Friday, January 20, 2012

Rasain!

(setting: di pesawat dari Singapore ke Jakarta)
Gadis muda manis, cantik, mahasiswi: -(berujar dalam hati) ‘wah, gawat nih duduk deket Om Om. Garing banget!’

Lelaki paruh baya dengan perut dan rambut yang sudah mengalami krisis: - (berujar dalam hati) ‘wah, asyik nih, rejeki duduk deket cewek seger kinyis kinyis, mak nyus!

Gadis manis: (lagi, dalam hati) ‘ah gue pura pura baca deh…’

Namanya cewek, jadilah yang dibaca majalah belanja ‘on air shopping’ magazine nya punya airline itu. Dia berniat beli beberapa barang dari katalognya. Lelaki separuh baya berusaha nge-laba di setiap kesempatan dan dengan ramah mengajaknya ngobrol. Sang cewek manis pun meladeninya.

Singkat cerita, sang lelaki separuh baya itu dengan gagah berani menawarkan untuk membayar barang barang yang dipesan si gadis kinyis kinyis ke pramugari pesawat. Yaaa, siapa yang nolak rejeki? Si gadis dengan senang hati menerima. Apalagi lelaki itu, dia pikir ‘asyik! Berhasil juga rayuan duit gue…’

Sayang, sewaktu pesawat udah mendarat, penumpang sudah berdiri, siap buat keluar pesawat, sang lelaki baru sempat bertanya beberapa informasi, kuliah dimana, ambil jurusan apa. Maklum, setelah dapat barang barang yang di belikan si Om, sang cewek manis ini ‘tertidur ‘sepanjang perjalanan…

Tuesday, November 02, 2010

Surat Poligami

(ini surat lawas yang saya tulis ketika AA Gym menikah lagi. Mungkin surat ini sudah basi, tapi polemic mengenai poligami masih selalu hot buat di perbincangkan di Indonesia raya tercinta ini, yang notabene penduduknya yang lelaki kebanyakan muslim, baik yang ktp atau yang beneran. Isi surat ini membawa semangat poligami boleh saja asalkan meniru jejak sejati nabi Muhammad. Kayak apa tuh? Nah baca aja surat dibawah ini…)

Aa Gym yang beruntung dan di rahmati Allah,
Betapa beruntungnya Aa, mempunyai istri dua orang yang cantik-cantik dan shalehah, mempunyai tujuh anak normal yang sedang tumbuh, cerdas, dan kasep-kasep. Bahkan sekarang tambah anak lagi secara instan. Pasti anak-anak Aa senang mendapat kakak dan adik tambahan. Aa juga punya juta’an jama’ah lelaki dan perempuan yang memuja dan mengidolakan Aa. Aa punya rejeki yang terus mengalir melalui bisnis halal yang berkembang pesat. Aa menjadi orang terkenal di seluruh jagat nusantara. Subhanallah, alangkah besar ni’mat dan kasih sayang Allah pada Aa.

Wah apalagi sekarang ini, Aa tambah ngetop. Tidak ada seharipun tanpa nama Aa di media radio, tv, koran, majalah, sms, milist, website, obrolan santai, bahkan disela sela percakapan dan pertengkaran suami istri. Dan apalagi di benak lelaki-lelaki yang mengidolakan Aa. Lelaki-lelaki yang kaya raya maupun lelaki yang penghasilannya cuma pas-pasan untuk merokok.

Saya mengirim surat terbuka ini melalui milis dengan harapan semoga tiba di tangan Aa dengan selamat. Pertama-tama ucapan yang paling pantas adalah selamat menempuh hidup baru bersama istri kedua. Dan yang kedua atas nama orang banyak, saya berterima kasih melihat dan membayangkan kebaikan dan keuntungan dari teladan Aa menikah lagi. Aa memang jempolan dalam ber bisnis, dan baik hati juga bisa mendongkrak penghasilan dan keuntungan banyak pihak, hanya dengan menikah lagi. Lihatlah:

- TV, radio, infotainment, sms, website, koran, mendapatkan keuntungan tambahan dengan peminat cukup tinggi terhadap berita tentang Aa

- Para penulis mendapat rejeki honor tulisan mereka mengenai Aa, dan mengenai poligami dalam Islam. Bahkan Jakarta Post pun yang pelanggannya kebanyakan orang bisnis dan orang asing menurunkan satu editorial tentang Aa dan poligami.

- Salon salon dan toko kecantikan yang kebanjiran ibu ibu yang berusaha meng-upgrade wajah dan tubuh agar suami nya tetap tertarik pada mereka

- Para lelaki mendapatkan satu alasan valid baru untuk meyakinkan para istri mereka tentang pentingnya untuk sang istri mempunyai seorang rival di rumah tangga.

- Rumah sakit terutama para psikolog dan psikiater, dan penasihat perkawinan mendapat rejeki tambahan dari para perempuan yang stress masalah ini.

Tetapi sayangnya Aa, ada juga yang merasa tidak beruntung dengan keputusan Aa menikah lagi:

- Ibu-ibu pengagum Aa kebanyakan stress dan menangis Bombay karena kecewa pada Aa.

- Para gadis patah hati karena mereka tidak terpilih sebagai istri kedua Aa. Sembari mereka harap-harap cemas, kapan ya, Aa memilih istri berikutnya.
- Para perempuan secara umum dilanda rasa cemas yang berkepanjangan karena takut suaminya akan kawin lagi. Meskipun tidak semua suami suka nyelonong.

Ibu saya saja sekarang ini sudah mulai was-was. Dia jadi sering bertengkar dengan Ayah saya karena khawatir Ayah saya akan kawin lagi. Padahal keduanya sudah berusia 65-an tahun. Lagipula, siapa yang mau lagi dengan Ayah saya, sudah tua dan bukan orang kaya.

Adik saya yang gendut karena sudah melahirkan 6 orang anak, mulai gelisah. Dia mendadak ikut akupuntur kecantikan, dan membeli alat olahraga penyusut perut. Dia khawatir suaminya melirik perempuan lain.

Dan tetangga kerja saya di kantor yang orang lelaki muslim Amerika, dia juga bingung istrinya jadi was-was. Saya mencuri dengar dia (karena kantornya persis disebelah saya) bertelpon dengan speaker dengan istrinya yang nampaknya adalah orang Indonesia, tinggal di Houston sana. Istrinya yang was-was menginterogasi sang suami. “bener, kamu enggak kemana-mana?” (diulangi beberapa kali) Bener! Kata si suami. “Syukur alhamdulillah…inget lho, kamu ada keluarga, istri dan anak-anakmu yang menunggu dengan setia disini… “ kata sang istri.

- Teman-teman saya jadi lebih senang debat kusir mengenai Aa daripada mendengarkan ceramah saya di jam makan siang tentang seks dan trik di ranjang untuk menyenangkan diri dan suami. Padahal menurut saya, topik ini lebih menarik lho Aa, dari pada bergunjing soal Aa, benar tidak?

Kalau saya sih, peduli amat. Aa bukan saudara, bukan kakak, bukan ayah, bukan siapa-siapa saya. Biar saja Aa mau apa itu hak Aa sendiri, betul begitu?

Cuma saya heran kenapa sih hanya gara-gara seorang Aa, terjadi gelombang rasa tak percaya pada suami, pacar dan lelaki. Kata mereka, “kalau lelaki sekalem, seagung Aa bisa membagi hati, bagaimana dengan suami saya?”

Beruntunglah saya bukan pengagum Aa dan tak pernah mengidolakan Aa, jadi saya tak sakit hati seperti ibu-ibu lain. Lelaki yang saya kagumi dan idolakan adalah Muhammad Rasulullah, yang dalam kehidupannya, membatasi poligami sampai empat saja, di jaman dimana beristri tak terbatas sudah menjadi budaya.  Muhammad yang menikahi janda Khadijah yang lebih tua usia (40 tahun) sementara Muhammad sendiri masih perjaka ting-ting 25 tahun.  Muhammad yang setia monogami sampai wafatnya Khadijah setelah 28 tahun pernikahan bahagia, meski Khadijah tidak memberikan seorang putra pun.

Saya mengidolakan rasul Muhammad yang menduda setahun baru menikah lagi, itupun dengan seorang nenek bernama Saudah bint Zam’ah berusia 65 tahun (bahkan menurut sebagian sumber, usia 72 tahun). Muhammad menikahi nenek tersebut untuk melindungi sang nenek dari keluarganya yang memusuhi karena berislamnya. Muhammad yang menikahi perempuan dan janda terlantar untuk melindungi kehormatan mereka. Untuk jadi catatan, menjadi janda pada masa itu sangat berat. Bahkan pada masa sekarang saja menjadi janda bukan perkara gampang, dan banyak perempuan memilih hidup menderita asalkan bersuami.

Saya mengagungkan Muhammad yang tidak setuju dan marah waktu mengetahui anaknya Fatimah az Zahra akan dimadu. Beliau bahkan menyatakan nya secara terbuka dalam pidatonya. Sampai tiga kali disebutkan: “Aku tak ijinkan!” “Menantuku boleh kawin lagi asal putriku diceraikan...!” Kalau Ali bin Abi Thalib yang adalah menantu Muhammad, orang terdekatnya, salah satu orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad, tidak diijinkan, apa artinya? Silakan A’a tebak sendiri. A’a pasti lebih jago dari saya.

Aa yang sedang berbahagia,
Agak susah bicara mengacu qur’an di surat saya ini, karena pasti akan jadi debat kusir, mengingat penafsiran yang berbeda-beda. Aa orang yang pintar agama dan pandai berlogika, jadi bisa saja saya mati langkah dalam mengemukakan keberatan saya akan poligami. Almarhum cendekia dan ulama besar Buya Hamka saja sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya mengenai poligami. Beliau hanya bisa bilang bahwa dia tidak menganut poligami karena pedih luka yang masih diingatnya ketika sang Ayah berpoligami.

Muhammad Abduh saja, seorang sosiolog, cendekia Mesir yang terhormat dianggap seorang liberal karena penafsirannya terhadap bunyi surat Annisa mengenai poligami itu sebenarnya adalah anti poligami. Siapa pula saya, seorang perempuan biasa yang menolak poligami, tentu tak perlu digubris oleh A'a.  Pasti lebih banyak ahli tafsir yang notabene lelaki berada di sisi yang sama dengan Aa, pro poligami. Selain sebagai perempuan, yang bisa jadi dianggap pendapatnya biasa, ilmu saya baru sedalam ember, Aa. Bahkan embernya pun sering bocor...

Saya cuma mau minta tolong sama Aa. Bilang, Aa, bilang pada lelaki-lelaki yang hendak menuruti jejak Aa seenaknya, bilang begini:

“Hallauw... Bapak-Bapak yang dirahmati Allah. Kalau mau berpoligami turutilah jejak Muhammad Rasulullah, jangan jejak saya. Saya kan manusia biasa... apalagi kalau Bapak belum sampai ilmunya, dan belum mengerti bagaimana... untuk amannya, ikuti jejak poligami mulia Muhammad secara utuh, yaitu:

1. Menikahlah dahulu selama 28 tahun dengan istri pertama, atau tunggu sampai istri sudah meninggal, barulah cari istri kedua...pastikan istri lebih tua paling tidak,15 tahun, seperti sewaktu Muhammad berusia 25 menikah dengan Khadijah yang berusia 40.

2. Mendudalah dulu selama setahun, seperti halnya Muhammad menduda dan berkabung selama setahun untuk Khadijah.

3. Istri kedua haruslah janda berusia 65 atau lebih tahun dengan kondisi yang sama seperti Saudah, dengan keluarga berbeda iman, dan suami yang gugur di medan perang.

4. Setelah itu silakan mencari istri ke tiga dan ke empat dengan kriteria persis seperti istri-istri Muhammad.

5. Dan bersikap adillah sebagaimana halnya Muhammad.

Gimana, Bapak Bapak, bisa?

Kalau hal itu tidak terpenuhi, jangan mengira poligami kalian itu adalah mengikuti jejak Rasul Muhammad. Nanti beliau menangis dari atas sana karena banyak lelaki yang menjual nama Nya dan ayat suci Allah untuk menjustifikasi keinginan yang semata-mata pribadi sifatnya. Kalo memang tak tahan mau poligami juga, tolong jangan bawa-bawa nama agama dan Muhammad sebagai pembenaran ya Bapak-Bapak... Bilang saja, saya kebelet, ngebet, pengen punya istri baru ...”

Saya jamin Aa,
Para lelaki pengagum dan jama’ah Aa pasti akan berpikir seratus kali untuk ber poligami mengikuti jejak junjungan kita Muhammadullah Muhammad SAW. Paling-paling mereka akan berpoligami mengikuti jejak Aa. Atau mengikuti hawa napsu saja...

Yang terakhir Aa,
Para perempuan yang secara tidak langsung mengalami kerugian psikologis dan tekanan batin maupun kerugian materi untuk membeli alat kecantikan, sa’at ini tak tahu harus mengadu kemana. Bisakah A’a membantu jalan keluar? Mungkin memberikan ceramah tentang rasa percaya diri?
Saya tunggu jawaban Aa. Tapi jangan lamar saya ya Aa, saya janda beranak satu, dan tidak muda lagi..
***

Saturday, September 11, 2010

Suatu Malam di Pantai Juhu

Apalah yang bisa di lihat di Mumbai dalam beberapa hari yang padat acara, selain gadis cantik dan cowok ganteng seperti di film film Bollywood, di tempat kami ber-acara di Grand Hyatt? Saya kepingin sekali melihat lihat Mumbai yang sebenarnya. Bukan yang glamor, wangi dan indah. Mumbai yang milik jelata, berkarakter dan berjiwa.
Dan saya cuma punya kesempatan satu malam untuk melakukannya, itupun sudah larut. Sudah hampir jam 10 malam sewaktu beberapa teman India saya berbaik hati mengajak jalan jalan ke Juhu. Pantai yang cukup ngetop di Mumbai ini, indah, katanya. Dan sering di pakai oleh para produser film Bollywood untuk shooting film. Teman saya Rakesh bilang, ‘pantai ini kelihatan glamor di film, tapi, lihat saja deh malam ini, Juhu bukan hanya milik borju.’

Pantai Juhu terletak sekitar 18 kilometer di bagian utara dari pusat suburbia Mumbai, sekitar setengah jam perjalanan berkendara dari Grand Hyatt tempat kami menginap. . Taxi kami adalah taxi kelas ‘bodol’, tanpa ac, tanpa seatbelt, tanpa meteran, dengan bodi mungil yang ruang kursinya mesti berbagi, duduk berduaan terpaksa beradu badan. Dan rasanya normal normal saja naik taksi kelas bodol ini dari hotel mewah sekelas Grand Hyatt. Tak ada satupun dari kami yang merasa inferior biarpun sekeliling kami bintang bintang wangi dan cantik ganteng bermodalkan mobil mewah seliweran.

Malam sudah larut, tetapi menikmati kesibukan jalanan di Mumbai, serasa malam baru saja dimulai. Banyak orang masih keluyuran di jalan, para penjaja kaki lima dan pasar kaget di tepi jalan raya masih terang benderang, anak kecil dan remaja pun tak ketinggalan. Tak jauh dari kesibukan malam Jakarta.

Juhu menurut saya mirip-mirip pantai Kuta di Bali yang pemandangannya selalu spektakular kapanpun dilihat. Sayang, saya tak sempat lihat sunset yang katanya spektakular dilihat dari pantai Juhu ini yang menghampar luas ke laut Arabia. Yang membuatnya menarik dilihat malam seperti ini mungkin justru adalah kesibukan disana dan para pengunjungnya.

Hal pertama yang menyambut di area masuk ke pantai Juhu ini adalah deretan kios makanan, gemerlap dengan lampu neon kuningnya dan asesori makanan di diplay Hmm surga makanan local jika mau mencobanya. Sayang kami masih super kenyang, dari acara cocktail dan makan malam di hotel dengan para calon klien kami.

Sembari berjalan menyusuri pantai dengan kawan saya Rakesh, Sheema dan Sanjay, saya menikmati pantai Juhu dan mengambil beberapa foto. Sementara kedua kawan kami yang lain entah kemana. Tapi tak apa, angin sepoi dari arah laut sudah membuat mood saya senang luar biasa.

Ini oleh oleh photo amatiran yang saya buat:

Komidi Monyet

‘Uncle, uncle…’ teriak seorang gadis kecil kea rah seorang lelaki paruh baya yang menggandeng monyet di tangannya. Rupanya sang gadis cilik itu sedang jalan jalan malam dengan ibunya. Setelah tawar menawar untuk monyet penampilnya, sang Bapak menyuruh sang monyet beraksi, menari dan lari lari. Beberapa orang lagi berkerumun menonton.

Kaki lima di pantai. Dimana ada orang, disitulah ada kaki lima. Barang dagangannya tidak jauh beda dengan kaki lima di Indonesia, mainan anak anak, dan asesori wanita dengan warna warni neon yang menyolok. Tak jauh dari sana ada komidi putar ukuran kecil. Pemiliknya sedang asyik memutar komidi, dan 2 orang gadis cilik yang naik komidi putar tengah menjerit ngeri dan senang diiringi debur ombak pantai yang Cuma kelihatan busa putihnya meliuk menari…

Tak jauh dari sana, ada yang berkelap kelip dengan lampu disko dan music lokal yang bergairah. Rupanya para penjaja penyewaan mesin berat badan dan mesin pembaca nasib yang di lengkapi dengan layar tv mini tempat orang yang sedang menimbang berat badan atau membaca nasibnya bisa menikmati film atau pun lagu. Dasar Bollywood, tak mau ketinggalan dunia hiburan…



Es serut dan Jagung Bakar
Sanjay kawan saya mengajak mampir ke tukang es yang memajang botol dengan warna sirop mencolok, lebih pantas jadi warna cat dinding di sekolah TK. Sewaktu mereka menawarkan membelikan es serut yang di rendam sirop warna warni itu, saya agak ragu. saya curiga warna nya berasal dari pewarna industri. Belum lagi dari segi kebersihan, jari tangan si abang penjaja nya kelihatan kotor.
 Apa karena kulitnya memang gelap ya hahaha. Mau menolak tak enak. Dikira nanti sok borju, meskipun teman India saya yang sudah lama hidup di US sudah menolak atas nama kami berdua. Saurabh teman saya yang lain bilang sembari bercanda: ‘oh come on, you’ve got to try it. It’s a rare chance for you to get cholera…’ – ‘ayolah coba. Kapan lagi ada kesempatan langka untuk dapet kolera, hahaha’.

Saya nyerah juga, dan memilih sirop warna coklat, yang saya anggap lebih aman. Saya coba es serut itu sececap, rasanya aneh. Tak ada manis manisnya. Asin dan asam. ‘Oh itu memang isinya es, garam dan asam atau jeruk nipis’ sela Sanjay ketika saya tanya. Lalu darimana warna coklatnya? ‘mungkin dari air laut yang butek itu,’ kata Saurabh terkikik. Saya tak bisa berpura pura menikmati es coklat palsu ini, yang akhirnya jadi penghuni tong sampah. Maaf deh.

Untuk menghibur saya dari kecewa es palsu itu, sanjay kembali mentraktir saya. Kali ini makan jagung bakar, yang sebenarnya sudah saya tolak, tapi akhirnya saya terima dengan berat hati. Ah, ternyata rasanya juga hampir sama anehnya dengan es serut coklat asin itu. Rupanya jagung bakar di pantai Juhu ini memakai campuran, bukan mentega dan bumbu barbekyu, tapi taburan garam dan perasan jeruk nipis! Hah! Ketemu lagi deh…

Setelah puas menikmati Juhu, kami kembali ke dunia palsu Mumbai dalam gemerlap dan wangi nya hotel bintang lima Grand Hyatt yang jauh sekali dari dunia nyata disana…