Friday, January 20, 2012

Kopi vs Rokok

Ketika kau cium aku, kuhirup bau mulutmu yang tiba tiba serasa bau rokok. Kulepaskan pagutan bibirmu. Ah kamu bohong. Kau bilang, kau bukan perokok, kataku dalam hati saja. Sudahlah, kuputuskan cintamu. baru rokok, sudah ngibul, mana bisa dipercaya urusan lain, apalagi cinta?

Aku baru tahu sekarang, bahwa bau mulutmu pagi itu, sebenarnya adalah bau kopi. Dasar norak, aku tak pernah minum kopi atau merokok, jadi tak paham betul bau keduanya. Sial! Kulepaskan cinta dan ciuman maut mu karena prasangkaku. Maafkan…**

Balada Sepotong kutang

“Mentang mentang letakmu di dalam, dan sudah tahunan tak ada yang mengagumimu, bukan berarti aku tak peduli denganmu. Kamu simbol keperempuanan, kesuburan, kesehatan dan keseksian. Kamu simbol eksistensi perempuan yang tak terbantahkan. Kali ini aku punya sesuatu yang istimewa. Sepotong kutang. Bukan sembarang kutang. Dari merek yang paling top di dunia. Dan model terbaru pula. Belum ada di Jakarta. Harganya juga tak kira kira. Hayo kurang apa?”
Lalu dua potong simbol perempuan itu menyahutiku: “Tak kurang apa sih. Kami berterima kasih, kutang itu membuat kami terlihat lebih seksi. Dan membuatmu lebih percaya diri. Sayangnya, Cuma sekali saja kami nikmati. Saat ini, kawatnya meletot kesana sini, ih! Pembantumu, membilas memeras kutang kotor, seperti memeras santan. Sembari emosi, dihabisinya kutang kami…”

Rasain!

(setting: di pesawat dari Singapore ke Jakarta)
Gadis muda manis, cantik, mahasiswi: -(berujar dalam hati) ‘wah, gawat nih duduk deket Om Om. Garing banget!’

Lelaki paruh baya dengan perut dan rambut yang sudah mengalami krisis: - (berujar dalam hati) ‘wah, asyik nih, rejeki duduk deket cewek seger kinyis kinyis, mak nyus!

Gadis manis: (lagi, dalam hati) ‘ah gue pura pura baca deh…’

Namanya cewek, jadilah yang dibaca majalah belanja ‘on air shopping’ magazine nya punya airline itu. Dia berniat beli beberapa barang dari katalognya. Lelaki separuh baya berusaha nge-laba di setiap kesempatan dan dengan ramah mengajaknya ngobrol. Sang cewek manis pun meladeninya.

Singkat cerita, sang lelaki separuh baya itu dengan gagah berani menawarkan untuk membayar barang barang yang dipesan si gadis kinyis kinyis ke pramugari pesawat. Yaaa, siapa yang nolak rejeki? Si gadis dengan senang hati menerima. Apalagi lelaki itu, dia pikir ‘asyik! Berhasil juga rayuan duit gue…’

Sayang, sewaktu pesawat udah mendarat, penumpang sudah berdiri, siap buat keluar pesawat, sang lelaki baru sempat bertanya beberapa informasi, kuliah dimana, ambil jurusan apa. Maklum, setelah dapat barang barang yang di belikan si Om, sang cewek manis ini ‘tertidur ‘sepanjang perjalanan…