Tulisan tentang toilet dan kita ini bisa juga dibaca di
http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/26/700/ngobrolin_toilett
Menurut hasil riset di beberapa situs internet terpercaya, rata rata orang di dunia menghabiskan 3 tahun dalam hidupnya melakukan bisnis ini, besar dan kecil, di suatu tempat yang sangat pribadi. Bisnis dan kegiatan ini juga sangat pribadi hingga biasanya kita tidak mau berbagi dengan orang lain, betapapun dekatnya hubungan kita dengan orang lain itu. Sayangnya seringkali bisnis ini memang benar benar kotor dalam arti sebenarnya.
Dalam disiplin manajemen waktu, bisnis ini biasanya berada di kwadrant 1, penting dan mendesak, sekarang ya sekarang, tak bisa ditunda lagi. Penundaan akan berakibat fatal, gawat dan memalukan… Saya sedang bicara tentang bisnis Toilet. Siapa yang tak kenal dan tak sayang yang satu ini? Sebagai salah satu tempat yang paling penting bagi hidup kita, seberapa besar kita memberi perhatian kepadanya, terutama di ruang publik? Karena pentingnya bisnis ini, marilah melakukan perbincangan T, Toilet dan membahas bagaimana kegiatan toilet ini bisa berlangsung nyaman dan sukses, terutama saat kita di ruang publik.. Inilah beberapa tips yang bisa kita lakukan:
1. Gunakan waktu T ini semaksimal dan se-spesial mungkin.
Jika Anda seperti saya, pengguna aktif dari toilet, pasti Anda menghabiskan lebih dari hanya 3 tahun saja dari hidup Anda berurusan dengan toilet. Menggunakan waktu sebanyak itu hanya untuk satu kegiatan saja, bukan tindakan yang pintar. Mari kita nyambi, multi-tasking, melakukan banyak hal di saat yang sama. Lagipula secara biologis, kita memang di disain untuk multi-tasking. Bawalah buku, laptop, buku catatan, handphone, MP3, apa saja yang bisa membuat waktu kita berlalu secara efisien disana. Saya sendiri sering harus membawa buku bacaan atau buku catatan kalau kalau inspirasi mendadak datang saat saya menunaikan tugas mulia dan besar di toilet itu. Dengan catatan, jangan lakukan ini di toilet basah ataupun di mall-mall yang punya toilet kotor, basah dan sekedarnya, bisa repot. Hati hati juga dengan penggunaan handphone pada saat menunaikan tugas besar di toilet. Seringkali saya mendengar percakapan tetangga toilet, baik di kantor maupun di mall. ‘Halllooo hheee yaaa,’ (brruuuttt, serrrrr) ‘Hah, apa? Enggak kok, bukan bunyi apa apa, aku di restoran kok…’
Toilet adalah satu satunya tempat dimana kita bisa jujur dan menjadi diri sendiri, tanpa harus pikir pikir tentang ja-im jaga image. Tempat persembunyian yang tepat dari tamu tamu kantor yang tak di kehendaki, atau saat ingin menghindar dari boss dan rekan kerja. Pendek kata, toilet adalah tempat yang kaya akan inspirasi. Banyak perempuan seperti saya yang membuat toilet sebagai tempat menumpahkan gossip, tangisan dan kemarahan bila perlu. Bahkan juga melakukan hal hal terlarang seperti merokok dan ngobat. Dengan catatan, saya tak pernah melakukan keduanya, baik di toilet atau dimanapun. Toilet adalah saksi bisu yang baik hati, gunakan waktu disana se-spesial mungkin.
2. Bersiaplah, Selalu Bersiap…
Jika Anda pergi ke tempat umum seperti pusat belanja, pilihlah yang punya persediaan toilet cukup banyak, berfungsi, dan bersih, cukup air dan kertas toilet. Jangan hanya lihat dari megahnya sebuah bangunan mall. Kebanyakan mall di Jakarta punya kapasitas toilet yang menyedihkan baik secara kondisi maupun pemeliharaan. Jika tidak memasukkan faktor toilet ke dalam pertimbangan tempat berbelanja, percuma juga, Anda tak akan menikmati belanja mata dan dompet anda secara maksimal. Apalagi jika kita tanpa ba-bu lagi langsung menunaikan tugas besar, karena kwadrant 1 tadi, you gotta go when you gotta go, padahal ternyata tak ada air, dan kertas toilet habis. Hayo, mau bilang apa? Keluar dalam keadaan kotor dan bau? Hiiyyy. Jadi bersiaplah selalu dengan membawa air di botol minum, kertas tissue, dan botol pembersih tangan yang mengandung alkohol di dalam tas Anda, jika bepergian.
Jika kita bepergian jarak jauh dengan pesawat, kereta, atau bis, kenali dimana lokasi toilet berada. Dan sedikit trik mungkin akan membantu. Jika bisa, lakukan tugas toilet Anda sebelum jam makan. Latihlah tubuh dan perut Anda untuk siap beraksi pada jam jam tak biasa, dimana kebanyakan orang lain sedang tertidur atau tengah makan. Ini dapat membantu mengurangi waktu antrian karena orang biasanya akan bertugas ke toilet setelah waktu makan.
ada salah satu penerbangan panjang non-stop ke salah satu negara di Utara, saya belajar trik baru yaitu memesan makanan saji vegetarian saja. Bukannya saya senang sih, tapi biasanya makanan khusus begini akan diberikan kepada kita jauh lebih dahulu daripada makanan normal untuk para penumpang lainnya. Jadi pada saat orang baru menerima nampan makanannya, saya sudah selesai makan, siap beranjak ke kerajaan toilet itu, dan menjadi ratunya untuk waktu lama, dan nyaman buat saya. Meskipun sepanjang 20 jam perjalanan ini, saya mesti puas dengan makanan vegetarian saja hahaha.
3. Tanggung Jawab Sosial
Memimpikan toilet umum yang bersih di ruang public seperti di mall, restoran, pasar tradisional, stasion, bandara dan lainnya mungkin masih jauh panggang dari api. Utamanya hal ini disebabkan fasilitas yang tidak memadai atau rusak, kurangnya pemeliharaan, dan tanggung jawab kita sebagai pengguna.
Banyak dari toilet duduk di mall atau airport menjadi ajang kreatifitas dan ekspresi seni para penggunanya yang selain meninggalkan airseninya, juga meninggalkan seni tapak sepatu di dudukan toiletnya, toilet tissue yang bertebaran di mana mana, dan air yang bercipratan di sekelilingnya. Ini banyak ditemui di tempat publik di negeri kita, bahkan di kantor kantor pun terjadi juga.
Pengguna toilet di tempat umum banyak mengandalkan belas kasihan dari pengguna sebelumnya. Jika orang sebelumnya seniman jadi jadian yang meningggalkan berbagai ekspresi seni disana, sial-lah kita, mungkin terpaksa membersihkan sebelum digunakan kembali, atau membatalkan janji temu toiletnya.
Saya sendiri termasuk orang yang sering bernasib apes di toilet. Di beberapa toilet umum, saya terpaksa membersihkan bekas bekas perjuangan orang lain, karena saya harus menggunakannya. Awalnya saya sering menggerundel, lebih karena kekesalan dan tak habis pikir, kenapa seseorang, utamanya perempuan, sampai sebegitu tidak pedulinya, meninggalkan sisa perjuangan di toilet umum, tidak malukah? Tidak kasihankah pada pengguna berikutnya?
Suatu saat saya sedang berada di ruang bawah pusat belanja negara tetangga kita, ketika tiba tiba kebutuhan toilet datang. Tanpa melihat lihat lagi, saya duduk di salah satu toilet disana, untuk menunaikan tugas besar. Kebanyakan toilet di negara kota ini, mempunyai sensor gerakan yang sensitif, sehingga, jika kita bergerak sedikit saja ketika duduk di sana, secara otomatis, air akan mengguyur mangkok toilet, mengirim semua yang ada disitu ke dasar bumi. Itulah yang saya lakukan, bergerak gerak dan mendapat respon yang cukup bagus, air menyiram sendiri… tapi ketika saya cek dasar toilet, ya ampun macet! Ada segulungan besar kertas toilet yang menyumbat, sementara diatas kertas itu, hasil karya besar saya berenang dengan santainya. (maaf!)
Rupanya orang sebelum saya, melempar setumpukan kertas toilet ke dalam lubang toilet, dan masih bertengger disana. Air naik ke permukaan, saya harap harap cemas tidak ada banjir yang membawa hasil karya besar saya keluar dari toilet. Selama lebih dari 30 menit saya harus menyiram berkali kali dengan sia sia. Setiap kalinya saya mesti menunggu air surut, tapi kertas toilet dan hasil karya saya tetap disana.
Saya putus asa, dan tak berani meninggalkannya, khawatir orang lain yang menemukan pemandangan tak indah disana akan menyumpah serapah. Guru Meditasi saya bilang, hindari energi negative yang tidak perlu, yang bisa saja datang ke kita karena perbuatan kita kepada seseorang, baik disengaja atau tidak. Saya tak mau sumpah serapah orang akan memberikan saya energi negative yang tak perlu, jadi saya tunggui air pasang surut disana. Saya sempat hilang akal. Sampai akhirnya saya temui petugas kebersihan toilet yang baru saja kembali. Saya jelaskan masalahnya kepadanya, dan meminta maaf saya tak mampu menyelesaikan. Sambil membawa peralatan kebersihannya, dengan gagah perkasa, dia bilang, ‘Aaah, don’t worry. Chill out laaah, leave it to me ha…’ tangan nya mengelus lengan saya dengan penuh simpati, mungkin dia iba lihat keringat berkeleleran di dahi dan hidung saya turun perlahan… padahal ruang itu ber-AC.
Semoga itu kejadian sial terakhir yang saya alami dalam petualangan toilet saya. Insiden ini mengajarkan saya untuk lebih hati hati memilih toilet dan menggunakannya. Cek dan cek ulang, sebelum dan sesudah, akan menjamin berkurangnya rasa frustasi yang tak perlu. Dan jangan lupa, pada saat kita di ruang umum, kita punya tanggung jawab sosial. Bersihkan sendiri kotoran kita, dan jadilah pengguna toilet umum teladan. ***
Sunday, November 29, 2009
Wednesday, May 20, 2009
Balada Sang Be-Ha: Antara Butuh dan Ingin
Beberapa tahun lalu, ketika baru saja patah hati, saya mencoba menghibur diri dengan mengunjungi pusat belanja. Tidak seharusnya saya terkejut dengan harga harga disana mengingat mall ini adalah salah satu termewah di Jakarta. Tapi saya terkejut juga, bahkan merasa tercekik, sewaktu melihat harga sepotong kain kaus polos sebesar kepalan tangan berwarna biru cerah dan merah benderang.
Benda itu kelihatan seperti be-ha, penutup dada. Betul, penutup dada! Tapi kenapa yang kanan biru, dan yang kiri merah ya? Ah tolol kamu! Kata saya dalam hati. Ini mode tahu! Saya rasa, harga itu bukan untuk barangnya, tetapi untuk mereknya:Benetton. Padahal ini di buat di Indonesia juga. Coba kalau barang yang sama di jual di pasar Tanah Abang dengan nama Bentol, bukan Benetton. Sumpah, pasti di jual murah pun belum tentu laku. Itulah kekuatan sebuah nama…
Harganya di mall ini, lima ratus ribu rupiah! Ya ampun! Dengan harga gila itu saya bisa traktir lima puluh gelandangan makan nasi goreng gila, sepiring tiap orang nya. Pasti lebih heboh rasanya, dari pada memakai be-ha dimana tak seorangpun bisa melihat mereknya, kecuali kalau saya tidak waras dan berjalan jalan di tempat umum untuk memamerkannya.
Beruntung akal sehat saya masih menyala layaknya pake batterai baru Energizer. Coba kalau saya kesurupan barang itu, pasti sudah saya beli sang be-ha, cuma untuk memuaskan kebanggaan yang tak masuk akal. Sudah patah hati, bangkrut pula bah! Tapi percaya atau tidak, hingga kini, saya masih memimpikan dan mengingat benda kecil kurang ajar itu….
Berapa banyak dari kita mengalami kegilaan sesaat seperti ini? ‘Harus punya!’ ‘Pokoknya saya mau!’ ‘Saya butuh!’ ‘Saya pingin!’ ‘Harus! Harus!’. Hidup di dunia dan budaya tinggi materialistis memang tidak gampang. Apalagi di dukung oleh sarana, prasarana dan iklan yang heboh. Yang meninabobokan kita dengan kelembutan, kemanisan, kehebatan, kekuatan, kelezatan dan keindahan imaji, gambar dan suara. Hmm air liur mengalir tanpa terasa. Adrenalin menggebu gebu. Ingin. Butuh. Harus dapat! Desakan dan kegatalan untuk membeli dan memiliki…Haduh, walaupun isi kantong kita tipis, dan nominal yang kita punya adalah jumlah hutang kita, tapi itu tidak menghentikan kita…Ah masih ada teman, saudara, bank dan kartu kredit kok…boleh pinjem dooong.
Sebagai salah satu korban sukarela dari iklan, saya selalu merasa bahwa membeli, memelihara, dan mempamerkan sesuatu milik pribadi adalah salah satu terapi untuk rasa percaya diri saya. Contohnya handphone. Sebelumnya saya cuek saja menggunakan handphone butut yang hampir punah dari peradaban. Tetapi melihat iklan yang manjur itu, dan komentar sirik dan memalukan dari kawan kawan membuat saya enggan dengan handphone super jelek itu. Jadilah dia korban ‘habis manis sepah dibuang’. Dan saya membeli hp yang lebih kinclong. Dompet saya terluka, tapi tindakan ini memberikan rasa percaya diri saya kembali. Ah dangkal sekali kita kita ini, eh maksudnya sih saya gitu…Bener juga kata si penulis “Decoding Advertisement” Judith Williamson - “Shopping gives you a sense of choice and power which is often absent from the rest of your life”
Tapi boleh dong kalau saya salahkan iklan yang hebat hebat itu sebagai biang kerok dari kelemahan iman saya dan Anda juga terhadap gaya hidup konsumerisme tinggi..Mungkin para praktisi marketing tak setuju dengan pendapat saya bahwa kecerdikan marketing taktik mereka benar benar hebat untuk mengubah bangsa kita, kaya dan miskin menjadi mahluk zombie baru penderita wabah belanja, yang bahasa kerennya ‘shopaholic’. Dan mengubah masyarakat kita menjadi penganut aliran sesat: ‘beli biarpun tak butuh’. Salah kita juga sih, lemah iman lemah mental. Kita selalu ingin rumah yang lebih besar, hp yang yahud, laptop super canggih, mobil yang lebih kinclong, TV keluaran terbaru, baju baju butik yang trendy, dan barang barang yang bisa membuat kita sebagai pemiliknya mengalami ledakan emosi orgasmic bangga memiliki … ah tak ada habisnya.
Memang ya, aliran sesat ‘beli biarpun tak butuh’ sudah menjadi epidemi dunia. Apalagi dunia perempuan. Coba nih lihat angka tahunan belanja dunia untuk kosmetik, beberapa tahun lalu, 18 milyar dollar! Dasar perempuan! (eh saya juga ya..). Bandingkan dengan data dari WHO beberapa tahun lalu ini dimana perkiraan biaya total tahunan untuk imunisasi anak di seluruh dunia, penyediaan air minum dan pencapaian angka bebas buta huruf, berada di bawahnya, Cuma 16 milyar dollar. Haduh! Hayo sahabat perempuan, insyaf doong!
Tapi maaf ya, seperti saya bilang tadi, kan saya korban sukarela juga dari konsumerisme dan produk produk keren, jadi bukan berarti saya merasuk dan menyumpah serapahi konsumsi modern sebagai dangkal dan dekaden lho. Saya penikmat nya kok. Nikmaat! Jadi mungkin saya mesti berubah pikiran. Bukan hanya salah para marketer kaya raya itu untuk membuat kita menjadi tambah miskin, biang keroknya kita juga sih. Kita, keserakahan dan kedangkalan sendiri. Coba saking serakahnya ingin mencapai lebih dan lebih lagi untuk membayar gaya hidup tinggi, kita tidak peduli walaupun harus mencuri gaya sophisticated (korupsi), walaupun harus menumpuk hutang, walaupun harus lembur tiap malam… lupa ya? Ada keluarga nungguin di rumah lho! Ada diri sendiri yang mesti di manjain kesehatan dan batinnya lho!
Jadi harus gimana dong? Masak harus hidup bak pertapa, enggak lucu dong! Mungkin salah satunya, harus begini ya:
Hargailah milik kita. Sadarilah, berapa banyak investasi yang harus dan sudah kita lakukan untuk mendapatkan milik kita tersebut. Uangnya. Energinya. Mikirnya. Waktunya. Usahanya untuk bisa beli. Dengan menghargai dan menimbang seperti itu, Anda lebih menghargai diri sendiri dan benda benda milik Anda itu. Rasakan deh, biar gimana, kita masih jauh lebih beruntung dari sebagian besar penduduk bumi ini. Jangan suka takabur.
Pikir sebelum beli. Tanya diri sendiri dan jawab secara jujur. Apa sih alasan yang masuk akal dibalik niat menghabiskan uang dengan membeli. Teman? Ikut trend? Meningkatkan percaya diri? Atau benar benar butuh? Bisakah Anda hidup tanpa benda tersebut? Jangan hanya karena banyak teman Anda menggunakannya, atau bintang iklan bilang Anda membutuhkannya, Anda lantas berpikiran sama. Jangan gampang tergoda. Kan Anda sang Master dari diri Anda sendiri. Bukan orang lain. Dan Anda tidak perlu membuktikan apapun kepada orang di sekitar Anda kecuali dengan karya dan kebaikan. Kalau Anda pikir Anda butuh memanjakan diri, baiklah, belilah sesuka Anda. Tapi ikuti saran ke 3.
Beli, tapi dengan bijaksana. Tantang diri Anda untuk menghabiskan uang dengan cara hebat tanpa menyesal. Caranya habiskanlah dengan sadar. Beli lah barang yang sesuai dengan kebutuhan Anda, aman, dan tidak merusak diri, keluarga dan lingkungan. Kalau Anda bosan dengan banyak uang di tangan Anda, kenapa tidak berbagi dengan yang membutuhkannya? Misalnya, dengan saya.
Jika nafsu berbelanja Anda benar benar parah, ya, sudahlah Anda memang pemboros. Saatnya untuk menghukum Anda dengan mengikuti bootcamp atau ulang lagi ketiga proses yang sama, hargai yang Anda punya, pikir sebelum membeli, dan belilah dengan bijaksana.
Yang terakhir, pikirlah ini: seberapa kayapun kita, seberapa hebatpun kita, yang kita perlukan setiap kalinya hanya satu! Kita tak bisa berada di dua mobil pada saat yang sama. Kita Cuma butuh sepasang sepatu untuk berjalan, kita Cuma makan dari satu mulut! Jadi buat apa semua kemewahan itu?
Untuk saya sendiri, baiklah saya berjanji akan melupakan beha yang sempat membuat makan tak enak tidur tak nyenyak, dan bertanya tanya, apakah saya butuh? Atau saya Ingin? Saya mencoba kembali ke jalan yang benar, dan turuti kata pepatah: Live simply so other can simply live…
(sudah kelar baca artikel ini? Hayo! Waktunya belanjaaa hahaha!)
Artikel dimuat di http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/364/balada_sang_be-ha_antara_butuh_dan_ingin
Benda itu kelihatan seperti be-ha, penutup dada. Betul, penutup dada! Tapi kenapa yang kanan biru, dan yang kiri merah ya? Ah tolol kamu! Kata saya dalam hati. Ini mode tahu! Saya rasa, harga itu bukan untuk barangnya, tetapi untuk mereknya:Benetton. Padahal ini di buat di Indonesia juga. Coba kalau barang yang sama di jual di pasar Tanah Abang dengan nama Bentol, bukan Benetton. Sumpah, pasti di jual murah pun belum tentu laku. Itulah kekuatan sebuah nama…
Harganya di mall ini, lima ratus ribu rupiah! Ya ampun! Dengan harga gila itu saya bisa traktir lima puluh gelandangan makan nasi goreng gila, sepiring tiap orang nya. Pasti lebih heboh rasanya, dari pada memakai be-ha dimana tak seorangpun bisa melihat mereknya, kecuali kalau saya tidak waras dan berjalan jalan di tempat umum untuk memamerkannya.
Beruntung akal sehat saya masih menyala layaknya pake batterai baru Energizer. Coba kalau saya kesurupan barang itu, pasti sudah saya beli sang be-ha, cuma untuk memuaskan kebanggaan yang tak masuk akal. Sudah patah hati, bangkrut pula bah! Tapi percaya atau tidak, hingga kini, saya masih memimpikan dan mengingat benda kecil kurang ajar itu….
Berapa banyak dari kita mengalami kegilaan sesaat seperti ini? ‘Harus punya!’ ‘Pokoknya saya mau!’ ‘Saya butuh!’ ‘Saya pingin!’ ‘Harus! Harus!’. Hidup di dunia dan budaya tinggi materialistis memang tidak gampang. Apalagi di dukung oleh sarana, prasarana dan iklan yang heboh. Yang meninabobokan kita dengan kelembutan, kemanisan, kehebatan, kekuatan, kelezatan dan keindahan imaji, gambar dan suara. Hmm air liur mengalir tanpa terasa. Adrenalin menggebu gebu. Ingin. Butuh. Harus dapat! Desakan dan kegatalan untuk membeli dan memiliki…Haduh, walaupun isi kantong kita tipis, dan nominal yang kita punya adalah jumlah hutang kita, tapi itu tidak menghentikan kita…Ah masih ada teman, saudara, bank dan kartu kredit kok…boleh pinjem dooong.
Sebagai salah satu korban sukarela dari iklan, saya selalu merasa bahwa membeli, memelihara, dan mempamerkan sesuatu milik pribadi adalah salah satu terapi untuk rasa percaya diri saya. Contohnya handphone. Sebelumnya saya cuek saja menggunakan handphone butut yang hampir punah dari peradaban. Tetapi melihat iklan yang manjur itu, dan komentar sirik dan memalukan dari kawan kawan membuat saya enggan dengan handphone super jelek itu. Jadilah dia korban ‘habis manis sepah dibuang’. Dan saya membeli hp yang lebih kinclong. Dompet saya terluka, tapi tindakan ini memberikan rasa percaya diri saya kembali. Ah dangkal sekali kita kita ini, eh maksudnya sih saya gitu…Bener juga kata si penulis “Decoding Advertisement” Judith Williamson - “Shopping gives you a sense of choice and power which is often absent from the rest of your life”
Tapi boleh dong kalau saya salahkan iklan yang hebat hebat itu sebagai biang kerok dari kelemahan iman saya dan Anda juga terhadap gaya hidup konsumerisme tinggi..Mungkin para praktisi marketing tak setuju dengan pendapat saya bahwa kecerdikan marketing taktik mereka benar benar hebat untuk mengubah bangsa kita, kaya dan miskin menjadi mahluk zombie baru penderita wabah belanja, yang bahasa kerennya ‘shopaholic’. Dan mengubah masyarakat kita menjadi penganut aliran sesat: ‘beli biarpun tak butuh’. Salah kita juga sih, lemah iman lemah mental. Kita selalu ingin rumah yang lebih besar, hp yang yahud, laptop super canggih, mobil yang lebih kinclong, TV keluaran terbaru, baju baju butik yang trendy, dan barang barang yang bisa membuat kita sebagai pemiliknya mengalami ledakan emosi orgasmic bangga memiliki … ah tak ada habisnya.
Memang ya, aliran sesat ‘beli biarpun tak butuh’ sudah menjadi epidemi dunia. Apalagi dunia perempuan. Coba nih lihat angka tahunan belanja dunia untuk kosmetik, beberapa tahun lalu, 18 milyar dollar! Dasar perempuan! (eh saya juga ya..). Bandingkan dengan data dari WHO beberapa tahun lalu ini dimana perkiraan biaya total tahunan untuk imunisasi anak di seluruh dunia, penyediaan air minum dan pencapaian angka bebas buta huruf, berada di bawahnya, Cuma 16 milyar dollar. Haduh! Hayo sahabat perempuan, insyaf doong!
Tapi maaf ya, seperti saya bilang tadi, kan saya korban sukarela juga dari konsumerisme dan produk produk keren, jadi bukan berarti saya merasuk dan menyumpah serapahi konsumsi modern sebagai dangkal dan dekaden lho. Saya penikmat nya kok. Nikmaat! Jadi mungkin saya mesti berubah pikiran. Bukan hanya salah para marketer kaya raya itu untuk membuat kita menjadi tambah miskin, biang keroknya kita juga sih. Kita, keserakahan dan kedangkalan sendiri. Coba saking serakahnya ingin mencapai lebih dan lebih lagi untuk membayar gaya hidup tinggi, kita tidak peduli walaupun harus mencuri gaya sophisticated (korupsi), walaupun harus menumpuk hutang, walaupun harus lembur tiap malam… lupa ya? Ada keluarga nungguin di rumah lho! Ada diri sendiri yang mesti di manjain kesehatan dan batinnya lho!
Jadi harus gimana dong? Masak harus hidup bak pertapa, enggak lucu dong! Mungkin salah satunya, harus begini ya:
Hargailah milik kita. Sadarilah, berapa banyak investasi yang harus dan sudah kita lakukan untuk mendapatkan milik kita tersebut. Uangnya. Energinya. Mikirnya. Waktunya. Usahanya untuk bisa beli. Dengan menghargai dan menimbang seperti itu, Anda lebih menghargai diri sendiri dan benda benda milik Anda itu. Rasakan deh, biar gimana, kita masih jauh lebih beruntung dari sebagian besar penduduk bumi ini. Jangan suka takabur.
Pikir sebelum beli. Tanya diri sendiri dan jawab secara jujur. Apa sih alasan yang masuk akal dibalik niat menghabiskan uang dengan membeli. Teman? Ikut trend? Meningkatkan percaya diri? Atau benar benar butuh? Bisakah Anda hidup tanpa benda tersebut? Jangan hanya karena banyak teman Anda menggunakannya, atau bintang iklan bilang Anda membutuhkannya, Anda lantas berpikiran sama. Jangan gampang tergoda. Kan Anda sang Master dari diri Anda sendiri. Bukan orang lain. Dan Anda tidak perlu membuktikan apapun kepada orang di sekitar Anda kecuali dengan karya dan kebaikan. Kalau Anda pikir Anda butuh memanjakan diri, baiklah, belilah sesuka Anda. Tapi ikuti saran ke 3.
Beli, tapi dengan bijaksana. Tantang diri Anda untuk menghabiskan uang dengan cara hebat tanpa menyesal. Caranya habiskanlah dengan sadar. Beli lah barang yang sesuai dengan kebutuhan Anda, aman, dan tidak merusak diri, keluarga dan lingkungan. Kalau Anda bosan dengan banyak uang di tangan Anda, kenapa tidak berbagi dengan yang membutuhkannya? Misalnya, dengan saya.
Jika nafsu berbelanja Anda benar benar parah, ya, sudahlah Anda memang pemboros. Saatnya untuk menghukum Anda dengan mengikuti bootcamp atau ulang lagi ketiga proses yang sama, hargai yang Anda punya, pikir sebelum membeli, dan belilah dengan bijaksana.
Yang terakhir, pikirlah ini: seberapa kayapun kita, seberapa hebatpun kita, yang kita perlukan setiap kalinya hanya satu! Kita tak bisa berada di dua mobil pada saat yang sama. Kita Cuma butuh sepasang sepatu untuk berjalan, kita Cuma makan dari satu mulut! Jadi buat apa semua kemewahan itu?
Untuk saya sendiri, baiklah saya berjanji akan melupakan beha yang sempat membuat makan tak enak tidur tak nyenyak, dan bertanya tanya, apakah saya butuh? Atau saya Ingin? Saya mencoba kembali ke jalan yang benar, dan turuti kata pepatah: Live simply so other can simply live…
(sudah kelar baca artikel ini? Hayo! Waktunya belanjaaa hahaha!)
Artikel dimuat di http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/364/balada_sang_be-ha_antara_butuh_dan_ingin
Friday, April 21, 2006
Self-Absorbed
We - Indonesian - are very much creature of ceremony. And believe me we could drag on this for hours without realizing it. Things I hate. But I faced it last month. It was for my Ray's exercise contest. There were a flock of around 800 kids waiting for their turn to go to the stage for contest. But these adults, the program committe had let the kids waiting for almost 2 hours in the heat of the sunshine, so some of them could take turn to give a very long speeches. The bla-bla speeches no one really really cared about. They called this 'kids program' and they were busy listening to their own voice on the sound system, while letting the kids grilled in the sun!
This is not the only event where speeches feel like a nightmare for the audience.
Last week I attended what so called the heart aerobic exercise at 6.30 am. I came in a hurry as I did not want to miss it. There, I had to wait for almost two hours, and the speeches was still on and on and on....the speaker was so self-absorbed, my impatient grew taller. I decided to go home ... I lost my morning time to such a waste!
Please appreciate people's time: learn how to organize event properly...
This is not the only event where speeches feel like a nightmare for the audience.
Last week I attended what so called the heart aerobic exercise at 6.30 am. I came in a hurry as I did not want to miss it. There, I had to wait for almost two hours, and the speeches was still on and on and on....the speaker was so self-absorbed, my impatient grew taller. I decided to go home ... I lost my morning time to such a waste!
Please appreciate people's time: learn how to organize event properly...
Subscribe to:
Posts (Atom)