa kemampuan untuk menerima dan mengirim pesan, bicara jarak jauh, membuat photo, penunjuk jalan, bermain main dengan dunia maya, belanja, mencari cinta, bermain game, dan musik, dan banyak lagi. Kalau jimat biasa konon tak bisa bertuah bila bepergian menyebrangi lautan, maka jimat yang ini ditanggung bertuah dengan variasi level kebertuahannya, tergantung kesaktian dari dukun yang mengeluarkan jimat tersebut.
Dukun dan Kita
Jika jimat jaman baheula punya nama nama gagah dan seram untuk memberi sugesti kehebatannya, jimat yang ini punya banyak variasi nama, tapi biasanya fancy, dan kadang dengan kode kode angka dan singkatan tertentu yang susah diingat saking banyaknya. Biang jimat kita bisa bernama BBB, PDA, HP. Keturunannya bisa bernama aneh aneh yang susah di ingat seperti N781, W680i, R300 (ini sih contoh ngacak dan ngasal aja, karena saya tidak bermaksud mengiklankan produk jimat tersebut)

Para dukun produser jimat ini wah kaya raya dari penjualan jimat dan sesajennya, sementara orang kaya dan miskin membantu mereka bertambah kaya…sesajennya sendiri bisa bermacam macam. Bisa berupa pulsa, kartu, sms, dlsb. Sebagai ganjarannya, kita biasanya menerima berita (ring tone, cerita, tips) atau iming-iming menjadi kaya. Sekarang banyak pula perang terbuka antara para dukun untuk membuktikan diri, siapa yang paling sakti. Lihat saja di TV, majalah, Koran dan di billboard di jalan jalan.

Tua muda, besar kecil, kaya miskin, pekerja dan pengangguran, banyak orang yang terkesima dan tersihir oleh jimat abad 21 ini. Para dukun produsen jimat jimat ini pun sekarang ini mampu menyesuaikan produksinya dengan kebutuhan konsumen berbagai level. Tergantung tingkat kesaktian jimat, harga bisa disesuaikan. Banyaknya variasi produk dan kesaktian tidak membuat kita pusing kepala. Dengan senang hati kita mempelajarinya. Bahkan secara mendadak pula kita mampu menguasai bahasa bahasa baru yang keren yang sebelumnya tak pernah ada di kamus bahasa setempat. 3G, GSM, CDMA, SMS, Roaming, dan kata kata ajaib lainnya.

Dimana saja, Kapan saja (bukan Coca Cola)
Dimanapun kita berada, jimat tak lepas dari tangan. Dia bisa saja berada di kantong, di dompet, di tas, di pinggang, di dada, dan ditenteng. Tiada hari tanpanya. Tak ada satu tempat pun yang Selamat dari jarahan jangkauan jimat. Film dan hiburan musik live dengan biduanita (maksudnya penyanyi lho) yang cantik tidak mampu mengalahkan pesona jimat ini. Di rapat-rapat yang membosankan, dia menjadi pelipur lara. Dan dimanapun, dia bisa membantu mengurangi rasa kurang percaya diri kita. Bahkan di rumah ibadah, kita tak canggung canggung membawanya, membiarkannya bersuara, memanggil, mengganggu kekhidmatan doa. Dia bisa menjadi alasan utama kita untuk berpaling dari obrolan dengan teman dan keluarga. Setia setiap saat lebih dari Rexona, dia akan mengikuti kita, bahkan di tempat yang paling personal seperti WC. Berapa banyak dari kita yang bahkan melakukan percakapan melalui jimat ini pada saat saat monumental di WC? Tak peduli bunyi prett, plung dan serrr yang mungkin mengiringi percakapan…

Jangan lagi bertanya kapan jimat ini bisa digunakan. Dia tak tahu diri dan tak kenal waktu. Situasi apapun memungkinkan kita untuk bermesra dengannya. Tak ada kode etik yang membatasinya. Barangkali Cuma waktu take off dan landing pesawat saja kita terpaksa tak menggunakannya, karena alasan keamanan. Itupun masih banyak dari kita yang mencuri curi kesempatan. Di beberapa negara maju, sudah ada larangan yang berimplikasi hukum, misalnya larangan berkendara sembari bercengkrama dengan jimatnya. Atau seperti di Jepang, suara jimat di larang di tempat tempat umum yang padat seperti kereta api cepat.

Dandanan Jimat
Sebagai benda keramat, tentu saja kita harus memeliharanya sedemikian rupa sehingga tuahnya tetap mujarab, dan bisa meningkatkan gengsi dan rasa percaya diri kita sebagai empunya. Banyak sekali asesoris dan pelindung yang bisa di gunakan untuk mempercantik penampilan dari jimat kita. Salah satunya adalah kondom. Bukan hanya yang berhasrat seksual saja saat ini yang memasang kondom sebagai pelindung. Jimat ini pun perlu di lindungi dengan kondom attraktif berwarna warni yang akan melindungi dari garukan, gesekan dan goresan. Bahannya yang di buat dari sejenis karet silicon mungkin yang membuatnya di sebut kondom. Pertama kali saya mendengar nya, saya agak kaget kok saru banget ya. Di masa lalu, kata kondom selalu berkonotasi saru dan tabu. Boleh sih, tapi menyebutnya malu malu. Sekarang? Dengan bebasnya, kita bilang “Mas ada kondom yang mungil enggak, yang pas buat jimat buatan dukun Anu…”. Hmm apalagi ya nama menarik untuk produk inovatif asesori jimat? Jangan-jangan… ‘Ah jorok kamu!’
Cinta mati
Sebagai pengguna jimat, kita biasanya sangat responsive terhadap kebutuhan dan tuntutan jimat kita. Telinga kita bisa sangat tajam dan intuitive. Bunyi sekecil apapun darinya, bisa terdeteksi dan bisa menyebabkan penggunanya kehilangan kendali atas situasi. Misalnya pada saat ngobrol dengan rekan kerja, atau bahkan keluarga, tiba tiba sang jimat menuntut perhatian. Hilanglah tata krama jaman baheula. Bukannya meneruskan perbincangan, kita biasanya memutuskan untuk memberi perhatian kepada jimat. Padahal mungkin tuntutannya tidak punya urgensi waktu dan kedaruratan.

Salah satu contoh rada ekstrim, ini kejadian sebenarnya, waktu saya periksa gigi di salah satu rumah sakit terkenal di bilangan Sudirman, sang dokter gigi berhenti mengutak atik gigi saya, begitu dia mendengar suara jimatnya berbunyi. Beberapa saat, dia asyik dengan jimatnya tanpa mempedulikan saya. Pikirnya mungkin lebih baik berkutat dengan jimat, dari pada mendorong dorong jigong (di gigi saya…)

Sebegitu responsive nya kita terhadap tuntutan jimat, tidak peduli sedang berkendara, menyeberang jalan, atau di situasi yang tidak seharusnya, kita tak cemas akan nasib keselamatan kita. Kita sudah teken kontrak cinta mati dengan jimat kita. Buktinya kita tak peduli keselamatan sendiri!

Mengheningkan cipta
Coba perhatikan. Baik di ruang meeting, di tempat umum, bis pesawat, mall, maupun di lift dan terkadang sedang menyeberang jalan, lihatlah khidmatnya kita, para pengguna jimat ini apabila sedang merapalkan pesan pesan panjang dan pendek yang di terima dan dikirim melalui jimat. Dengan gaya bak para pendoa yang serius, dengan kedua tangan di rapatkan, jimat di telapak tangan, kepala di tundukkan… Wah kalah deh kekhusukan nya dibandingkan sedang mengamini doa yang di pimpin pak kyai.

Dahsyatnya kesaktian jimat ini
Begitu dahsyatnya pengaruh dan kesaktian jimat ini, sehingga apapun bisa dilakukan dengan perantaranya. Misalnya mengirim pesan pendek ke pacar, teman dan musuh. Menceraikan dan memutuskan tali cinta. Bahkan juga mampu mengekspos skandal cinta para pesohor negeri. Merubah hidup banyak manusia melalui sms bisnis dan voting idol idol-an. Mengkantrol tingkat percaya diri. Dan membuat stress. Penipuan pun marak menggunakan jimat ini.

Tumbal
Barang siapa tak memiliki jimat di jaman ini, ada baiknya pindah ke gua atau bertapa di puncak gunung sana. Kalaupun memaksa hidup berbaur di antara para pengguna, non-pengguna jimat ini akan merasakan akibatnya. Menderita batin dan penurunan rasa percaya diri. Di kucilkan dari komunitas, dilecehkan keberadaannya, dan di pertanyakan keabsahannya, apalagi bila berurusan dengan bisnis.

Bila satu saat jimat ini tertinggal atau hilang, runyamlah hidup kita. Biasanya ini menimbulkan dampak psikologis yang tidak sedikit. Stress. Gelisah. Menyesal. Terkenang-kenang. Belum pula dampak materi karena kehilangan, bahkan bisa rugi lebih banyak lagi, karir tamat, rumah tangga kiamat, kala semua rahasia nama, photo dengan WIL/PIL, password, nomer rekening bank, dan banyak lagi jatuh ke tangan orang tak bertanggung jawab.

Kecintaan kita nampaknya lebih lebih kepada jimat daripada kepada orang terdekat kita. Buktinya, dia lah yang selalu menjadi perhatian utama. Kesadaran kita akan kehadiran jimat ini sudah pada tingkat akut dan parah. Tak ada lagi yang bisa menyembuhkannya. Jimat dengan intensitas keakraban seperti ini pada akhirnya akan menuntut tumbal. Keluarga kita. Sahabat kita. Diri kita sendiri. Dan keselamatan kita.

Nah, seperti apa jimat Anda? Apakah Anda sang Tuan? Atau sang Budak dari Jimat tersebut? Cuma Anda yang tahu jawabannya. Apa? Anda bertanya bagaimana dengan saya? Haduh tobat tobaaatt! Rasanya gak pengen punya jimat, tapi apa boleh buat…***

Kisah Sang Pemburu Senyuman

Tulisan yang sama, bisa dilihat disini:
http://community.kompas.com/read/artikel/2582

Berapa banyak dari Anda yang tiba tiba hatinya ber bunga bunga dan hidungnya kembang kempis, hanya karena seseorang – apalagi bila orang itu cantik atau ganteng – tersenyum ke arah Anda. Tidak, Anda tidak sedang ge-er. Ini normal kok. Tapi yang tidak normal adalah bahwa senyum gratis dan tanpa pretensi itu sekarang sudah jadi barang langka. Apalagi di Jakarta ini. Inilah salah satu perburuan saya yang belum berakhir. Mencari senyum yang hilang dari wajah para penduduk Jakarta…


Bangsa kita konon terkenal ke seluruh dunia karena senyum yang hangat. Bahkan salah satu iklan yang saya lihat di salah satu majalah ngetop di Amerika Utara menjual senyum Indonesia, kira kira bunyinya begini: “Going Alaska? Experience the warm smile of Indonesian with Holland Cruise Ship”. Hah? Ngapain juga menikmati senyum hangat Indonesia di Alaska? Walaupun iklan ini rada enggak nyambung, tapi bangga juga dong sebagai bangsa..

Dahsyatnya senyuman!
Banyak para Jakartans –termasuk saya, mungkin- sudah berubah menjadi zombie. Manusia tanpa senyum. Mungkin karena menjamurnya kejahatan. Mungkin asap knalpot dan macetnya jalan yang menyebabkan. Mungkin juga perlombaan terlalu berat untuk mengejar hidup, dan kebahagiaan. Padahal apa nikmatnya hidup ini tanpa senyum? Padahal asesoris wajah yang paling hebat dan paling murah ya itu, SENYUM! Padahal tak bisa di pungkiri, biarpun tanpa hasil riset, sudah terbukti bahwa senyum bisa mencairkan hati sekeras batu. Padahal berdasarkan riset, orang yang suka tersenyum, lebih bahagia dan punya kesempatan lebih besar untuk sukses dalam hidupnya. Tapi kenapa banyak orang masih sayang untuk membaginya?

Senyum itu kan reaksi normal dari stimuli tertentu, sama halnya dengan bahasa non verbal lainnya. Dan coba deh perhatikan, mana ada satu kultur di manapun di dunia yang punya bahasa tubuh berbeda untuk mengungkapkan makna senyum. Senyum punya bahasa universal! Membuka mulut, menarik bibir kearah bawah, memperlihatkan gigi, tak peduli jika ompong atau berjigong… Senyum secara teknis adalah ungkapan ekspresi wajah yang di bentuk melalui pelekukan otot dekat kedua garis sisi mulut kita atau keduanya garis mulut dan otot dekat kelopak luar mata..
Senyum Tulus
Menurut pakar syaraf Perancis jaman baheula, Duchenne, senyum yang melibatkan otot wajah dekat bibir, dan otot wajah dekat mata, lah yang bisa di sebut sebagai senyum asli dan tulus. Jadi kalau ingin tahu apakah senyum itu tulus atau tidak, lihatlah kontraksi otot di sisi luar mata, ada atau tidak? Tapi hati hati, jangan sampai Anda mengirim sinyal yang keliru waktu memelototi wajah di depan Anda.

Senyum, terutama yang tulus punya potensi tular yang sangat besar. Ketika melihat seseorang tersenyum, akan membuat kita merasa senang luar biasa dan membalas senyum itu juga. Otak kita pada saat yang sama akan mengeluarkan endorphin yang sangat penting sebagai pengontrol rasa sakit, dan dapat memberi perasaan senang, damai dan bahagia. Pernahkan Anda lihat seseorang menjadi marah karena diberi senyum tulus dan bahagia? Orang gila, barangkali ya.

Senyum 5 Watt
Ada juga senyum yang tanggung, diantara tulus dan palsu. Yang seperti ini sudah lewat dari momen senyum palsu, tapi belum sampai ke senyum tulus. Saya menyebutnya senyum 5 watt, tak terlalu berseri seri, tapi punya potensi ke arah senyum bahagia beneran,. Biasanya kita melancarkan senyum 5 watt ini pada saat kita malu atau sedang malu-maluin. Tak apalah, senyum 5 watt pun jadi.

Saya punya seorang teman yang senyum tidak yakin kearah seorang cowok di seberang meja di sebuah restaurant. Tak lama sesudah itu, mereka sudah telpon telponan. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri yang bahagia. Tapi harap maklum, adegan dan hasil dari senyum Anda bisa bervariasi, dan hasil akhir tidak di tanggung.

Senyum Formal
Senyum yang cuma melibatkan otot dekat kedua sisi garis mulut kita bisa di bilang senyum formal yang tingkat ketulusannya mungkin tak bisa di andalkan. Biasanya sih, kita bisa mendapatkan senyum seperti ini dari para marketer, salesman, hotel, bank, senyum ‘Garuda’, dan orang orang yang baru bertemu.

Tapi ada juga yang paling tak bisa diandalkan makna ketulusannya yaitu senyum hangat (hangat tahi ayam) bapak bapak dan ibu ibu para calon petinggi negeri yang bertebaran di spanduk, poster dan tempelan stiker di sepanjang jalan, di TV, koran dan majalah di Indonesia Raya saat ini. Saya sampai pusing sendiri. Tengok sana senyum, tengok sini senyum. Semua senyum itu seolah memanggil manggil. Ayolah pilihlah saya… Tunggu saja, kalau tak menang, modal terbuang, senyum hangat (tahi ayam) itu bisa berubah, hilang hangatnya tinggal tahi nya. Uasem Tenan!!

Percobaan Senyum
Menjadi orang Indonesia, saya punya kebanggaan tersendiri karena kayanya negeri ini dengan beragam dan berbagai macam hal. Apapun bisa ditemukan, dari yang paling bagus sampai yang paling hancur. Namun satu hal, masih susah buat saya menemukan senyum tulus dari seseorang yang tidak saya kenal. (Memang saya gila juga sih, untuk apa mengharap senyum dari seorang asing?). Dalam pencarian senyum itulah, saya membuat eksperimen perburuan senyum di airport, tempat yang paling sering saya kunjungi selain mall, beberapa tahun terakhir ini. Tempat ini kaya sekali akan latar belakang demography dan psychograpy. Berbagai orang dari latar belakang yang berbagai pula, tumplek blek bersatu. Disinilah saya bereksperimen memburu senyuman dan melontarkan senyuman kepada orang orang tak dikenal yang saya temui. Dan inilah hasil akhirnya:
- Tanpa Senyum atau senyum curiga:
Bila saya coba tersenyum ramah duluan kepada para satuan pengaman di bagian scanning X-ray. Mungkin pikir mereka buat apa sih senyum senyum, pasti ada yang coba ditutu- tutupi dengan senyum itu. Sialnya, jika saya memulai dengan senyum, pasti saya akan ditanya, dan kadang diminta membongkar tas saya, meskipun tak ada sesuatupun yang mencurigakan di dalamnya. Belajar dari seringnya mengalami ini, sayapun akhirnya selalu pasang tampang netral atau senyum formal angkuh bila menghadapi mereka. Ajaibnya, bongkar membongkar tak terjadi lagi.

- Senyum ge-er :
Ini biasanya terjadi jika target sasaran senyum saya mengira saya naksir mereka. Hati hati jika melakukan ini, bisa bisa merepotkan Anda, karena jika target merasa senang, biasanya akan terjadi gangguan berupa obrolan lebih jauh, atau mengajak berkenalan.
- Boro-boro senyum:
Jangan harap mendapatkan senyum dari para petugas di bagian pengecapan passport sebelum berangkat atau di ketibaan. Kalaupun kita senyum, bisa bisa mereka merasa dilecehkan. Jangan coba coba menyapa lebih dulu, apalagi mengajak mereka ngobrol. Bisa makin curiga. Dan bersiap siap saja untuk sakit hati karena dicueki. Maklum, jaga image dengan cara pasang muka kencang, sepertinya masih diperlukan. Jujur sih, sesekali ada juga yang mengendorkan mukanya dan mengganjar para penumpang dengan senyum tanggung mereka.

- Senyum otomatis:
Ini bisa didapat dari para petugas di konter konter penerbangan. Ya, lumayan lah daripada tak ada senyum sama sekali kan?

- Senyum gombal:
Ini biasanya datang dari para penjaja liar yang menawarkan parfum, tas, baju dan makanan, dan transport. Mereka akan memberikan senyum gombal nya yang manis kepada calon penumpang, penunggu dan penggembira di airport, sampai kita menolak jaja-an mereka, senyum gombal itu akan berubah menjadi masam!
- Senyum menyeringai seolah menemukan mangsa:
Dalam beberapa kali experimen saya, ini salah satu senyum menyebalkan yang saya temui. Biasanya datang dari para penjaja servis transport tak terdaftar, atau para lelaki berpakaian petugas, entah petugas apa. Para transporter ini tak kenal kata tidak yang diucapkan dengan disertai senyum manis dan sopan. Sekali lagi, ini salah saya juga, memberikan senyum ramah kepada mereka. Di beberapa kesempatan, senyum itu dianggap senyum naïve dari seorang TKW. Beberapa petugas bahkan mendekati saya dengan memasang tampang wibawa, dan mungkin bermaksud memeras, berujar dengan galaknya: “TKW ya! Sini dulu!” Haduh! Mentang mentang tampang saya yang kampungan ini dan dandanan yang seadanya. Tobaaat deh!

Sejak rangkaian eksperimen di airport itu, saya tidak sembarangan lagi menebarkan pesona senyum saya di sembarang tempat, meskipun saya selalu terngiang ngiang kata kata mutiara yang entah milik siapa: Today, give a stranger one of your smiles. It might be the only sunshine he sees all day. ***

Kendali Tombol Panik

http://community.kompas.com/read/artikel/2699

Saya meloncat terbangun dengan dada berdegup kencang. Bingung. Ada dimana saya? Tak sepotongpun pakaian melekat di tubuh. Saya merasa sendiri, tapi suara yang cukup keras itu membangunkan saya. Pikiran saya yang masih bingung karena terbangun kaget, mereka reka, kenapa ada suara cowok? Berbahasa India pula. Perasaan sih saya belum pernah ke India? Perasaan waktu berangkat tidur tadi saya sendirian? Tak lama sang lelaki berbahasa Mandarin terdengar. Lho kok?

Kebingungan saya baru berakhir setelah terdengar pengumuman berbahasa Inggris. Barulah saya sadari suara itu berasal dari public announcement meminta para tamu hotel di Singapore ini untuk bersiap siap evakuasi karena kemungkinan ada api. Saya lari ke pintu di lantai 16 itu, tanpa apa-apa saking paniknya, beruntunglah belum sempat menjebretkan pintu dan terkunci diluar. Bayangkan kalau itu terjadi hiiyyy malunya! Saya kembali masuk kamar, sempat lari serabutan mencari baju dan dompet. Sial!

Beginilah nasibnya kalau hobi tidur telanjang, dan kurang perhatian pada tips tips keselamatan. Padahal saya adalah praktisi dan peminat masalah masalah keselamatan. Jika api dan evakuasi benar benar terjadi, mungkin waktu kritis yang terpakai untuk mencari baju, dan memakainya tidak akan menyelamatkan saya. Semenjak itu, saya berjanji, jika tidur dihotel sendirian, jangan sampai mencopot semua pakaian. Jika terjadi apa apa yang membutuhkan evakuasi, akan lebih sulit melakukannya.

Apakah Yang Paling Berharga?
Apakah yang pertama terlintas di kepala kita jika kita dihadapkan pada situasi sulit atau bencana yang memerlukan evakuasi diri? Jarang rasanya kita langsung berpikir ‘aku harus selamatkan diri’. Lebih sering yang pertama terpikir, ‘ya ampun, gimana nasib keluargaku, pacarku, binatang piaraanku, kalau aku mati…’ ‘Waduh, dompetku ketinggalan…’ ‘wah sebelum menyelamatkan diri, aku harus menyelamatkan harta benda’. Biasanya kalau pikiran pikiran seperti ini ditindaklanjuti, kita semakin lupa pada keselamatan diri.

Ini mengingatkan saya pada kebakaran sebuah gedung bank terkemuka di bilangan Thamrin, Jakarta bertahun lalu. Diceritakan ada seorang karyawan yang sebenarnya sudah selamat berada di pelataran gedung dalam proses evakuasi. Sayangnya, dia tiba tiba teringat dompet dan tas nya yang tertinggal di ruang kerjanya, dan dengan gagah berani kembali ke atas, untuk mengambil dompet tersebut. Damailah jiwanya, sang karyawan bukannya kembali ke tempat berkumpul di halaman gedung, tetapi kembali ke Yang Maha Kuasa.

Tips Mengurangi Rasa Panik
Selain lupa diri, dan lebih memikirkan orang lain atau harta benda yang mesti diselamatkan dalam keadaan emergency, ada kondisi yang lebih parah lagi. Ini terjadi bila kita menjadi panik dan terpaku, tak mampu berpikir apalagi bertindak cepat dan logis. Hal ini dipengaruhi oleh kinerja bagian otak kita yang berhubungan dengan emosi – amygdale – mengendalikan bermacam macam emosi, dimana panik adalah salah satu manifestasinya (jangan ada yang protes ya, saya bukan ahli otak nih – pembaca yang lebih ahli silakan menambahkan).

Menurut penelitian dari berbagai sumber, pada saat bagian dari amygdale kita terpicu dan aktif, hanya memerlukan 6 detik saja untuk bebas berkeliaran, dan mengejawantah dalam tindakan. Enam detik kritis tadi bisa saja merugikan kita, bila kita tak mampu mengendalikannya. Dalam hal menghadapi bencana, kuncinya adalah mengendalikan picuan amygdale, meredam rasa panik yang timbul. Panik terjadi karena ketidak-siapan mental. Bukan hal yang mudah untuk menguranginya, kecuali kalau kita terbiasa dengan latihan latihan. Apakah bentuk latihan itu?
1. Afirmasi terhadap diri sendiri.
Sering seringlah mengatakan pada diri sendiri dengan sepenuh hati, ‘nyawa dan akal sehat adalah harta paling berharga, tak ada apapun yang menggantikannya.’ Tentu keluarga dan cinta, sangat berharga, tapi kalau tak ada nyawa, bagaimana kita bisa menikmatinya. Kalau tak ada nyawa dan akal sehat, bagaimana kita bisa mempertahankan keluarga dan cinta? Hal utama adalah yang pertama, yang selanjutnya akan lebih mudah mengikuti. Bila afirmasi terhadap diri sendiri ini sudah mendarah daging, akan sangat mudah melepaskan apa yang menjadi tak penting dalam hidup kita, bila diperlukan.

2. Jadilah sutradara, dimana kita dan keluarga kita merupakan pemain utama!
Kita bisa mengajak otak untuk memikirkan scenario bencana atau insiden yang paling mungkin terjadi dalam keluarga, bekerja, sewaktu bepergian, ataupun di situasi situasi tertentu. Tulislah scenario itu bila perlu, dan rincilah bagaimana cara terbaik seharusnya menghadapi situasi tersebut. Ini bisa menjadi bagian yang paling sulit, karena biasanya keluarga kita dan kawan kawan kita sendiri yang resistan. Bisa juga kita dianggap berlebihan, dan paranoid. Sewaktu saya melakukan mental drill terhadap keluarga ibu dan bapak saya, tentang bagaimana keluar dari rumah bila ada kebakaran. Ibu saya bilang: “Ah, umur itu di tangan Tuhan, kalo aku harus mati, ya mati aja. Kalo harus lari, ya lari aja lewat pintu. Tua tua gini-gini aku juga masih sekuat kebo…” lha iya, tapi kalo daerah pintunya udah penuh api, gimana hayo!

3. Berlatih memainkan imajinasi mental untuk menghadapi bencana.
Kita bisa menggunakan scenario yang sudah kita susun dan praktekkan bersama di poin ke 2. Ada pepatah alah bisa karena biasa. Membiasakan diri berlatih memainkan imajinasi mental akan mengurangi tingkat kepanikan karena secara mental kita sudah menyiapkan diri. Misalnya dalam kasus saya di halaman atas tadi, saya seharusnya sudah bisa membayangkan, bila harus evakuasi, kemana saya akan pergi? Dimanakah arah emergency exit? Kanan? Kiri? Berapa langkahkah pintu emergency kamar hotel saya? Apakah saya akan berjalan atau merangkak, bila banyak kepulan asap?

4. Seringlah bertanya sendiri: Bagaimana Kalau?
Inilah permainan antisipasi dan improvisasi yang bisa jadi sangat mengasyikkan, bila kita sudah terbiasa. Manfaat lain bisa di dapat, karena latihan ini seperti mengasah kepekaan dan kesiapan kita menghadapi sesuatu yang tidak terduga dalam hidup kita. Contoh kecil saat kita akan memasang lampu, dan saking malesnya kita menyeret saja kursi seadanya, bukannya mengambil tangga yang letaknya di bagian belakang rumah. Toh kursinya cukup tinggi. Bila ini yang terjadi, berhentilah sejenak, dan tanya diri: ‘bagaimana kalau saya terpeleset, soalnya dengan kursi ini saya akan harus berjinjit.’ Jawablah juga dengan jujur, misalnya: ‘mungkin tak apa apa, kaki saya kuat kok. Tapi mungkin saja terpeleset, dan kepala saya terbentur, atau kaki saya patah. Ongkos dokter lebih mahal dari pada waktu dan usaha saya mengambil tangga yang lebih aman…’ Silakan menciptakan contoh contoh lainnya…
5. Jadilah pemerhati yang teliti:
Kalau kita sudah terbiasa dengan poin 1-4, pasti akan sangat mudah menjadi pemerhati yang teliti terhadap situasi di sekitar kita, dan mainkan mental imaging jika kita ada di tengah tengah situasi itu. Contoh yang paling gampang: berapa banyak dari kita yang mengecek lokasi exit emergency pada saat kita berkunjung ke gedung tinggi, kantor atau mall? Hayo, tunjuk tangan! Pasti banyak. Apalagi perempuan seperti saya yang hobby window shopping, alih alih mengecek lokasi exit, -emangnya kita pegawai maintenance disana apa – yang pertama kita cek adalah tulisan SALE gede-gede, dan display manekin dan barang barang yang cantik… wuiss, sudahlah ileran duluan, boro boro ingat exit…

6. Pelajarilah hal hal teknis mengenai potensi bahaya, dan bagaimana menanggulanginya.
Nah, jika mental kita sudah siap, dan pikiran kita sudah terbuka akan pentingnya berprinsip keselamatan adalah yang hal utama, inilah saatnya membelajari hal hal yang keras. Hardwarenya. Soalnya, percuma juga tahu hal hal teknis, bila pikiran kita dan mental kita tidak siap. Serangan panik bisa datang kapan saja…Siapkan apa apa yang perlu diketahui di rumah, misalnya cara aman untuk membongkar barang listrik, cara menggunakan fire extinguisher, bahan bahan makanan atau kimiawi yang membuat kita alergi, dan lain lainnya.

Kalau kita sudah melakukan apa yang perlu dari semua poin diatas, dijamin deh serangan panik dalam keadaan emergency bisa dikurangi. Saya akhiri dengan sebuah cerita yang pernah saya baca, sayang sumbernya lupa – jika ada pembaca yang tahu, silakan di KOLOM KOMENTAR

Di sebuah warehouse luas untuk menyimpan bahan makanan yang berpendingin dan bersuhu sangat rendah, seorang pegawai yang tengah memeriksa stok makanan, terkunci di dalamnya. Sayangnya tak ada media baginya untuk menghubungi dunia luar memberitahu bahwa dia terkunci disana. Satu-satunya kesempatan adalah menunggu sampai keesokan hari. Siapa yang bisa menunggu sampai esok hari di tempat seperti kulkas raksasa begitu? Ketika ditemukan, si pegawai sudah tak bernyawa, tubuhnya meringkuk seperti menahan kedinginan. Ironisnya, pada hari dimana dia terkunci, pendingin di ruang tersebut bermasalah, dan suhunya tidak dingin seperti di kulkas. Nah lho! Mungkinkah, karena panik dan merasa tak ada harapan, si pegawai menutup semua kemungkinan harapan dari benaknya, dan membiarkan nyawanya melayang tanpa melawan?

Begitulah otopsi menyebutkan sebab kematian. Entahlah, but never underestimate the power of mind, my friends…